Senin, 20 Juni 2011

It's 'just' a Love 


When I remembered him i felt pain in whole of my body. I remembered the way he made me laugh and cry.
When I remembered the time we had together, I felt something wrong in my stomach.
When I realized he's far away, in the dreamland and untouchable, I felt something's pounding in my head.
Then I saw at my Mom, looked at her white hair and her smile, then I said :
"It's just a love, Nay. It's nothing than your precious Mom"


Jumat, 17 Juni 2011

The Beloved Parents

Akhirnya waktu pengumuman datang juga. Hari itu setelah lembur hingga larut malam kami berhasil meng-upload pengumuman kelulusan tes masuk ke sekolah kami. Keesokan harinya, kami tidak menduga, ada berbagai macam reaksi yang kami terima. Mulai dari sms berisi umpatan kepada ketua panitia yang anaknya gagal masuk hingga sekresek gorengan dari seorang ibu tanda terima kasih anaknya bisa masuk sekolah kami.
Ya, ya, ya.., Orang tua. Apapun mereka lakukan demi cita-cita sang buah hati. Diam-diam saya memaklumi apapun yang mereka lakukan meskipun itu diluar batas kewajaran. Ya Tuhan, entah kenapa saya baru menyadarinya sekarang. Bahwa setiap orang tua di dunia ini pada dasarnya adalah sama. Mereka melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya.
Pada suatu siang di hari pertama daftar ulang. Seorang ibu diikuti anak laki-lakinya tergopoh-gopoh memasuki sekretariat panitia dan menyalami saya. Genggaman tangannya yang dingin terasa mantap walau sedikit gemetar. Saya dapat merasakan luapan kegembiraan dari pancaran matanya. Kalimatnya masih saya ingat “Alhamdulillah lulus mbak, terima kasih doanya”
Akhirnya saya teringat. ibu itu adalah yang tempo dulu datang dengan mata berkaca-kaca, memberanikan diri bertanya, apakah bisa anaknya daftar di sekolah kami sedangkan nilai rapornya kurang 0,4 dari yang kami persyaratkan. Dan hari ini beliau datang, sangat berbeda dengan sebelumnya. Langkahnya mantap dan senyumnya mengembang. Bahagia, bukan karena beliau mendapatkan sesuatu untuk dirinya. Tapi karena anaknya berhasil mendapatkan apa yang dia cita-citakan. Orang tua.
Pengorbanan mereka, tangis dan tawa mereka, perjuangan dan bahkan kecurangan pun akan mereka lakukan untuk sekedar memenuhi keinginan kita. Anaknya.
Dalam hati saya bergetar.Kemana saja kesadaran saya selama ini. Kenapa baru sekarang saya bisa menyadari hal ini? Darimana segala keegoisan itu saya bangun? Bahwa saya bisa hidup sendiri tanpa orang tua? Itu semua bullshit! Kita tidak bisa berkata bahwa kita sudah dewasa dan mampu mengatur hidup kita sendiri, seberapapun tuanya kita. Karena mereka adalah orang tua kita. Mereka memiliki kita. Tentu saja mereka berhak melakukan apapun kepada kita. Karena selama ini merekalah yang merawat dan bertanggung jawab terhadap kita. Kita adalah nafas mereka, kita adalah semangat mereka. Lalu apa yang membuat kita sangat sombong untuk tidak lagi mendengar nasehat mereka?
Astagfirullahaladzim... Ampunilah hamba-Mu yang bodoh ini Tuhan.
Engkau berikan dua malaikat yang mendampingi kami dalam bentuk yang nyata. Dua malaikat tempat kami berlindung, berkeluh kesah, mengadu. Dua malaikat yang bisa kami peluk dan cium dan tidak kami ragukan sama sekali kecintaan dan kesetiaan mereka terhadap kami. Tapi masih saja kami sempat menghardik mereka, berbicara kasar terhadap mereka!
Dan saya masih tergugu dalam penyesalan sekaligus rasa syukur saya. Bahwa Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menyadari kesalahan saya selama ini. Bahwa Tuhan memberikan pekerjaan yang membuat mata saya terbuka tentang perjuangan orang tua yang sebenarnya. Terucap do’a tulus dalam hati kecil yang penuh noda ini, “Lindungi mereka Tuhan, bahagiakan mereka, sunggingkan senyum di bibir mereka, karena hal itu ternyata adalah hal terindah di dunia bagi saya saat ini. Amin.”

