Jumat, 30 Desember 2011

menulis

Menulis
Menulis saja
Tentang apapun
Tentang siapapun
Menulis saja
Agar tak beku hati ini.

Rabu, 21 Desember 2011

CATATAN HARIAN MANUSIA PENUH ATRIBUT


Kenapa, kenapa, kenapa?
Aku tak juga berhenti membandingkan diriku dengan orang lain.
Aku terlalu sibuk menilai apakah dia lebih, atau kurang, atau sama.
Aku telah baca semua teori itu, aku paham apa yang harus aku lakukan, tapi kenapa aku tidak juga bisa melepas kaca mata ini
Kaca mata sialan yang membuatku melihat semua orang lebih segala-galanya dari aku.
Aku lelah dengan diriku sendiri.
Ingin menghilang dan terlahir menjadi orang lain.
Orang yang bebas seperti dulu.
Seseorang yang merdeka.
Seseorang yang tidak pernah berpikir apa baju yang harus dipakai hari ini, gelang yang mana, jilbab yang mana, bagaimana agar terlihat sempurna, merk bedak apa, parfum yang manis, foto yang manis, senyum yang manis.
Ah!
Aku muak dengan diriku sendiri.
Kemana, kemana, kemana?
Diriku yang dulu yang tidak perduli orang lain bilang apa.
Aku rindu,rindu sekali!
Menjadi aku yang dulu.


10.12
Semarang


Selasa, 06 Desember 2011

salam perpisahan (2)


SMT ZONE, DECEMBER 2011

Zona ini adalah zona nyaman saya yang kedua setelah Pare
Zona tempat saya menemukan dan belajar banyak sekali hal baru
Sebuah spot berwarna merah membara, panas, dan berkobar
Saya menemukan gairah bekerja keras dan perjuangan untuk diperhitungkan di sini

Zona ini adalah zona perkenalan saya dengan dunia kerja
Dengan dunia pendidikan
Dengan generasi muda yang luar biasa
Zona para pencari jati diri

Keputusan untuk keluar dari zona nyaman ini bukan tanpa pertimbangan
Keputusan untuk pergi dari sini butuh keberanian yang luar biasa
Demi memenuhi kehausan akan tantangan
Demi fokus yang harus kembali ditentukan

Saat ini kita hanya percikan api
Saat ini kita hanya semilir angin
Tetesan air
atau selembar daun

Tapi dunia akan menjadi saksi kerja keras kita
Untuk lebih dari sekedar menjadi percikan api, semilir angin, tetesan air,
atau selembar daun

Dunia akan menjadi saksi lahirnya ledakan api yang besar, badai yang luar biasa, luapan air yang membuncah, dan hutan hijau yang lebat
Kita akan menjadi luar biasa
Kita harus menjadi luar biasa

Keluarbiasaan dalam kesederhanaan
Modernitas dalam kerakyatan

Selamat tinggal komunitas yang luar biasa
Selamat berjuang meraih mimpi-mimpi kita

