Kamis, 23 Februari 2012

tembok beton banjir kanal


Secara tidak sengaja aku menemukan tempat ini. Tempat yang tercipta karena adanya proyek baru Pemkot Semarang. Beberapa kali aku melewati tempat ini, menyimpan rasa penasaran untuk bisa duduk di tembok betonnya yang tinggi dan menghadap Kali Garang. Dan akhirnya disinilah aku sekarang, tembok beton Banjir Kanal, ujung Pasar Maling Kokrosono di dekat pertigaan Gereja dengan salib biru besar di bagian atapnya.

Sendirian, aku duduk di atas tembok beton menghadap aliran Kali Garang yang tenang. Sore ini cukup ramai. Beberapa orang asik memancing di pinggir kali. Sekelompok pemuda bermain bola jauh di sisi kananku, ada sepasang sejoli dan seorang bapak dengan dua anaknya di sisi kiriku.

Matahari berwarna keemasan, tampaknya sudah agak mengantuk, bersembunyi di balik awan. Di bawah kakiku yang menggantung ada susunan paving yang rapi. Semakin dekat dengan sungai rumput liar yang tumbuh di sela-sela paving semakin tinggi. Dari kejauhan memang mirip lapangan yang sempit memanjang.

Dari sisi kanan yang riuh dengan pemuda-pemuda yang asik bermain bola aku memalingkan pandangan ke sisi kiri yang lebih tenang. Dua sejoli bercengkerama, anak-anak kecil berlari-lari kecil diawasi Bapaknya. Jauh sebagai latar belakangnya adalah siluet Gunung Ungaran yang berupa bayangan abu-abu. Puncaknya terlihat jelas, namun separuh lereng ke bawah tertutup kabut tebal. Mirip gunung yang melayang di langit. Entah sudah berapa lama aku tidak kesana dan sepertinya memang harus menyempatkan diri kesana. Ingin sekali merasakan lagi asamnya begonia dan stroberi hutan. Ingin sekali merasakan lagi kedinginan.

Baru saja ada pesawat lewat tepat di atasku. Pesawat itu terbang cukup rendah hingga aku bisa melihat bagian bawah rangkanya dengan jelas. Melihat pesawat itu, melihat langit di baliknya, kusadari  hari makin menggelap. Matahari sekarang sembunyi di pucuk-pucuk pohon nun jauh di seberang tanggul banjir kanal. Warna keemasan yang menjadi latar belakang pepohonan yang hijau gelap terkesan misterius. Air kali yang tenang memantulkan warna langit yang suram. Hari ini, langit tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Para pemuda itu tampaknya sudah cukup lelah bermain-main. Mereka menepi ke tembok beton dan bercengkrama sambil istirahat melepas lelah. Sedangkan bapak dengan kedua anaknya sudah dari tadi pulang, waktunya mandi sore.

Semakin sepi ketika gerombolan pemuda itu memutuskan untuk pulang. Satu per satu suara sepeda motor mereka menjauh. Para pemancing mulai berdiri dan membenahi alat-alat pancingnya. Air kali masih tenang seperti tidak menolak ditinggalkan.

Masih ada sepasang sejoli yang menikmati terbenamnya matahari. Dan juga aku yang sendiri menulis di lembar-lembar kertas kecil yang kusut. Pesawat lewat lagi. Kali ini terbang melenceng ke arah Tenggara. Kali ini dua sejoli berdiri. Memutuskan untuk pergi. Aku sendiri. Menemani aliran Kali Garang yang tenang. Tetap tenang meski ditinggalkan. Aku iri diam-diam. Kali Garang tetap mengalir dengan tenang. Meski riuh, meski sepi, meski sunyi, bukannya gelisah mencari-cari masalah. Aliran Kali Garang yang kupandang dari tembok beton banjir kanal ini seolah menertawakan ketakutanku pada kesepian, seakan mengejek dalam diamnya.

 “Pengecut, jadilah seperti aku, tetap tenang, tetap mengalir. Meski riuh, meski sunyi.”

Lonceng Gereja berbunyi enam kali, jeda, enam kali lagi, jeda lagi, enam kali lagi. Hari semakin menggelap. Kali ini aku yang harus pergi. Kutatap alirannya yang masih tenang. Berpamitan. Dia melengos tak peduli. “Dengan atau tanpa kamu aku masih akan mengalir”, katanya acuh. Aku tersindir.

