Rabu, 01 Juni 2011

Gajian Pertamaku

Hujan di sore ini, dan pekerjaan yang nggak terlalu padat membuatku nggak punya pilihan lain selain menulis. Seharian main facebook ternyata bisa membuat kita jenuh juga, termasuk buka email, dan main ke kantin. Sama sekali nggak mengurangi kejenuhanku. Huft… aku benci kalo nggak ada kerjaan. Itu membuatku sadar bahwa sebenarnya waktu kerja itu panjang sekali. Dan itu juga membuatku nggak betah di kantor. Maka disinilah aku sekarang. Di depan komputer kantor dan tumben sekali, nggak membuka facebook. :D
Hmmh… satu bulan sudah aku bekerja di sini. Di sekolah yang kata orang-orang sekolah mahal ini. Di sekolah yang menurut orang-orang termasuk special dan punya prospek yang bagus ke depannya. Yaya,. Whatever they say I don’t care cuz I’m not as a teacher.
Dan saudara-saudara, setelah sebulan bekerja akhirnya aku menerima juga yang namanya :GAJIAN.
Ternyata, begini ya rasanya dapet gaji pertama. Bahagiaaa banget. Rasanya seperti ada pengakuan bahwa aku adalah seorang manusia yang berdiri sendiri.
Meskipun nominalnya nggak seberapa, tapi aku sangat sangat menghargai institusi ini, yang mau percaya pada kemampuanku yang masih ingusan ini. Memberi balasan yang cukup berlebihan untuk pekerjaanku yang hanya nongkrong di sekolah dan online.
Wew. Seperti baru tersadar bahwa sekarang aku sudah bekerja. Aku sudah melewati satu titik yang benar-benar aku inginkan di masa lalu. Kepuasan gajian hari ini nggak akan pernah bisa tertandingi dengan gajian-gajian berikutnya. Aku nggak yakin hukum Gossen I benar-benar berlaku untuk kasusku ini. J
Satu yang terlintas dalam pikiranku ketika aku menerima amplop itu hanya satu : mamah.
Memang lucu jika aku bayangkan aku memberikan amplop itu untuknya, sedangkan beliau jelas punya yang jauh  lebih banyak dari isi di dalamnya. Tapi nggak tau kenapa, keinginan untuk memberikan seluruh amplop itu kepada mamahku begitu kuat. Apapun resikonya, termasuk ditertawakan.
Aku ingin beliau tersenyum bangga. Setelah sekian lama aku hanya bisa membuat beliau marah dan sakit hati. Aku ingin beliau bahagia. Karena kau tahu semua ini bukan tentang rupiah. Tapi tentang baktiku kepada kedua orang tua.
Mamah, Papah. Aku janji, aku akan bertahan di sini. Sampai nanti datang waktunya aku pergi, entah untuk menuntut ilmu atau untuk pekerjaan yang lain.
Aku akan selalu membuat kalian bangga. Aku nggak akan jadi anak badung lagi, karena sekarang aku sudah bisa merasakan sendiri bagaimana susahnya mencari rejeki.
Keinginan manusia memang nggak terbatas. Tapi untuk kalian, aku rela membatasi semuanya. J
Asal senyum itu selalu terkembang, rasanya semuanya sudah nggak berarti lagi.

Bojonegoro, 01 Juni 2011   
Office.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar