Sabtu, 15 Desember 2012

Saya dan Gunung-Gunung

Dulu sekali, setiap kali melihat gunung, setiap kali itu juga saya mendengar dia menantang untuk ditaklukkan. Semakin tinggi semakin hebat, semakin susah semakin heroik. Menantang diri sendiri jadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Berdiri di puncak serasa berhasil menaklukkan dunia.

Seiring bertambahnya usia, obsesi terhadap ketinggian itu semakin memudar. Cerita-cerita petualangan menjadi seperti dongeng pahlawan kesiangan. Berhadapan dengan dunia di luar sekolah dan kampus membuat saya sadar, masyarakat itu jauh lebih menakutkan daripada hutan belantara.

Di hutan kita bisa bebas jadi yang kita mau. Di masyarakat ada ribuan mata yang mengekang untuk menjadi yang kita mau.
Di hutan tak perlu ada kepura-puraan. Di masyarakat, selamanya kita hidup dalam basa-basi busuk yang katanya norma susila.
Di hutan ada binatang buas. Di masyarakat malah ada kanibal. Siap memangsa saudara sendiri demi kepentingan pribadi.

Rasa takut yang tak ada habisnya itu membuat saya terkadang merindukan gunung-gunung sunyi itu. Meskipun sekarang gunung tak sesunyi dahulu. Terkadang saya heran, untuk apa mereka memindahkan Mall ke gunung (baca: Pendakian Massal) ??? Ujung-ujungnya gunung hanya jadi tempat sampah.

Saya rindu sekali pagi yang syahdu di sunyinya gunung-gunung Jawa. 
Saya rindu kepolosan, kehidupan yang apa adanya.

Maka, kesempatan ini tidak mungkin saya lewatkan lagi. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya janji masa lalu itu akan segera terpenuhi. Kali ini saya niatkan bukan lagi untuk berada di titik tertinggi. Tapi berada di titik peleburan. Melebur dengan alam, melebur dengan kesederhanaan. Beristirahat dari riuhnya dunia. Menikmati bumi Indonesia, meski bukan lagi di tanah Jawa.
Kawan, bawa saya kesana!

Selasa, 31 Juli 2012

SPAM

Ada masa-masa kita tidak harus kuat
Lalu kenapa harus dipaksakan untuk menjadi kuat?
Ada masa-masa kita menangis
Lalu kenapa harus memaksakan diri tersenyum?
Seribu topeng kita pasang untuk menutupinya
Tidak akan pernah membuat perasaan yang sebenarnya dirasakan hilang.

And now, here I am having all the fucking bad thought.
Stop trying to make me up.

Selasa, 17 Juli 2012

BIANGLALA


Ada kalanya saya lelah menghadapi hidup, mengukur jarak antara harapan dan kenyataan
Merasa berlari, padahal ini semacam treatmill, tetap pada satu tempat
Terkadang saya merasa hidup ini adalah sebuah perjalanan
Tapi lama-lama saya merasa hidup ini adalah semacam bianglala
Terkadang di atas, terkadang di bawah
Pemandangan sekitar berubah bukan karena dia memang berubah,
tapi karena kita memandang dari sudut pandang yang berbeda

Seperti bianglala,
yang  hanya akan menarik jika berputar
Maka kita pun berputar-putar
Dari atas ke bawah, dari bawah ke atas
Karena memang itulah inti dari bianglala
Selalu bergerak

Seperti bianglala,
Menaikinya menimbulkan banyak rasa
Penasaran, berdebar, takut, takjub, puas ketika di atas, kecewa ketika di bawah
Maka apa yang indah dalam bianglala jika tanpa ada semua rasa itu?

Seperti bianglala,
yang harus berhenti ketika waktunya usai
Dan kita sendiri yang menentukan
Turun dengan rasa puas dan bahagia
Atau justru dengan penyesalan
karena terlalu takut dan menutup mata ketika di atas
dan tidak mendapatkan pengalaman apa-apa setelah di bawah.



Jumat, 29 Juni 2012

memiliki VS kehilangan

Orang bijak berkata bahwa:
"Kita hanya akan merasa kehilangan jika kita merasa memilikinya"
Apakah itu artinya kita tidak perlu merasa memiliki agar nantinya tidak merasa kehilangan?
Tapi bukankah rasa memiliki adalah awal dari kepedulian?
Dengan memiliki kita memperhatikan, merawat, menyayangi, membesarkan
Tanpa rasa memiliki dapatkah kita mempedulikan?

Lalu datang lagi kata 'ketulusan'
Apakah itu berarti melayani tanpa merasa memiliki?
Adakah manusia yang sanggup melakukan itu?
Sedangkan kami sudah diciptakan sebagai homo economicus
Selalu mengharap balasan dari yang telah dikorbankan

Sebagai homo economicus aku menuntut atas semua pengorbananku
Sebagai seseorang yang beriman aku sadar belum pantas merasa memiliki
Sebagai manusia biasa, aku mencintai dengan manusiawi

Maafkan aku yang manusia biasa
Maklumi tuntutan sisi ekonomiku
dan hormati keimananku
Cukup itu saja yang aku butuhkan saat ini
Masalah akan memiliki atau kehilanganmu
Well, just wait and see...

Minggu, 10 Juni 2012

Surat Rahasia Asteres Planetai )*

Material-material asing datang dan pergi dari permukaanku. Ada yang berlalu begitu saja, ada yang meninggalkan jejak yang membuatku tidak pernah lagi menjadi planet yang sama. Aku menerima mereka datang dan pergi. Tapi untukmu, khusus untukmu, aku tahu aku tidak pantas berkata ini, tapi untukmu, aku tidak akan pernah merelakan kamu pergi.

Sudah terlalu lama kita menunggu hingga perputaran orbit ini kembali mempertemukan kita. Jika harus tercerai lagi, kita tidak akan pernah tahu apakah orbit dari masing-masing kita akan bertemu lagi, atau justru semakin saling menjauh dan tidak akan sempat berpotongan lagi. Jika aku tidak lagi berputar, aku rela harus stuck pada satu titik, jika titik itu adalah titik perpotongan orbit kita berdua.

Gravitasi kita saling mengait, jangan elakkan itu. Meski tak selamanya kita sejalan dalam pemikiran, tapi bukankah kita punya satu misi yang sama? Menciptakan satu orbit baru untuk kita berdua berputar bersama? Merengganglah jika kamu lelah, tapi mohon jangan pernah memisahkan diri dari orbit baru ciptaan kita ini. Bukankah kita punya mimpi besar untuk menjadi dua planet pertama yang berputar dalam orbit yang sama?