Kita pasti bisa
 


-INAYA-

Kamis, 01 Desember 2011

epilog TRILOGISASI


Aku mengamati Dude yang sedang berkutat dengan mainan barunya. Matanya yang coklat bulat itu berbinar mengalihkan pandangannya berulang kali pada kedua mainan barunya. Hari ini adalah hari ulang tahun Dude, dan dia mendapatkan dua hadiah spesial. Tentu saja, dari dua orang yang juga sangat spesial.
Lupakan ide gila ini dan kembali padaku Sasi. LIGA
Aku membaca sekali lagi kalimat pendek yang ditulisnya dengan garis-garis yang tegas. Menghela napas sejenak, dan membaca kertas lain yang ada di tangan kananku,
“It’s almost a year, I miss you so bad sweetheart, and also our Dude, come back soon okay? DION”
Aku tersenyum. Come back soon? Aku sendiri nggak yakin apakah aku akan kembali atau tidak.
Aku mengedarkan pandanganku ke taman kota yang mulai memutih tertutup salju. Beberapa anak bermain lempar bola salju di seberang bangkuku. Dan Dude masih asik dengan dua mainan barunya. Sepertinya dia punya cara sendiri untuk merayakan ulang tahunnya yang keempat ini. Bulan depan aku harus mendaftarkan dia ke sekolah, dan aku pikir, dia sudah siap untuk itu.
Melbourne sedang dalam musim salju yang dingin. Dan tenang. Tempat terbaik untuk hidupku saat ini. Aku menerima tawaran dari sebuah NGO untuk bergabung membangun yayasan internasional yang khusus bergerak di bidang rekonstruksi wilayah pasca gempa dan tsunami. Pekerjaan yang selalu menjadi impianku sejak dulu. Membantu orang yang sedang dalam kesulitan, menjadi titik terang dan jawaban bagi mereka yang hampir putus asa menghadapi cobaan. Aku merasa hidupku sempurna. Sangat sempurna.
Dan rasa ini tidak akan pernah tertandingi bahkan jika kalian mengijinkanku memiliki keduanya, baik Dion maupun Liga. Haha... bicara apa aku ini.
Yeah, terkadang kita tidak harus memiliki sesuatu yang ketika kita memilikinya maka itu akan menimbulkan sesuatu yang buruk bagi orang lain.
Dan kita harus bersikap adil meskipun terkadang keadilan itu sendiri tidak sedang berpihak kepada kita.
Dan hidup masih harus berjalan dengan atau tanpa kita mendapatkan apa yang kita inginkan.
Dan dunia akan selalu berubah meskipun kita ingin menahannya untuk tidak berubah ketika dia memberikan kita kenyamanan yang sedikit berlebih. Karena sesuatu yang pasti tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri.

 *** 

Hai, namaku Dion, minggu lalu aku menggantikan posisi papaku sebagai presiden direktur sebuah perusahaan multinasional yang cukup ternama di Indonesia. Dulu aku selalu menganggap hidupku sempurna hanya karena aku memiliki fisik yang bagus, otak yang brilian, dan uang yang berlimpah. Tapi ternyata sekarang semua itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang membanggakan. Tidak setelah kamu merasakan sakitnya kehilangan seseorang yang benar-benar kamu sayangi sepenuh hati dan pernah mengisi semua volume baik otak maupun organ penting lain yang ada dalam tubuhmu.
Orang-orang datang dan pergi dalam kehidupanku. Ada yang berlalu begitu saja, ada yang meninggalkan cukup kenangan yang bisa mengingatkanku pada mereka, dan ada juga yang pergi dengan meninggalkan bekas yang teramat jelas. Hingga membuatku tidak akan pernah lagi menjadi orang yang sama seperti sebelumnya.
Dion Pratama ternyata hanya manusia biasa yang bisa mati juga. Dia juga bisa, secara tiba-tiba, terkubur hidup-hidup dan hampir membusuk di reruntuhan bangunan. Dan dia juga membutuhkan orang lain dalam hidupnya walaupun hanya sekedar room boy atau pembantu rumah tangga.
Dion Pratama. Seakan nama itu sekarang tidak lagi menjadi penting. Tidak lagi menjadi sesuatu yang membuatku merasa spesial jika melihat mata mereka memancarkan sorot kekaguman sekaligus rasa iri ketika diam-diam melirik ke arahku.
Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu kenapa. Mungkin sebagian dari diriku ikut pergi bersamanya. Semua “sense of superior”-ku lenyap begitu saja.
“Tamu dari Jepang sudah menunggu Pak”
Aku melirik Faisal, sekretaris baruku, yang mengingatkan schedule hari ini. Ternyata Faisal, roomboy yang menolongku saat gempa,lulusan manajemen perkantoran yang terjebak menjadi roomboy karena tuntutan ekonomi. Aku pikir dia cocok jadi sekretarisku. Karena terus terang aku sedang mati rasa dengan wanita saat ini.
Tanganku menyimpan kembali foto itu di lipatan buku agendaku. Foto Sasi yang sempat aku ambil diam-diam ketika dia menungguku sendirian di pinggir kolam renang saat aku mengajaknya ke sebuah pesta. Sebuah pesta yang membuat dia bertemu lagi dengan si bangsat Liga. Sial.
Di foto ini matanya yang dingin menerawang dan dagunya sedikit terangkat. Bibirnya yang merah  sedikit terbuka. Mengingatkanku betapa lembut dan hangat bibir itu ketika kusentuh.
Sasi. Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan pada perasaanku ini. Kamu telah pergi jauh dan membawa sebagian mimpi-mimpiku.
Mungkinkah suatu saat kita akan bertemu lagi? Dan kamu akan ada di depanku lagi, mengembalikan semua mimpi yang sudah kamu bawa pergi? Dan kamu akan tersenyum karena lelucon yang aku buat untukmu. Matamu menatap mataku dan bertanya dengan nada skeptismu yang khas itu, “Apakah kamu benar-benar malaikat pelindungku?”
Aku melirik jam tanganku sekilas. Menutup buku agendaku dan mulai berjalan ke ruang rapat. Di setiap langkahku tersimpan doa untuknya. Dimanapun dan dengan siapapun dia saat ini aku berharap dia selalu merasa bahagia. Karena dia telah memilih untuk meninggalkan malaikat pelindungnya di sini. Dia memilih untuk mencoba bahagia dengan caranya sendiri dan tidak ada orang yang berhak untuk melarangnya mencari kebahagiaan itu. Tidak juga aku.
Maka aku akan mencoba menjalani hidupku sendiri. Mungkin aku akan menemukan seseorang lain yang lebih membutuhkan malaikat pelindung, atau jika aku beruntung, suatu hari nanti dia akan datang dan kembali memelukku.
Who knows.