Aku berdiri. Dia tidak melihatku lagi. Sampai aku turun ke balik tembok dan pergi, aku tak mendengar suaranya memanggilku untuk kembali.

18.02
Semarang, 23 Februari 2012


patah hati





Jika dia memang buta, aku sudah tidak ingin lagi membantunya meraba

Jika dia memang tuli, aku sudah tidak mau lagi membisikkan kata-kata

Akan aku biarkan dia tersesat dalam kegelapan

Karena dia sudah meniadakanku
Maka aku akan meniadakan dia.

rindu



Mengingatmu malam ini,
Seperti bayang-bayang pepohonan yang semakin memudar karena matahari mulai tertutup mendung.
Seperti awan yang bisa dilihat namun tak bisa disentuh.
Seperti menengadah di bawah bulan purnama yang jelas ada tanpa bisa diraih.
Seperti bintang yang terkadang terang terkadang redup.
Seperti kopi yang hanya bisa dihirup aromanya tanpa boleh disesap meski sedikit.
Seperti cokelat yang menyimpan rasa pahit.
Seperti minum susu di tengah malam sebagai pengantar tidur.
Seperti selimut yang nyaman.
Seperti malam yang tak pernah mengeluh meski selalu kelam.
Seperti pagi yang menyudahi mimpi.
Mengingatmu malam ini,
Seperti aku yang sedang merindu.
150212
23:11

Sabtu, 04 Februari 2012

anak-anak SD itu...