Memang percepatan gravitasiku terlalu labil hingga terkadang kamu mengira aku menjauh seakan tidak butuh, maafkan, karena percepatan itu adalah sistem bawaan yang sangat sulit untuk kukendalikan. Aku butuh kamu. Bukan sekedar satelit lagi, tapi kamu. Satu planet berwarna putih yang tenang dan sangat stabil. Mari kita lanjutkan membangun orbit baru dan buat  mereka tercengang dengan apa yang bisa dilakukan dua planet yang saling jatuh cinta.

From : Asteres Planetai X
To     : Asteres Planetai Y
Sent  : 6:57 am, June, 11 2012



*) Asteres Planetai (Yunani) adalah asal kata "Planet" yang berarti Bintang Pengelana. 
Dinamakan demikian karena berbeda dengan bintang biasa, dari waktu ke waktu planet terlihat berkelana dari satu rasi bintang ke rasi bintang yang lain.

Kamis, 31 Mei 2012

Angka

Angka. Mari kita bicara tentang angka. Angka sering diartikan sebagai data konkret mengenai suatu hal. Terkadang orang dikatakan punya dasar argumen yang kuat ketika dia menyebutkan angka dari referensi tertentu.

Kelulusan siswa SMA dan sederajat tahun ini adalah 99,8%. Fantastis. Lagi-lagi angka mencoba mengelabui kita. Apakah arti 99,8%? Itu artinya hanya 0,02% peserta didik tidak lulus ujian. Itu artinya pendidikan kita sukses besar. Itu artinya masa depan cerah menanti mereka yang lulus. Itu kata si angka.

Tapi bisa juga kita intrepretasikan berbeda. 99,8%. Adalah persentase kebohongan sistem pendidikan kita kepada publik. Jumlah yang didesain untuk menyenangkan penguasa. Akumulasi efek dari hasil penghapusan berbagai materi penting dari kurikulum supaya tingkat kesulitan soal ujian berkurang. Angka hasil kong kalikong dengan nilai UAS, simpati, dan rasa belas kasihan.

Aih, aih. Angka memang luar biasa. Jalinan aksara penuh makna. Angka, terkadang, menurut saya, mengelabui banyak mata karena terlalu menyederhanakan berbagai cerita. Menyingkat makna, menyembunyikan nilai. Tapi jika mau melihat lebih dari sekedar jumlah, kita bisa menemukan banyak cerita di dalamnya.

Selamat bermain angka J

Selasa, 29 Mei 2012

Topengku



Saya melihat seseorang yang asing ketika memandang di dalam cermin
Ada wajah yang begitu saya kenal sekaligus begitu asing
...
Selengkapnya klik disini

Kamis, 24 Mei 2012

Welcome my F***ing Day

Dalam kemandulan karya ini sebenarnya saya ingin menuliskan banyak hal. Tentang kacaunya kehidupan saya akhir-akhir ini. Profesionalisme yang dipertanyakan, ketertarikan pada ilmu baru yang mulai memudar, orang-orang baru yang muncul dengan segala hal yang menyertai mereka, dan ribuan keluhan dari saya yang sedang pengecut dan malas menghadapi dunia.
Ribuan hal yang tidak menyenangkan tadi telah ada di ujung jari untuk dirangkai satu-satu menjadi kata-kata yang membosankan dan memuakkan siapa pun yang akan membacanya. Tapi ternyata, jari-jari itu berkhianat. Dia mengetik. Begitu cepatnya, hingga saya tidak bisa mengendalikan apa yang ditulisnya. Dan ternyata yang ditulisnya bukan tentang performa mengajarnya yang kacau, bukan tentang jumlah absen di lembar presensi kuliahnya yang semakin mendekati batas toleransi, bukan tentang rasa muaknya terhadap diri sendiri.
Jari-jari itu mengetik, tentang seseorang yang tiap malam datang untuk belajar bersama. Yang datang untuk makan malam, lalu membuka buku dan menautkan alis, mengusap dagu, memikirkan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada. Tentang seseorang yang diam-diam dikagumi sejak pertama kali bertemu dan sekarang, secara mengherankan, begitu dekat dan nyata untuk disentuh. Seseorang yang penuh segala hal yang baik, seperti semua tokoh protagonis dalam novel dan drama.
Saya mencoba mengendalikan diri untuk tidak melulu memikirkan dia. Mencoba menempatkannya pada proporsi yang normal. Tapi rasa itu terus saja melesak memenuhi otak dan perasaan. Melelahkan memang, tapi hanya itu saja hal yang saya suka dari kehidupan saya akhir-akhir ini. Ketika saya sudah menjadi semacam mesin penghasil uang untuk orang lain dan bekerja seperti robot. Ketika idealisme tentang pendidikan tergerus kebutuhan. Ketika saya merasa menjadi pecundang yang menjijikkan. Setidaknya masih ada satu hal yang menyenangkan. Di setiap malam saya punya dia untuk berbagi, setidaknya begitu kalau tidak ingin dikatakan membuang semua sampah di otak dan hati saya. Tertawa, menertawakan hal yang terlalu sedih untuk ditangisi. Berfilsafat, berteori, berargumen. Seolah kehidupan yang saya inginkan hanya ada di malam hari setelah dia datang dan menunggu di depan gerbang.
Di awal pagi ini pun, saya mulai merindukan malam sejak pertama kali membuka mata. Saya tidak tahu bahwa saya akan mencintai malam hingga separah ini. Malam akan membawa dia datang. Malam akan membawa dunia yang saya inginkan dan melupakan siang yang penuh keluh kesah menyebalkan. Saya berjanji akan bertahan menghadapi siang hari ini agar bisa bertemu malam. Saya berjanji akan menahan bosannya duduk  di bangku kuliah, muaknya mengajar tanpa persiapan, apapun yang akan saya hadapi di dalam siang, setidakmenyenangkan apapun itu. Karena saya butuh malam, dan untuk mendatangkannya tentu saja harus melewati siang.
Well, selamat datang siang. Mari kita lihat masalah apalagi yang akan kamu lemparkan kepada saya kali ini.