 ***

Pernahkah dalam hidup ini kalian merasa benar-benar seperti seorang pecundang? Aku pernah. Dan rasanya sangat tidak nyaman. Lebih tidak nyaman daripada kegagalan menyelesaikan ekspedisi pendakian manapun.
Namaku Liga. Beberapa waktu lalu aku merasa Tuhan benar-benar sedang berbaik hati padaku dengan memberikan semua yang aku inginkan. Pekerjaan yang mapan, karier yang menjanjikan, dan pacar baru yang sempurna. Tapi ternyata aku salah. 100% salah besar. Karena saat ini aku baru menyadari bahwa terlalu dini untuk merasa sempurna, dan semuanya sudah terlambat ketika kesempurnaan yang sebenarnya justru menghilang saat aku berkutat dengan kebahagiaan-kebahagiaan semu itu.
Pantaskah aku masih mengharapkan seseorang yang sudah benar-benar aku sakiti dan tinggalkan untuk menerimaku kembali? Aku bahkan tidak punya nyali untuk membayangkan jika aku ada di posisinya saat itu. Benar-benar ditinggalkan. Dilupakan.
Pernahkah satu saat dalam hidup ini kalian merasa benar-benar lemah? Ketika kalian menyadari bahwa sebenarnya kalian sendiri yang menyingkirkan kekuatan itu dan menggantinya dengan mimpi-mimpi kosong.
Pernahkah satu saat dalam hidup ini kalian merasa benar-benar menyesal dan rela melakukan apapun untuk bisa memutar balik waktu untuk memperbaiki semuanya?
Yeah, itulah yang aku rasakan sekarang. Semua energi negatif itu meyelimutiku dan membuatku semakin terpuruk di lorong gelap dan dingin di sudut hatiku.
Aku menghancurkan semuanya. Dan membuat orang yang benar-benar menyayangiku pergi dan mencari hati yang lain. Dan alih-alih membiarkannya bahagia dengan orang lain, aku malah berusaha merebutnya kembali dan menghancurkan semuanya.
100% Pecundang.
Tapi aku tidak akan membiarkan diriku tenggelam dan mati karena perasaan ini. Ketika dia memutuskan untuk pergi, aku yakin dia sedang mencari kebahagiaannya yang lain. Dan aku pun harus mulai mencari kebahagiaanku yang lain.
Aku butuh berdamai dengan diriku sendiri. Aku butuh memaafkan diriku sendiri. Memaafkan pecundang busuk ini. Ya Tuhan, ini terkadang membuatku ingin menyerah, tapi aku tentu tidak pernah mengijinkan diriku sendiriku untuk melakukannya.
Aku Liga Aditya. Aku pernah melakukan kesalahan yang cukup besar dalam hidupku tapi itu tidak akan membuatku berhenti begitu saja. Aku akan terus bergerak. Karena dunia juga terus bergerak. Aku akan kembali bersinergi dengan alam. Seperti planet-planet yang bersinergi dengan jagad raya. Aku yakin suatu saat kami akan menemukan orbit kami masing-masing. Dan apakah orbit itu akan kembali bertemu di suatu titik? Aku hanya bisa bergerak dan menunggu.