Bulan ini saya awali dengan pekerjaan baru saya menjadi tentor. Minggu pertama bulan ini saya mendapat kesempatan untuk mengajar privat anak-anak SD disamping mengajar di kelas. Dari dulu mengajar privat anak SD bukanlah hal yang menyulitkan bagi saya karena pada dasarnya saya menyukai anak-anak. Saya suka dengan polosnya ekspresi mereka, candaan mereka, bagaimana mereka berusaha mengingat-ingat pelajaran dan mengerjakan soal-soal. Belajar dengan anak-anak sangat menyenangkan bagi saya.
Hal lain yang membuat saya antusias mengajar mereka adalah saya harus kembali membuka buku-buku SD, belajar lagi apa itu pesawat sederhana, apa itu organisasi, jenisnya, manfaatnya, bagaimana sifat cahaya, dan materi-materi lain yang entah kenapa ketika saya baca lagi saya menemukan banyak sekali pelajaran baru di dalamnya lebih dari yang dulu saya dapatkan ketika di SD.
Bahwa pisau yang sering saya gunakan untuk mengupas buah itu adalah memakai prinsip pesawat sederhana berupa bidang miring untuk membuat baji, baru saya ingat lagi ketika belajar bersama adik-adik ini. Bahwa arisan ibu-ibu termasuk dalam organisasi informal juga baru berhasil saya ingat ketika belajar Pkn kelas 5 SD. Bahkan diantara materi-materi ini selalu ada hal yang menuntut untuk saya renungkan. Seperti bahwa benda dibagi menjadi dua, benda yang memancarkan cahaya dan benda yang memantulkan cahaya. Dalam sebuah buku paket penunjang saya buka-buka sebelum mengajar dikatakan bahwa apabila kita melihat benda berwarna biru, sejatinya adalah benda itu hanya bisa memantulkan cahaya yang berwarna biru.
Statement tersebut membuat saya berpikir lebih jauh. Apabila benda yang tidak memancarkan cahaya sendiri itu adalah memang hanya memantulkan, lalu apakah sejatinya pembentuk warna itu? Benda tertentu hanya mampu memantulkan warna tertentu, bukankah itu artinya bahwa sejatinya benda-benda tersebut adalah tidak berwarna, melainkan cahayalah yang menyebabkan mereka terlihat berwarna. Bukankah itu berarti selama ini kita telah tertipu dengan segala macam benda di dunia ini? Bahwa mawar berwarna merah dan melati berwarna putih, saya jadi curiga, jangan-jangan sebenarnya mereka tidak pernah punya warna melainkan hanya mampu memantulkan warna merah dan putih? Aih, aih,, saya menjadi bingung sendiri.
Apabila logika asal-asalan saya yang diambil dari buku yang belum jelas kualitasnya ini benar, berarti sebenarnya dunia ini tidak punya warna, melainkan hanya punya benda-benda yang bisa memantulkan cahaya menjadi warna-warna tertentu. Dunia ini tidak berwarna. Cahayalah yang telah menipu mata kita. Cahayalah yang menciptakan warna-warna itu. Kita benar-benar hidup dalam kesemuan.
Sampai saat ini saya masih mencari orang yang bisa menjelaskan teori cahaya itu kepada saya. Yang bisa meyakinkan saya bahwa logika berpikir saya itu salah kaprah. Karena terus terang, saya tidak nyaman memikirkan bahwa dunia ini sama sekali tidak memiliki warna.
Oke, kita tutup masalah warna dan cahaya. Kembali ke anak-anak tadi, saya selalu mencintai keunikan karakter mereka. Saya mencintai orisinalitas bakat yang mereka miliki. Salah satu siswa privat saya adalah seorang atlit karate. Orang tuanya mendaftarkan les privat karena takut anaknya ketinggalan pelajaran disebabkan latihan-latihan yang harus dijalaninya menjelang pertandingan. Dengan masih menggunakan celana karate dan kaus putih dia belajar karena besoknya ada ulangan harian. Saya salut sekali. Saya ingat dengan jelas setiap detail yang dia lakukan ketika belajar. Ketika dia melihat langit-langit berusaha mengingat-ingat unsur organisasi. Bagaimana dia melepas lelah dengan berguling-guling di lantai, mengingat-ingat materi sambil menahan kantuk. Tingkah usilnya saat tidak bisa menjawab pertanyaan saya, saya masih ingat semuanya. Dan saya selalu berdoa semangat belajarnya itu tetap terjaga hingga dewasa kelak.
Sore ini saya belajar bahasa Inggris dengan seorang anak yang juga sangat unik. Sebelumnya saya tidak menyangka bahwa anak tersebut adalah dalang cilik. Di sela-sela belajar dia selalu bercerita tentang wayang. Dari dalang cilik ini saya tahu bahwa karakter ter-ganteng dalam perwayangan adalah Kamajaya baru setelah itu Arjuna. Luar biasa anak ini. Saya terkagum-kagum. Dia menjawab semua pertanyaan konyol saya dengan lugas tentang dunia perwayangan. Tentang bagaimana playboy-nya Arjuna yang ternyata punya sekitar 50 orang istri, Drupadi dan dendamnya kepada Dursasana, dan banyak lagi nama-nama yang sangat asing di telinga saya. Saya terpesona pada ketertarikannya pada dunia perwayangan.
Siswa-siswa itu sukses membuat saya terkagum-kagum. Saya menjadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang apa yang ada di otak mereka. Mereka menyimpan banyak ide dan potensi. Bisa mendampingi mereka tumbuh adalah kesempatan terindah yang diberikan Tuhan kepada saya. Saya sangat menikmatinya. Saya sangat mensyukurinya.
Terima kasih Tuhan ,Engkau membuka mata saya tentang luar biasanya potensi yang ada pada tubuh-tubuh mungil itu. Engkau menyadarkan tanggung jawab yang luar biasa untuk menjaga mereka tumbuh berkembang dengan baik. Engkau yang Maha menciptakan makhluk-makhluk mungil nan ajaib itu. Senantiasalah lindungi mereka hingga tumbuh dewasa menjadi tunas-tunas muda bangsa yang santun dan berkarakter, amin.  J





Rabu, 01 Februari 2012

untuk seorang teman

Terima kasih sudah menjadi cermin yang baik untuk diri saya
yang menggambarkan dengan jujur siapa saya sebenarnya
terima kasih sudah mengajari saya banyak hal lewat cemoohan yang nyinyir
yang justru sebenarnya kenyinyiran itulah yang saya butuhkan untuk membuka mata dan telinga saya
berhenti menilai saya benar, 
berhenti membela diri.

Terima kasih sudah memberi saya pengetahuan tentang realita
tentang cinta yang memang absurd
tentang kenyataan bahwa dia tidak bisa berdiri sendiri tanpa variabel lain

Terima kasih sudah menohok saya dengan cacian
tentang sikap saya yang keliru
tentang bagaimana memiliki sesuatu tanpa menggenggamnya erat
bagaimana memperhatikan tanpa mengeluarkan kata
bagaimana mendengarkan tanpa menyuruh bicara

Terima kasih teman atas semua diskusi panjang kita akhir-akhir ini
Saya beruntung memiliki teman seperti anda
:)