Semarang, 9 Mei 2012 
6.41 WIB

Yeaahh.... Pendekar Bercula Satu!!! Hehhehehehe.... ^_^'

Minggu, 22 April 2012

Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh


Andakah ksatria?
Yang sempurna dan punya fokus yang hebat untuk mendapatkan 
putri yang ada jauh di awang-awang?
Andakah putri?
Dengan segala nilai dan norma yang memenjarakannya 
dari kebebasan karakter?
Atau andakah si bintang jatuh?
Yang dengan seenaknya melintas, menerobos orbit orbit beraturan, 
menjadi chaos dari setiap order?
Awalnya anda terlihat seperti seperti ksatria dengan kuda perangnya, 
lalu menjelma menjadi putri dengan kehidupan yang membosankan, 
dan tiba-tiba berubah menjadi bintang jatuh yang penuh kejutan.
Lalu katakan, siapakah anda sebenarnya?
Ksatria, Putri, ataukah Bintang Jatuh?
Atau jangan-jangan anda adalah ketiganya.
Sebuah rectoverso yang indah 
dengan segala keteraturan dan ketidakterdugaan di dalamnya.
Andalah order.
Andalah chaos.
Anda adalah supernova dalam perspektif saya yang sederhana. 

Senin, 09 April 2012

teman?
temankah anda?
atau berpura-pura menjadi teman agar bisa menusuk saya dengan mudah?
teman,
temankah kalian?
atau kalian menyimpan sesuatu yang busuk sebagai pondasi pertemanan kita?
teman atau pura-pura menjadi teman, saya akan tetap coba berpikir dalam perspektif seorang teman
semoga kita bisa berteman seperti layaknya seorang teman
selamat berteman
:)

Kamis, 23 Februari 2012

tembok beton banjir kanal


Secara tidak sengaja aku menemukan tempat ini. Tempat yang tercipta karena adanya proyek baru Pemkot Semarang. Beberapa kali aku melewati tempat ini, menyimpan rasa penasaran untuk bisa duduk di tembok betonnya yang tinggi dan menghadap Kali Garang. Dan akhirnya disinilah aku sekarang, tembok beton Banjir Kanal, ujung Pasar Maling Kokrosono di dekat pertigaan Gereja dengan salib biru besar di bagian atapnya.

Sendirian, aku duduk di atas tembok beton menghadap aliran Kali Garang yang tenang. Sore ini cukup ramai. Beberapa orang asik memancing di pinggir kali. Sekelompok pemuda bermain bola jauh di sisi kananku, ada sepasang sejoli dan seorang bapak dengan dua anaknya di sisi kiriku.

Matahari berwarna keemasan, tampaknya sudah agak mengantuk, bersembunyi di balik awan. Di bawah kakiku yang menggantung ada susunan paving yang rapi. Semakin dekat dengan sungai rumput liar yang tumbuh di sela-sela paving semakin tinggi. Dari kejauhan memang mirip lapangan yang sempit memanjang.

Dari sisi kanan yang riuh dengan pemuda-pemuda yang asik bermain bola aku memalingkan pandangan ke sisi kiri yang lebih tenang. Dua sejoli bercengkerama, anak-anak kecil berlari-lari kecil diawasi Bapaknya. Jauh sebagai latar belakangnya adalah siluet Gunung Ungaran yang berupa bayangan abu-abu. Puncaknya terlihat jelas, namun separuh lereng ke bawah tertutup kabut tebal. Mirip gunung yang melayang di langit. Entah sudah berapa lama aku tidak kesana dan sepertinya memang harus menyempatkan diri kesana. Ingin sekali merasakan lagi asamnya begonia dan stroberi hutan. Ingin sekali merasakan lagi kedinginan.

Baru saja ada pesawat lewat tepat di atasku. Pesawat itu terbang cukup rendah hingga aku bisa melihat bagian bawah rangkanya dengan jelas. Melihat pesawat itu, melihat langit di baliknya, kusadari  hari makin menggelap. Matahari sekarang sembunyi di pucuk-pucuk pohon nun jauh di seberang tanggul banjir kanal. Warna keemasan yang menjadi latar belakang pepohonan yang hijau gelap terkesan misterius. Air kali yang tenang memantulkan warna langit yang suram. Hari ini, langit tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Para pemuda itu tampaknya sudah cukup lelah bermain-main. Mereka menepi ke tembok beton dan bercengkrama sambil istirahat melepas lelah. Sedangkan bapak dengan kedua anaknya sudah dari tadi pulang, waktunya mandi sore.

Semakin sepi ketika gerombolan pemuda itu memutuskan untuk pulang. Satu per satu suara sepeda motor mereka menjauh. Para pemancing mulai berdiri dan membenahi alat-alat pancingnya. Air kali masih tenang seperti tidak menolak ditinggalkan.

Masih ada sepasang sejoli yang menikmati terbenamnya matahari. Dan juga aku yang sendiri menulis di lembar-lembar kertas kecil yang kusut. Pesawat lewat lagi. Kali ini terbang melenceng ke arah Tenggara. Kali ini dua sejoli berdiri. Memutuskan untuk pergi. Aku sendiri. Menemani aliran Kali Garang yang tenang. Tetap tenang meski ditinggalkan. Aku iri diam-diam. Kali Garang tetap mengalir dengan tenang. Meski riuh, meski sepi, meski sunyi, bukannya gelisah mencari-cari masalah. Aliran Kali Garang yang kupandang dari tembok beton banjir kanal ini seolah menertawakan ketakutanku pada kesepian, seakan mengejek dalam diamnya.

 “Pengecut, jadilah seperti aku, tetap tenang, tetap mengalir. Meski riuh, meski sunyi.”

Lonceng Gereja berbunyi enam kali, jeda, enam kali lagi, jeda lagi, enam kali lagi. Hari semakin menggelap. Kali ini aku yang harus pergi. Kutatap alirannya yang masih tenang. Berpamitan. Dia melengos tak peduli. “Dengan atau tanpa kamu aku masih akan mengalir”, katanya acuh. Aku tersindir.

Aku berdiri. Dia tidak melihatku lagi. Sampai aku turun ke balik tembok dan pergi, aku tak mendengar suaranya memanggilku untuk kembali.