Kamis, 17 November 2011

tentang aku untuk kamu


Aku bukan matematika dengan segala rumus yang ada di dalamnya
Memahamiku tidak butuh kerumitan dan pemikiran yang mendalam
Aku cukup sederhana
Bahkan terlalu sederhana
Bukan seperti fisika atau kimia
Tak perlu perhitungan atau perkiraan ilmiah
Aku begitu terbuka
Seperti hamparan sajadah yang siap melandasi siapapun yang bersujud di atasnya
Aku tidak punya rahasia apa-apa

Jumat, 21 Oktober 2011

Untuk para pahlawan tanpa tanda jasa


Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh
Terkhusus untukmu para guru, sahabatku, para pahlawan tanpa tanda jasa
Hari ini saya menyadari, bahwa begitu buruknya mental yang terbangun di negeri ini sebenarnya bukanlah sepenuhnya salah para generasi muda.
Hari ini saya pelan-pelan mengurai benang kusut carut marut perjalanan mental mereka
Kehidupan mereka berawal dari keluarga, lalu berkembang di sekolah dan masyarakat
Sebagai seorang guru di rumah kita sendiri, sudahkah kita menanamkan kepada anak-anak kita satu pondasi bernama kejujuran? Sudahkah kita contohkan indahnya berkata sesuai kenyataan? Mampukah kita menjadi teladan yang nyata bagi mereka?
Pernahkah kita mengajarkan konsep bertanggung jawab? Dengan tidak menyalahkan batu atau lantai ketika mereka baru belajar berjalan dan terjatuh? Pernahkah kita mengajarkan untuk berani mengatakan “anakku, bukan batu yang salah, tapi kamu yang kurang berhati-hati”?
Pernahkah? mengajari mereka untuk tidak mencari kambing hitam untuk sesuatu yang memang harus kita pertanggungjawabkan?


Senin, 03 Oktober 2011

my students' activities



Anak2 mencoba membuat barang ekonomi dari barang-barang bekas, lalu mempresentasikan apa, bagaimana dan uintuk siapa barang itu dibuat (masalah pokok ekonomi modern)... Ada yang membuat kincir angin dari tempat air mineral gelas, tas dari bungkus snack, gantungan kunci dari kaleng soft drink, and many more,nice.. ^^






Anak-anak kelas XI IPS yang sedang mencoba moving class,, beberapa dari mereka menjadi tutor sebaya untuk teman-teman yang lain : )






