Kembali ke Kampung
Inggris, serasa kembali ke masa lalu. Dua tahun meninggalkan Pare,segalanya
tampak sama. Tidak cukup banyak perubahan. Masih spanduk, pamflet, leaflet di
jalan-jalan. Bedanya saat ini agak sepi, karena memang bukan musim liburan.
Kembali ke tempat ini
tanpa ada teman-teman di masa lalu membuat rasa kesepian berlipat-lipat
menggembung di hati dan kepala. Membuat saya membuang waktu setengah hari hanya
untuk menjebakkan diri ke nostalgia. Aih.. seandainya saya tahu betapa susahnya
mengumpulkan data setelah itu, pasti jam tujuh tepat saya keluar dari kos untuk
mulai bergerak.
Hari pertama saya habiskan
dalam nostalgia sendirian di bangunan kos yang asli jaman Belanda ini. Jendela
kos yang besar dan nyaman membuat saya betah ada di kos, hingga seorang teman
mengajak mengurus perijinan di kantor kepala desa tulungrejo. Jadilah hari itu
saya bertemu pak lurah dan mendapat surat ijin melakukan penelitian di desa
tulungrejo. Saya mulai bergerak menyebar kuesioner pukul 14.30 WIB, itu pun setelah
teman saya datang ke kosa dan bilang pimpinan kursusan tempat dia kerja tidak
mau mengisi kuesioner itu karena merasa kurang paham dengan yang ada di
dalamnya. Saat itu saya baru sadar, bahwa tidak semua orang terbiasa mengisi
kuesioner. Dari situ saya juga berfirasat, sepertinya akan membutuhkan usaha
yang lebih dari dugaan saya sebelumnya untuk mengumpulkan data yang benar-benar
saya butuhkan.