18.02
Semarang, 23 Februari 2012


patah hati





Jika dia memang buta, aku sudah tidak ingin lagi membantunya meraba

Jika dia memang tuli, aku sudah tidak mau lagi membisikkan kata-kata

Akan aku biarkan dia tersesat dalam kegelapan

Karena dia sudah meniadakanku
Maka aku akan meniadakan dia.

rindu



Mengingatmu malam ini,
Seperti bayang-bayang pepohonan yang semakin memudar karena matahari mulai tertutup mendung.
Seperti awan yang bisa dilihat namun tak bisa disentuh.
Seperti menengadah di bawah bulan purnama yang jelas ada tanpa bisa diraih.
Seperti bintang yang terkadang terang terkadang redup.
Seperti kopi yang hanya bisa dihirup aromanya tanpa boleh disesap meski sedikit.
Seperti cokelat yang menyimpan rasa pahit.
Seperti minum susu di tengah malam sebagai pengantar tidur.
Seperti selimut yang nyaman.
Seperti malam yang tak pernah mengeluh meski selalu kelam.
Seperti pagi yang menyudahi mimpi.
Mengingatmu malam ini,
Seperti aku yang sedang merindu.
150212
23:11

Sabtu, 04 Februari 2012

anak-anak SD itu...



Bulan ini saya awali dengan pekerjaan baru saya menjadi tentor. Minggu pertama bulan ini saya mendapat kesempatan untuk mengajar privat anak-anak SD disamping mengajar di kelas. Dari dulu mengajar privat anak SD bukanlah hal yang menyulitkan bagi saya karena pada dasarnya saya menyukai anak-anak. Saya suka dengan polosnya ekspresi mereka, candaan mereka, bagaimana mereka berusaha mengingat-ingat pelajaran dan mengerjakan soal-soal. Belajar dengan anak-anak sangat menyenangkan bagi saya.
Hal lain yang membuat saya antusias mengajar mereka adalah saya harus kembali membuka buku-buku SD, belajar lagi apa itu pesawat sederhana, apa itu organisasi, jenisnya, manfaatnya, bagaimana sifat cahaya, dan materi-materi lain yang entah kenapa ketika saya baca lagi saya menemukan banyak sekali pelajaran baru di dalamnya lebih dari yang dulu saya dapatkan ketika di SD.
Bahwa pisau yang sering saya gunakan untuk mengupas buah itu adalah memakai prinsip pesawat sederhana berupa bidang miring untuk membuat baji, baru saya ingat lagi ketika belajar bersama adik-adik ini. Bahwa arisan ibu-ibu termasuk dalam organisasi informal juga baru berhasil saya ingat ketika belajar Pkn kelas 5 SD. Bahkan diantara materi-materi ini selalu ada hal yang menuntut untuk saya renungkan. Seperti bahwa benda dibagi menjadi dua, benda yang memancarkan cahaya dan benda yang memantulkan cahaya. Dalam sebuah buku paket penunjang saya buka-buka sebelum mengajar dikatakan bahwa apabila kita melihat benda berwarna biru, sejatinya adalah benda itu hanya bisa memantulkan cahaya yang berwarna biru.
Statement tersebut membuat saya berpikir lebih jauh. Apabila benda yang tidak memancarkan cahaya sendiri itu adalah memang hanya memantulkan, lalu apakah sejatinya pembentuk warna itu? Benda tertentu hanya mampu memantulkan warna tertentu, bukankah itu artinya bahwa sejatinya benda-benda tersebut adalah tidak berwarna, melainkan cahayalah yang menyebabkan mereka terlihat berwarna. Bukankah itu berarti selama ini kita telah tertipu dengan segala macam benda di dunia ini? Bahwa mawar berwarna merah dan melati berwarna putih, saya jadi curiga, jangan-jangan sebenarnya mereka tidak pernah punya warna melainkan hanya mampu memantulkan warna merah dan putih? Aih, aih,, saya menjadi bingung sendiri.
Apabila logika asal-asalan saya yang diambil dari buku yang belum jelas kualitasnya ini benar, berarti sebenarnya dunia ini tidak punya warna, melainkan hanya punya benda-benda yang bisa memantulkan cahaya menjadi warna-warna tertentu. Dunia ini tidak berwarna. Cahayalah yang telah menipu mata kita. Cahayalah yang menciptakan warna-warna itu. Kita benar-benar hidup dalam kesemuan.
Sampai saat ini saya masih mencari orang yang bisa menjelaskan teori cahaya itu kepada saya. Yang bisa meyakinkan saya bahwa logika berpikir saya itu salah kaprah. Karena terus terang, saya tidak nyaman memikirkan bahwa dunia ini sama sekali tidak memiliki warna.
Oke, kita tutup masalah warna dan cahaya. Kembali ke anak-anak tadi, saya selalu mencintai keunikan karakter mereka. Saya mencintai orisinalitas bakat yang mereka miliki. Salah satu siswa privat saya adalah seorang atlit karate. Orang tuanya mendaftarkan les privat karena takut anaknya ketinggalan pelajaran disebabkan latihan-latihan yang harus dijalaninya menjelang pertandingan. Dengan masih menggunakan celana karate dan kaus putih dia belajar karena besoknya ada ulangan harian. Saya salut sekali. Saya ingat dengan jelas setiap detail yang dia lakukan ketika belajar. Ketika dia melihat langit-langit berusaha mengingat-ingat unsur organisasi. Bagaimana dia melepas lelah dengan berguling-guling di lantai, mengingat-ingat materi sambil menahan kantuk. Tingkah usilnya saat tidak bisa menjawab pertanyaan saya, saya masih ingat semuanya. Dan saya selalu berdoa semangat belajarnya itu tetap terjaga hingga dewasa kelak.
Sore ini saya belajar bahasa Inggris dengan seorang anak yang juga sangat unik. Sebelumnya saya tidak menyangka bahwa anak tersebut adalah dalang cilik. Di sela-sela belajar dia selalu bercerita tentang wayang. Dari dalang cilik ini saya tahu bahwa karakter ter-ganteng dalam perwayangan adalah Kamajaya baru setelah itu Arjuna. Luar biasa anak ini. Saya terkagum-kagum. Dia menjawab semua pertanyaan konyol saya dengan lugas tentang dunia perwayangan. Tentang bagaimana playboy-nya Arjuna yang ternyata punya sekitar 50 orang istri, Drupadi dan dendamnya kepada Dursasana, dan banyak lagi nama-nama yang sangat asing di telinga saya. Saya terpesona pada ketertarikannya pada dunia perwayangan.
Siswa-siswa itu sukses membuat saya terkagum-kagum. Saya menjadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang apa yang ada di otak mereka. Mereka menyimpan banyak ide dan potensi. Bisa mendampingi mereka tumbuh adalah kesempatan terindah yang diberikan Tuhan kepada saya. Saya sangat menikmatinya. Saya sangat mensyukurinya.
Terima kasih Tuhan ,Engkau membuka mata saya tentang luar biasanya potensi yang ada pada tubuh-tubuh mungil itu. Engkau menyadarkan tanggung jawab yang luar biasa untuk menjaga mereka tumbuh berkembang dengan baik. Engkau yang Maha menciptakan makhluk-makhluk mungil nan ajaib itu. Senantiasalah lindungi mereka hingga tumbuh dewasa menjadi tunas-tunas muda bangsa yang santun dan berkarakter, amin.  J