Rabu, 21 September 2011


Tentang Permintaan, Penawaran, dan Pendidikan

Setelah sekian lama bermimpi bisa sekolah lagi, akhirnya hari ini saya kembali merasakan duduk di bangku kuliah. Kembali terpesona dengan mereka, guru-guru besar yang selalu saya kagumi kedalaman makna tiap detail perkataannya. Dari setiap kata yang mereka ucapkan tersirat berbagai macam ilmu pengetahuan yang siap saya serap semampu otak saya bekerja. Bukan hanya ilmu ekonomi saja, tapi tak jarang mereka juga banyak menyatakan teori-teori mereka tentang kehidupan.
Hari ini saya sadar bahwa sebenarnya saya telah melakukan kesalahan yang teramat mendasar saat saya menyampaikan materi mengenai hukum permintaan dan penawaran. Bahwa permintaan dan penawaran adalah bukan hanya hubungan antara harga dan jumlah barang yang diminta atau ditawarkan, tapi ternyata ada satu aspek yang selama ini saya lupakan dan ternyata adalah kunci dari semua pertanyaan yang masih membuat saya meragukan hukum permintaan dan penawaran itu sendiri. Aspek tersebut adalah “ceteris paribus”. Bahwa kedua hukum itu hanya akan berlaku jika “aspek-aspek lain yang mempengaruhinya, selain harga, tetap atau tidak mengalami perubahan”.
Asumsi inilah yang selama ini saya lupakan sehingga pondasi keilmuan saya mengenai hukum permintaan dan penawaran selama ini lemah. Saya selalu bertanya-tanya, bahkan sempat bertanya pada seorang doktor pada satu kesempatan, karena pada kenyataannya terkadang meskipun harga naik, permintaan justru juga ikut naik. Dana sebaliknya, ketika harga turun, permintaan juga tidak langsung serta merta melonjak naik.
Pada waktu itu sang doktor menjawab bahwa ketika kita bicara mengenai teori, secara otomatis kita akan dihadapkan pada asumsi. Semuanya tidak lepas dari asumsi. Dan itu pula yang terjadi pada hukum permintaan dan penawaran. Selalu ada syarat dimana kedua teori itu bisa terjadi. Dan saya, pada waktu itu, mungkin terlalu bodoh untuk memahami bahwa yang dimaksud sang doktor secara sederhana tidak lain adalah si “ceteris paribus” itu sendiri.
Hukum permintaan tidak akan berlaku jika memang selera konsumen, atau pendapatannya, atau hal lain yang mempengaruhi permintaan ada yang berubah. Satu saja dari mereka berubah, hukum ini menjadi tidak berlaku lagi.
Demikian pula dengan hukum penawaran. Apabila biaya produksi, atau teknologi, atau hal-hal lain yang mempengaruhi penawaran berubah, meskipun hanya satu diantaranya, maka hukum ini tidak akan berlaku lagi.
Itulah sebabnya, pada saat lebaran, baju-baju terjual lebih banyak dari biasanya padahal harganya relatif lebih mahal dari hari biasa dan modelnya juga justru mengalami penurunan. Biaya kuliah S2 yang semakin mahal juga tidak menjadikan peminatnya berkurang karena memang saat ini pendidikan menjadi tuntutan dalam dunia kerja. yah, itulah kuncinya, ceteris paribus! Hal-hal lain selain harga barang itu sendiri harus tetap, baru hukum permintaan dan penawaran berlaku.