Bojonegoro
22.11
13th June 2011

Rabu, 01 Juni 2011

Gajian Pertamaku

Hujan di sore ini, dan pekerjaan yang nggak terlalu padat membuatku nggak punya pilihan lain selain menulis. Seharian main facebook ternyata bisa membuat kita jenuh juga, termasuk buka email, dan main ke kantin. Sama sekali nggak mengurangi kejenuhanku. Huft… aku benci kalo nggak ada kerjaan. Itu membuatku sadar bahwa sebenarnya waktu kerja itu panjang sekali. Dan itu juga membuatku nggak betah di kantor. Maka disinilah aku sekarang. Di depan komputer kantor dan tumben sekali, nggak membuka facebook. :D
Hmmh… satu bulan sudah aku bekerja di sini. Di sekolah yang kata orang-orang sekolah mahal ini. Di sekolah yang menurut orang-orang termasuk special dan punya prospek yang bagus ke depannya. Yaya,. Whatever they say I don’t care cuz I’m not as a teacher.
Dan saudara-saudara, setelah sebulan bekerja akhirnya aku menerima juga yang namanya :GAJIAN.
Ternyata, begini ya rasanya dapet gaji pertama. Bahagiaaa banget. Rasanya seperti ada pengakuan bahwa aku adalah seorang manusia yang berdiri sendiri.
Meskipun nominalnya nggak seberapa, tapi aku sangat sangat menghargai institusi ini, yang mau percaya pada kemampuanku yang masih ingusan ini. Memberi balasan yang cukup berlebihan untuk pekerjaanku yang hanya nongkrong di sekolah dan online.
Wew. Seperti baru tersadar bahwa sekarang aku sudah bekerja. Aku sudah melewati satu titik yang benar-benar aku inginkan di masa lalu. Kepuasan gajian hari ini nggak akan pernah bisa tertandingi dengan gajian-gajian berikutnya. Aku nggak yakin hukum Gossen I benar-benar berlaku untuk kasusku ini. J
Satu yang terlintas dalam pikiranku ketika aku menerima amplop itu hanya satu : mamah.
Memang lucu jika aku bayangkan aku memberikan amplop itu untuknya, sedangkan beliau jelas punya yang jauh  lebih banyak dari isi di dalamnya. Tapi nggak tau kenapa, keinginan untuk memberikan seluruh amplop itu kepada mamahku begitu kuat. Apapun resikonya, termasuk ditertawakan.
Aku ingin beliau tersenyum bangga. Setelah sekian lama aku hanya bisa membuat beliau marah dan sakit hati. Aku ingin beliau bahagia. Karena kau tahu semua ini bukan tentang rupiah. Tapi tentang baktiku kepada kedua orang tua.
Mamah, Papah. Aku janji, aku akan bertahan di sini. Sampai nanti datang waktunya aku pergi, entah untuk menuntut ilmu atau untuk pekerjaan yang lain.
Aku akan selalu membuat kalian bangga. Aku nggak akan jadi anak badung lagi, karena sekarang aku sudah bisa merasakan sendiri bagaimana susahnya mencari rejeki.
Keinginan manusia memang nggak terbatas. Tapi untuk kalian, aku rela membatasi semuanya. J
Asal senyum itu selalu terkembang, rasanya semuanya sudah nggak berarti lagi.

Bojonegoro, 01 Juni 2011   
Office.