Rabu, 01 Februari 2012

untuk seorang teman

Terima kasih sudah menjadi cermin yang baik untuk diri saya
yang menggambarkan dengan jujur siapa saya sebenarnya
terima kasih sudah mengajari saya banyak hal lewat cemoohan yang nyinyir
yang justru sebenarnya kenyinyiran itulah yang saya butuhkan untuk membuka mata dan telinga saya
berhenti menilai saya benar, 
berhenti membela diri.

Terima kasih sudah memberi saya pengetahuan tentang realita
tentang cinta yang memang absurd
tentang kenyataan bahwa dia tidak bisa berdiri sendiri tanpa variabel lain

Terima kasih sudah menohok saya dengan cacian
tentang sikap saya yang keliru
tentang bagaimana memiliki sesuatu tanpa menggenggamnya erat
bagaimana memperhatikan tanpa mengeluarkan kata
bagaimana mendengarkan tanpa menyuruh bicara

Terima kasih teman atas semua diskusi panjang kita akhir-akhir ini
Saya beruntung memiliki teman seperti anda
:)

Selasa, 24 Januari 2012

Surat Cinta Gastropoda


Asteriodea, kurasa kita memang berjodoh. Tuhan memang menginginkan kita untuk bertemu meskipun kita tidak pernah menginginkannya. Kalau bukan karena Dia ingin kita saling mengenal tidak mungkin dia mengatur situasi sedemikian rupa hingga sore itu aku menemukanmu terdampar di pantai, putus asa. Aku masih ingat persis sayu matamu yang letih mencari jalan pulang. Tersesat sendirian. Aku paham sekali bagaimana rasa ketakutan itu menggerogoti sinar matamu yang padam. Bukan karena aku cukup peka, tapi karena aku pun pernah ada di keadaan itu di masa lampau.

Asteriodea, masih ingatkah kau kudekap erat karena badanmu menggigil berat menahan dinginnya tubuh yang basah dan ganasnya angin laut? Aku bahkan masih ingat wangi parfummu yang bercampur bau asin air laut. Juga titik-titik pasir putih yang kurasakan ketika aku membelai rambutmu.

Asteriodea, waktu itu kau sekarat. Begitu lemah dan pasrah. Dan aku menggendongmu menuju gubuk kecil di pinggir laut, tempat yang saat itu aku  pikir akan menjadi tempatku menghabiskan sisa umurku di dunia  ini. Saat itu aku bahagia sekali, setelah sekian lama sendirian dan menyimpan luka, akhirnya aku menemukan kamu, yang akan menjadi temanku di pantai yang sepi ini.

Malam itu kudekap kau lebih erat, agar kau lebih hangat. Kugosokkan handuk kering ke seluruh tubuhmu. Kupeluk hingga aku dan kau tertidur. Masih ingatkah, bahkan saat itu pun kita bertemu lagi di mimpi?

Sejak sore pertemuan kita itu kita selalu bersama-sama, aku selalu membawamu kemana pun aku pergi. Menyusuri pantai, menunggu matahari terbenam, menanti pagi. Aku bersyukur sekali engkau ada. Meski terkadang kau pergi sendiri bermain pasir dan aku hanya melihatmu dari dalam gubuk kita, tersenyum mengamati wajahmu yang merona terkena panasnya sinar matahari. Kau menatapku dari kejauhan, dan aku membalasnya dengan lambaian tangan.  
Setiap aku merasa sepi aku mencarimu dan menarikmu kembali ke sampingku. Saat itu aku semakin yakin Tuhan memang mengirimkan kau untukku. Untuk menemani hidupku di pinggir pantai yang sepi ini. Hingga saat itu datang.
Suatu pagi yang tidak akan pernah aku lupakan. Saat aku bangun dan tidak menemukanmu di manapun. Di atas ranjang kita, di dapur, di sisi manapun gubuk kita, di halaman, di pantai, di pasir. Engkau hilang. Engkau pergi tanpa meninggalkan pertanda sedikit pun.

Aku mencarimu sepanjang pantai, hampir masuk ke hutan. Mungkin akan masuk ke hutan kalau aku tidak ingat bahwa kau membenci hutan.  Aku mencarimu di sela-sela karang, di balik bebatuan, dan kau tidak ada. Tidak ada sedikitpun tanda bahwa kau ada.

Aku seperti tersedot ke masa lalu. Dimana aku menghabiskan hari-hariku sendiri di tempat terkutuk ini. Mendadak aku berkeringat dingin, gemetar. Ketakutan melanda tanpa ampun. Aku takut kau benar-benar pergi meninggalkanku. Maka aku kembali mencari untuk ke sekian kali. Mengitari pantai, mengoyak karang dan bebatuan, bahkan merobohkan gubuk kita.

Tapi kau tetap tak ada.

Bahkan baumu pun menghilang.

Asteriodea, aku tiba pada ambang sadarku. Mempertanyakan kewarasanku sendiri. Apakah engkau memang benar-benar ada? Ataukah engkau hanya halusinasi anak dari segala keputusasaanku yang sendiri dan sakit ini? Benarkah tubuhmu kudekap tiap malam atau hanya aku yang sedang bermimpi panjang?

Asteriodea, di tengah keputusasaanku mencarimu aku bertanya kepada Tuhan, jika engkau memang bukan untukku lalu kenapa Tuhan mengenalkanku pada dirimu? Yang begitu rapuh hingga aku merasa perlu melindungimu. Yang begitu hangat untuk kudekap dalam tiap malamku. Kenapa Tuhan menciptakan perasaan nyaman ketika bersamamu? Dan kenapa Tuhan melenyapkanmu begitu saja hingga aku berantakan seperti sekarang??