Terima kasih setulusnya saya ucapkan kepada Prof. Dr. Eko Prasetyo yang telah menyadarkan saya tentang pentingnya pemahaman materi secara total di hari pertama saya masuk kuliah.
Kuliah kedua saya bicara mengenai pembelajaran akuntansi keuangan, namun sebagai pendahuluan kami banyak bicara tentang fokus pendidikan nasional kita yang sebenarnya. Sang guru besar membuka mata kami bahwa sebenarnya fokus pendidikan yang dicita-citakan Undang-Undang kita, yang pertama adalah bukan tingkat kecerdasan anak didik kita. Tapi ternyata yang menduduki peringkat pertama adalah justru kekuatan spritual keagamaan disusul dengan pengendalian diri, kepribadian, dan baru ‘kecerdasan’, setelah itu diikuti oleh akhlak mulia dan baru ‘ketrampilan’.
Wew, saya menahan nafas. Ternyata kecerdasan justru ada di peringkat keempat. Apalagi ketrampilan, justru menjadi si juru kunci. Ternyata pedoman saya selama ini benar-benar menyesatkan. Saya selalu berpikir bahwa ketrampilan adalah bukti nyata keberhasilan saya mengajar di kelas, tapi ternyata bukan. Pertanyaannya adalah bagaimana untuk menerapkannya di tengah euforia perlombaan nilai yang memang masih menjadi ukuran keberhasilan pendidikan di negeri ini?
Ah, saya ingin bertanya sebenarnya, dan saya menyesal kenapa saya tidak jadi bertanya saat itu karena terlalu berpikir dengan sudut pandang orang lain yang mengkerdilkan naluri ingin tahu saya. Saya sangat tertarik dengan fakta yang ternyata sejalan dengan pemikiran saya selama ini. Saya selalu bermimpi pendidikan di Indonesia ini bukan sekedar tentang angka-angka yang tercantum di atas kertas itu melainkan pendidikan adalah suatu proses perubahan tingkah laku dan sudut pandang seseorang. Saya benar-benar ingin tahu bagaimana cara yang paling efektif untuk segera menempatkan fokus pendidikan kita pada porsi yang sebenarnya.
Terima kasih pula saya haturkan kepada Prof. Dr. Achmad Slamet yang telah membari saya pengetahuan yang benar-benar baru dengan segala pengetahuan beliau mengenai Permendiknas dan Undang-Undang Sistem Pendidikan. Sangat mengagumkan.
Namun hari ini saya masih harus menahan rasa penasaran karena sang doktor untuk mata kuliah bahasa Inggris belum bisa hadir untuk membagi ilmunya kepada kami. Tapi itu tidak menjadi masalah,semua ilmu yang saya serap hari ini begitu mengeyangkan. Kehausan saya untuk belajar setengah terobati apalagi didukung dengan teman-teman yang penuh semangat dan saling mendukung.
Dan akhirnya di ujung hari ini saya hanya bisa mengucap syukur kepada Tuhan saya yang Maha Mendengar setiap doa dan mimpi-mimpi hamba-Nya. Berharap saya masih punya kesadaran dan rasa malu, agar saya tidak lupa untuk selalu mengucap syukur atas semua nikmat yang Tuhan saya limpah ruahkan dalam kehidupan saya yang sederhana.
Alhamdulillahirobbil’alamin...
21 September 2011
22:55
Tempat transit Semarang-Bojonegoro

Jumat, 02 September 2011

JANGAN JADI BANCI!!!

Dari dulu saya ingin menulis sebuah buku berjudul ‘Jangan jadi Banci!’
Karena semakin lama semakin banyak  saya temui orang-orang berubah menjadi banci
Lembek
Suka mencari-cari alasan atas kesalahan yang mereka buat
Mencari pembenaran dengan berbagai logika yang dibuat-buat
Menyalahkan siapa pun yang bisa disalahkan asal bukan dia
Menunjukkan kelemahan untuk mendapatkan simpati orang-orang
Menjijikkan
Tunggu saja, ini akan menjadi salah satu buku aliran garis keras
Jangan jadi banci!
Dan orang-orang akan tersindir membacanya
Akan banyak yang mengecam dan mengancam mencekalnya
Terutama dari kaum para banci yang tidak paham makna banci yang dimaksud dalam buku itu sebenarnya
Mereka akan berteriak lantang menolak launching bukunya tanpa mau repot-repot membaca
Padahal mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemikiran saya
Jangan jadi banci!
Dan saya akan mulai diguncingkan disana-sini
Memecah masyarakat menjadi dua golongan, pro dan kontra
Keren sekali!!
Lalu kenapa melihat prospek yang begitu luar biasa itu saya belum juga menulis buku ini?
Padahal ide itu sudah mengendap sekian tahun dalam otak saya yang terbatas?
Pada awalnya saya tidak tahu jawabannya
Kemudian mulai mengkambinghitamkan waktu dan menyalahkan keadaan
Hingga kemudian saya pelan-pelan saya tersadar
Saya pun juga masih banci!
Manusia penuh keluhan dan caci maki kepada Tuhan
Manusia yang lebih sering bertanya:
“Kenapa Kau timpakan cobaan ini kepadaku, Tuhan?”
“Apa salahku?”
“Bukankah selama ini aku selalu menyembahMu?”
Dan ribuan pertanyaan menjijikkan lainnya
Manusia yang suka memperlihatkan penderitaannya
Tanpa sadar bahwa ribuan orang jauh menderita dan mereka menyimpannya rapat-rapat tanpa celah untuk dibelaskasihani
Manusia yang membangga-banggakan kisah heroiknya
Padahal kisah-kisah itu adalah hasil permakan dan ceritanya pun cemen belaka
Hei,hei, saya pun juga masih menjadi seorang banci!
Menjijikkan!
Bahkan lebih menjijikkan dengan ‘banci’ yang berkeliaran di trotoar malam-malam
Berani-beraninya saya punya mimpi menulis buku itu?
Dari mana sumber kekuatan dari buku itu jika dasarnya hanyalah teori dan logika kosong belaka?
Bukankah akan menjadi sesuatu yang konyol jika nanti beberapa waktu setelah penerbitannya akan tertulis dalam satu headline media massa, “Ada Banci Bilang Banci!”
Komedi macam apa yang ingin saya suguhkan pada masyarakat?
Lelucon apa lagi yang ingin saya buat di tengah kehidupan kita yang terkadang kita harus tersenyum dengan alasan ingin tersenyum saja
Atau dengan alasan agar tidak lupa bagaimana caranya tersenyum!
Karena memang kenyataannya sudah tidak ada lagi yang bisa membuat kita tersenyum!
Apa yang mau disenyumi??
Kelaparan yang mereka rasakan tiap hari??
Bayi-bayi yang dibuang di selokan, dimasukkan kardus, di tempat sampah, dimakan anjing??
Atau anak-anak muda yang semakin lupa bahwa sejatinya mereka berbeda dengan binatang yang bisa dengan mudahnya intercourse di tengah jalan??
Apalagi yang pantas disenyumi di negeri ini??
Katakan padaku!
Dan jawabannya tidak akan jauh-jauh dari lelucon ironi
Kami tersenyum melihat para koruptor bebas melenggang dari tuntutan
Kami tersenyum melihat para kiai berbuat nista
Kami tersenyum sambil menghitung detik-detik kematian bangsa kita
Dan kami tertawa terbahak-bahak melihat anda bicara tentang banci dan sisi-sisi kebancian kami sedangkan anda sendiri adalah seorang banci sejati!!
Saya, belum sanggup menerima hujatan itu
Belum siap mental!
Karena mentalnya pun ternyata masih mental banci!
Ya Tuhan,,,
Lelucon macam apa lagi ini.
Maka dengan sangat menyesal saya putuskan untuk menunda penulisan buku ini
Saya tunda sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan
Saya putuskan dengan perasaan malu yang luar biasa
Tapi saya bersyukur, bahwa ternyata, untuk malu saya masih punya
Alhamdulillah.
Bagi para pembaca yang budiman,
Tunggulah saja dulu,
Bersabarlah.
Karena buku ini tetap masih jadi mimpi saya
Dan saya adalah tipe orang yang memperjuangkan mimpinya
Suatu hari nanti saya berikan jaminan seratus persen, buku ini akan tersedia di toko-toko buku terdekat anda
Tunggu saja!!!


06.13
01 09 11

Selasa, 09 Agustus 2011


REFLEKSI TIGA BULAN BELAJAR BEKERJA 
Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kepada sang  arsitek kehidupan yang sudah mendesain kehidupan saya dengan sangat indahnya, memberikan ujian yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, menciptakan cerita yang kait mengkait penuh misteri dan membuat saya masih sangat penasaran untuk menjalani kehidupan saya yang penuh kejutan ini.

Kemarin saya menerima gaji ketiga saya, itu artinya kurang lebih saya sudah masuk ke dunia saya yang baru ini selama tiga bulan. Tiga bulan, waktu yang sangat singkat untuk sebuah pengalaman kerja. Tapi tiga bulan bagi saya, merupakan waktu yang luar biasa untuk mengetahui dan mencoba menyerap ilmu yang ternyata memang berterbaran dimana-mana termasuk di dunia kerja.