Malam itu kutunggu kamu datang beralaskan pasir dan beratapkan langit bertaburan bintang.  Aku berdoa semoga semua ini hanya mimpi dan ketika aku bangun nanti kita sedang saling mendekap dalam gubuk kita yang mungil. Tapi hanya kekecewaan yang aku dapatkan. Pada bangunku pun yang kutemukan hanya sinar mentari dan lautan pasir.

Mungkinkah kau telah pulang, Asteriodea? Ke tempat seharusnya kau hidup? Apakah kedatanganmu ke pantai ini hanya sekedar bermain saja dan aku yang salah mengartikan pertemuanku denganmu? Terlalu tinggikah harapanku untuk terus bersamamu di setiap pagi dan malamku?

Asteriodea, tak bisakah, sekejap saja kau kembali dan menjelaskan semuanya? Paling tidak ijinkan aku mendekapmu sekali lagi sebelum engkau kembali ke dasar lautmu.
Telah lelah aku menantimu di pinggir pantai ini. Setiap hari berharap aku bangun dan engkau tersenyum di sampingku. Harapku mungkin terdengar seperti lelucon untukmu, karena mungkin sekarang kau sudah menemukan kembali kehidupanmu. Usahaku menyelamatkanmu mungkin adalah hal yang bodoh. Terdamparmu mungkin hanyalah jarak waktu untuk kembali pulang. Dan aku bukannya mengembalikanmu ke rumah, malah menculikmu ke dalam gubukku. Sifat heroikku yang ingin melindungimu mungkin konyol karena sebenarnya kau tidak memerlukan perlindungan apapun dari siapapun. Kau, saat itu, hanya sedang kebingungan mencari rumahmu.

Asteriodea, maafkan aku. Atas semua ketidakpahamanku akan sikap diammu. Atas kebodohanku mengartikan padamnya sinar matamu. Atas keterlambatanku menyadari bahwa aku bukan malaikat pelindungmu seperti yang aku selalu rasakan setiap aku mendekapmu.

Asteriodea, pulanglah. Sampaikan salamku pada kehidupanmu, sampaikan maafku yang sempat menculikmu sekian lama. Sungguh, aku tidak pernah bermaksud demikian.
Akupun juga akan pulang. Pantai ini terlalu sepi untuk ditinggali sendiri. Meskipun aku belum tahu kemana aku akan pulang, tapi aku merasa, pantai ini bukan rumahku yang sebenarnya. Tidak mungkin Tuhan menginginkanku untuk hidup sendiri seumur hidupku. Tidak mungkin pula aku hanya diam dan menunggu rumahku datang menghampiriku.

Maka, sudah kuputuskan, aku akan mencari jalanku pulang. Meninggalkan puing-puing gubuk kita yang berantakan. Meninggalkan kenanganku bersamamu di pantai ini. Akan tidak mudah menyingkirkanmu dari ingatanku, Asteriodea, tapi untuk apa aku harus terus berharap pada sesuatu yang sudah menemukan tempatnya dan tak mungkin kembali menghampiriku?

Asteriodea, pesan ini kutinggalkan di balik batu besar tempat sembunyi kesukaanmu ketika kita bercanda dulu. Masih tersisa sedikit kekhawatiran jika suatu hari nanti kau merindukanku lalu datang ke tempat ini dan bersedih karena aku tak di sini lagi. Maka aku tulis pesan ini untukmu kekasih impianku, Asteriodea. Aku pergi bukan karena aku ingin meninggalkanmu. Aku pergi karena aku yakin kau sudah menemukan rumahmu, tempat seharusnya kau berada. Jika Tuhan memang menciptakan titik temu kita untuk yang kedua kali, maka sejauh apapun aku melangkah dan sedalam apapun engkau menyelam, maka akan ada ribuan alasan yang akan mempertemukan kita kembali.

Selamat tinggal, Asteriodea.
Aku akan mengenangmu sebagai bintang laut terindah dalam hatiku. Bintang laut hatiku.

Tertanda,
Gastropoda

Selasa, 17 Januari 2012

Babak Baru


Memasuki dunia yang baru, dengan manusia-manusia yang baru dan sistem yang baru pula. Dari sini saya menyadari bahwa ternyata saya sudah sangat lama tidak bersinggungan dengan kata persaingan. Bahwa saya sudah melupakan yang namanya kompetisi dengan orang lain karena kesadaran bahwa pendidikan adalah bukan perbandingan antara kita dengan orang lain melainkan perbandingan antara diri kita sendiri sebelum menerima dan setelah menjalani proses pendidikan.

Namun memasuki dunia baru ini seakan menyedot lagi ingatan saya pada masa-masa dimana mental persaingan selalu ditanamkan pada diri anak-anak. Ini menyedihkan sekali. Kenapa anak-anak kita harus dijejali dengan doktrin-doktrin untuk saling mengalahkan satu sama lain, haruskah kemenangan itu didapat dengan mengalahkan orang lain? Saya tidak melihat kenikmatan menuntut ilmu pada diri anak-anak itu, yang ada hanya ekspresi tertekan untuk bisa mencapai target yang diharapkan.

Dunia pendidikan ini semakin membuat saya tidak mengerti. Termasuk babak baru dalam hidup saya ini. Dimana saya harus menjadi bagian untuk mendoktrin mereka berlomba-lomba mengalahkan satu sama lain.

Bukan itu yang saya mau. Saya maunya anak-anak belajar karena mereka memang haus ilmu pengetahuan. Saya rindu melihat wajah-wajah ingin tahu dan antusias pada ilmu baru. Saya miris melihat wajah-wajah jenuh dan tertekan dimana-mana seperti di tempat kerja saya yang baru ini. Sedih sekali.

Lebih sedih lagi karena saya tidak bisa melakukan apa-apa selain ikut bersinergi dengan mereka. Bukan, saya hanya belum bisa. Saya yakin suatu saat saya pasti bisa. Menemukan formula yang tepat untuk sistem pendidikan yang melindungi pembelajar. Saya hanya perlu banyak dan banyak belajar lagi di mana pun, dengan siapa pun. Maka babak baru dalam hidup ini akan saya anggap bagian dari pembelajaran. Referensi penyempurna konsep pendidikan yang saya inginkan.

Saya percaya hari itu akan datang, hari dimana pendidikan bukan lagi ajang persaingan dan pemaksaan. Saya hanya perlu belajar lebih keras.

Ganbatte!

Semarang
10.42 WIB

Rabu, 11 Januari 2012

Januari ini...


Ketika kemarin saya menulis resolusi tahun 2012 dengan penuh semangat di akhir postingan saya, sekarang saya harus menerima kenyataan bahwa salah satu harapan itu ternyata harus pupus di bulan pertama tahun 2012 ini. Yah, dengan tidak disangka-sangka dia meminta kebebasannya kembali.
Permintaan itu seperti jamur yang tiba-tiba tumbuh di kulit yang sangat terawat, seperti jerawat yang tiba-tiba muncul saat bangun tidur di pagi hari padahal kita tidak pernah lupa mencuci wajah setiap malam sebelum tidur.
Sangat terpukul dan terkejut. Tidak ada permasalahan di antara kami. Everything’s normal, 100%, dan tiba-tiba dia ingin mundur dari status pacaran ke status kami yang sebelumnya yang nggak jelas.
Sedih. Ternyata di balik rencana-rencana yang kami buat bersama dia masih menyimpan rasa ragu. Tentang hubungan kami, tentang masa depan kami.
Satu yang saya ingat, alasannya malam itu via telepon, dia tidak ingin menyakiti saya. Dia tidak ingin selingkuh atau dibilang orang selingkuh ketika dia dekat dengan cewek lain di sana meskipun dia tidak berniat selingkuh.
Naif. Tapi saya menghargai kejujurannya. Saya mengerti di usianya yang saat ini dia masih ingin bermain-main dengan banyak hal, dia masih ingin berhubungan dengan banyak orang, pergi sejauh yang dia bisa, melakukan hal-hal gila dengan teman sepermainan dan sebagainya. Saya sadar saya tidak berhak merampas kebebasannya itu untuk sekedar menemani saya. Di rumah yang nyaman, ngobrol berdua, tidur lebih awal, pergi dengan anak-anak...
Jika saya ada di posisi dia, saya pasti juga akan melakukan hal yang sama.
Meskipun malam itu saya berusaha untuk tidak menangis, hati saya tidak bisa berbohong untuk tidak bersedih.
Saya sedih, harus melepas orang yang saya cintai untuk ke sekian kali. Lebih sedih karena dia bilang masih mencintai saya tetapi memang harus pergi.
Saya sangat tahu keadaan ini.
Seharusnya saya tahu hubungan ini terlalu absurd untuk dijalani.
Namun entah kenapa saya masih sakit.
Hufft.

Minggu, 08 Januari 2012

tentang tulisan saya

Mau tidak mau Raditya Dika begitu mempengaruhi gaya tulisan saya. Hal ini bisa jadi baik bisa jadi buruk. Baiknya tulisan saya bisa berkembang dengan sentuhan lain yang lebih humanis. Buruknya, hal itu harus saya kendalikan karena saat ini saya sedang mengerjakan novel dengan gaya tulisan yang sangat-sangat berbeda dengan dia.

Berbeda dengan gaya bahasa Raditya Dika yang harus saya waspadai akhir-akhir ini karena khawatir novel saya akan 'tercemar' dan kehilangan jati dirinya, saya begitu cinta mati dengan tulisan Dee. Saya sangat ingin bisa menulis seperti Dee. Sayangnya segigih apapun saya mencoba, tampaknya saya memang belum bisa menulis secanggih itu.

Saya selalu percaya tulisan seseorang itu mencerminkan tingkat intelektualitasnya, pengetahuannya, pribadinya, karakternya, sudut pandang dia, meskipun mereka tidak sedang bercerita tentang diri mereka sendiri. Tapi saya selalu yakin, ada sebagian ruh mereka yang masuk dan memberi ruh tulisan mereka sehingga tulisan yang tercipta mau tidak mau merupakan replika sebagian diri si penulis.

Pertama saya membiarkan orang lain membaca tulisan saya, sebenarnya saya agak takut juga. Takut orang-orang itu kemudian menemukan diri saya yang sebenarnya di balik tulisan-tulisan itu. Takut kalau karakter buruk yang selama ini saya sembunyikan akhirnya terungkap lewat tulisan-tulisan saya.
Dan percaya atau tidak, itu benar-benar terjadi.

Anehnya saya bersyukur dan malah menjadi tidak takut lagi untuk men-share tulisan-tulisan saya. Bukankah itu jauh lebih baik? Membiarkan mereka semua tahu siapa diri saya sebenarnya meski bukan dengan mulut saya. Setidaknya saya tidak perlu memakai topeng lagi ketika harus bicara dengan orang lain karena mereka (yang sudah membaca tulisan saya) telah tahu saya orang yang bagaimana, bagaimana tingkat pengetahuan saya, bagaimana cara saya memandang suatu hal. Semuanya justru akan menjadi lebih mudah.

Saya merasakan feel yang berbeda ketika saya berbicara dengan orang-orang yang sudah membaca tulisan saya. Saya merasa sedikit banyak mereka sudah mengenal saya yang sebenarnya. Saya sangat bersyukur bisa menulis dan senang menulis.

Meskipun kekaguman pada Raditya Dika harus diwaspadai dengan gaya tulisannya yang kuat yang bisa-bisa 'meracuni' novel saya selanjutnya, dan kekaguman pada Dee harus dikendalikan agar saya tidak tegoda   menulis cerpen alih-alih meneruskan novel yang setengah jalan, saya tetap mencintai mereka berdua dan bermimpi suatu saat bisa menjadi seperti mereka berdua.

Saya masih berani bermimpi. Sampai detik ini, saya masih mampu. 
Saya sangat bersyukur dengan hal itu.
:) 

Semarang
@kamar kos gelap

Jumat, 06 Januari 2012

myself


Foto ini tanpa editan
Saya pikir tidak ada yang salah pada diri saya
Lalu kenapa sulit sekali menemukan orang yang mau mencintai dan dicintai setulus hati?

Selasa, 03 Januari 2012

catatan akhir tahun 2011


Tahun 2011 adalah tahun pertama saya mengenal dunia di luar kampus. Tahun ini saya awali dengan belajar di Kampung Inggris, Pare yang ternyata mengajari saya tidak hanya sekedar bahasa Inggris, tapi juga mengajari saya tentang sistem pendidikan yang merakyat dan menyenangkan, tentang pengendalian diri, tentang impian yang harus diperjuangkan.

Bulan pertama tahun ini cukup berat karena sindrom putus cinta yang masih tersisa di akhir tahun 2010. Putus cinta yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika kami bisa mengendalikan ego kami masing-masing. Namun, di akhir bulan pertama ini juga saya menemukan seseorang yang  mengundang saya masuk ke kehidupannya yang asing. Sangat asing hingga saya merasa dia adalah pangeran dari negeri seberang yang tiba-tiba meminta saya menjadi istrinya. 

Bulan-bulan berikutnya pun terasa lebih ringan dengan hubungan baru yang kami jalin. Hubungan yang lebih mirip dengan cerita-cerita ftv. Jalan-jalan dengan sepeda, belajar bersama, main ke sawah, hingga akhirnya kebersamaan itu harus terhenti di Bulan April karena saya harus meninggalkan Pare untuk mulai bekerja.
Saya tinggalkan pangeran dari negeri seberang itu, saya tinggalkan bumi impian saya dan kemudian kembali ke alam nyata saya untuk menghadapi kehidupan saya selanjutnya.

Awal Mei saya mulai bekerja di sebuah sekolah negeri di kabupaten sendiri. Saya mulai masuk dunia kerja dengan segala suka dukanya. Beradaptasi dengan segala hal baru yang harus saya hadapi di sana. Awalnya saya pikir semua baik-baik saja. Pekerjaan saya, kehidupan saya, hubungan saya, sebelum akhirnya pada sekitar Bulan Ramadhan, pertengahan Agustus saya tahu bahwa pangeran dari negeri seberang itu sudah menemukan ‘calon istri’ baru di negeri impian saya, Pare. Saya ditipu mentah-mentah, ingin tertawa ketika mengingatnya, tapi ya sudahlah. Mungkin memang jalannya harus begitu.

Bulan Agustus dan September menjadi bulan-bulan terberat saya di tahun ini. Di bulan-bulan ini tekanan datang dari berbagai pihak. Mulai terasa konflik dalam semua lini kehidupan saya. Di bulan-bulan ini juga saya memutuskan meneruskan studi saya sehingga saya harus siap bolak-balik Bojonegoro-Semarang untuk kuliah sekaligus bekerja. Berbagai macam pekerjaan menumpuk dengan suasana hati yang kacau balau. Saya masih ingat bagaimana lelahnya tubuh dan perasaan saya pada waktu itu. Untunglah saat itu saya tidak sendirian. Tuhan mengirimkan beberapa teman yang selalu mensupport saya, menghibur saya, membuat saya tetap tersenyum meski sepertinya saat itu tidak ada keinginan untuk tersenyum.

Satu diantara teman saya saat itu adalah seorang teman sekelas ketika belajar di Pare. Dia menemani saya setiap hari dengan sms-smsnya. Dia mau mendengarkan keluh kesah saya setiap malam. Dia mampu menjadi sandaran ketika saya lelah menghadapi hidup saya. Dan hal itu semakin terasa setelah hubungan saya yang terakhir berakhir dengan cukup menyedihkan.

Saya tidak tahu apa nama hubungan kami ini. Terlalu absurd jika kami menyebut ini pacaran karena kami sangat berbeda dalam segala segi yang kasat mata. Maka Bulan September kami lewati dengan menyimpan perasaan yang sepertinya tidak pantas untuk diungkapkan. Hingga akhirnya sekitar akhir September, dia punya inisiatif untuk mengatakan lebih dulu rasa yang sama-sama kami simpan akhir-akhir ini. Dari sini kami masih belum yakin akan menyepakati hubungan ini sebagai sebuah hubungan pacaran atau apa, kami hanya merasa nyaman berbagi satu sama lain dan semuanya berjalan ringan seperti perahu kertas yang mengikuti arus air. 

Kami tidak tahu kapan pastinya kami yakin hubungan ini adalah semacam ‘pacaran’ tapi toh kemudian kami menyerah juga untuk tidak menganggap hubungan ini ‘pacaran’. Maka akhirnya kami berani untuk mengubah status hubungan di facebook kami dengan status ‘engaged’. Baik saya maupun dia tidak tahu alasannya, tapi kami merasa lebih nyaman menggunakan status itu dibanding dengan ‘in relationship’.

Hubungan kami berjalan ringan, saya dan dia sudah mengenal dengan baik satu sama lain. Meskipun dia berada jauh di Malang dan saya mungkin dalam waktu dekat akan hijrah ke Semarang, namun kami optimis semua akan baik-baik saja. Baik dia maupun saya mengetahui latar belakang masing-masing, tidak ada rahasia, atau setidaknya saya tidak menyimpan rahasia, dan sejauh ini terasa sangat nyaman. 

Di bulan September-Oktober ini juga saya mendapatkan kesempatan untuk mencetak novel saya. Sebuah impian lama yang akhirnya dikabulkan Tuhan. Saya kirimkan novel itu pada orang-orang yang saya anggap sangat berpengaruh dalam hidup saya. Dan saya berharap sekali banyak yang mengapresiasinya. Hingga saat ini novel itu masih dipromokan di sana sini. Semoga tahun depan sudah mulai bisa masuk ke toko-toko buku.

Awal Desember saya memutuskan untuk resign dan fokus kuliah. Begitu berat meninggalkan lingkungan kerja yang sudah sangat bersahabat, namun bukankah hidup memang harus selalu bergerak?
Dan malam ini, tanggal 31 Desember, saya menulis untuk merenungkan semuanya. Segala yang terjadi di tahun 2011. Orang-orang yang datang dan pergi dalam hidup saya begitu beragam di tahun ini. Berbagai macam masalah baru menyapa saya pada tahun ini.

Saya mendapat banyak pelajaran di tahun ini dan saya yakin saya akan mendapatkan yang lebih di tahun depan. Saya yakin kehidupan saya akan lebih kompleks di tahun depan namun saya juga optimis saya bisa melewatinya dengan senyuman seperti di akhir tahun ini.

Semoga di tahun depan saya menjadi lebih baik lagi. Gunung Rinjani bisa saya daki, novel saya bisa masuk ke seluruh toko buku di Indonesia, kuliah saya lancar-lancar saja, hubungan saya baik-baik saja, pekerjaan baru saya menyenangkan, bisnis kecil saya bisa survive, lingkungan baru saya kondusif, tabungan di rekening Bank saya bertambah, saya bisa menyelesaikan novel baru saya, saya sehat dan bisa tersenyum sepanjang tahun. Amin.