Jika saya mencoba menarik  garis waktu ke arah tiga bulan yang lalu, dimana saya meninggalkan Pare sebagai tempat tidur saya yang nyaman dan hangat dan mencoba memberanikan diri memasuki dunia yang baru, saya melihat diri saya yang masih sangat hijau, duduk diam di balik meja menunggu perintah dari atasan.
Saya masih sangat ingat bagaimana sakit hatinya saya saat pertama kali bos menyuruh saya membuat kopi. Saya merasa hal itu tidak sepatutnya saya lakukan, karena pekerjaan membuat kopi adalah pekerjaan seorang OB dan saya dibayar di situ bukan untuk itu. Saat itu saya merasa dipandang sebelah mata. Seorang mahasiswa, lulusan cum laude, masuk kerja hanya untuk membuat kopi?? Apakah saya ini sudah masuk dalam deretan pengangguran terselubung, yaitu mereka yang bekerja dibawah kemampuan intelektualnya? Namun lama kelamaan saya mulai terbiasa dengan hal itu. Dan di suatu hari saya sadar, bahwa seharusnya saya berucap:

Terima kasih pekerjaanku, kamu mengajariku dengan sangat lembut, bagaimana untuk tidak terlalu tinggi menilai diri sendiri.

Saya masih ingat bagaimana saya belajar mencoba melayani para orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya untuk sekolah. Bagaimana cerita-cerita mereka dalam memperjuangkan impian anaknya. Bagaimana perjuangan mereka membuat anak mereka bahagia. Hingga saya tersadar, perjuangan orang tua, semua kerja keras mereka, peluh dan lelah mereka, sepenuhnya mereka persembahkan bagi anak tercinta, yang terkadang, seperti juga saya, belum menyadari arti dari kata ‘pengorbanan’.

Terima kasih pekerjaanku, kamu menegurku dengan sangat bijaksana, bagaimana menghargai dan menghormati kedua orang tua.

Masih terbayang dalam ingatan saya, dan yang ini tidak mungkin saya lupakan, hari dimana saya menerima gaji pertama saya.
Terima kasih pekerjaanku, kamu membuatku merasakan nikmatnya merasakan buah dari suatu kerja keras dan proses adaptasi yang melelahkan.
Terima kasih gaji pertamaku, dalam tiap rupiahmu kutiupkan rasa syukur atas pemahaman bahwa terkadang sesuatu memang tak hanya bisa diukur lewat nominalnya.

Memasuki bulan kedua, saya mulai memahami job description, mulai terbiasa dengan segala macam urusan administrasi. Mulai mengenal teman-teman dengan lebih dekat. Mulai menikmati percakapan di ruang kantor.
Terima kasih pekerjaanku, kamu memberiku kemampuan adaptasi yang mumpuni dan rasa memiliki satu sama lain.

Sementara itu di asrama, saya mulai belajar memahami karakter anak, mencoba mengikuti alur berpikir mereka yang terkadang frontal, mencoba mengerti, mendengar, dan menjadi teman sekaligus ibu yang bisa merangkul semua karakter.
Terima kasih pekerjaanku, kau memaksaku belajar lebih dewasa.

Di bulan ketiga ini, bulan yang penuh dengan kejutan-kejutan baru dan berbagai macam peristiwa yang mengaduk-aduk emosi, saya belajar bagaimana memanajemen emosi.
Mulai dari konflik asrama karena kepentingan berbagai pihak yang saling bertentangan, konflik di kantor karena terlalu membawa-bawa urusan pribadi dalam pekerjaan, hingga yang paling gress, sindrom broken heart yang berdarah-darah.
Tapi aneh bin ajaib, ternyata di atas semua konflik, cobaan dan kesedihan yang bertubi-tubi datang menguji mental saya, ada satu hal yang pelan-pelan saya sadari. Bahwa ternyata ada satu hal yang membuat saya bisa bertahan menjalani semua ini.

Anak-anak saya di asrama dan murid-murid saya di kelas.

Pelan-pelan saya menyadari, bahwa mereka bukan lagi menjadi murid ataupun member saya di asrama. Tapi mereka sudah menjadi saudara, adik, dan teman baik dalam kehidupan saya.Sesedih apapun saya, semarah apapun saya, ketika bertemu mereka, semua rasa itu mendadak hilang.
Anak-anak memberi kekuatan yang ajaib dalam hidup saya. Celoteh mereka, curhat mereka,kebandelan mereka, gaya protes mereka hingga sifat manja dan ingin selalu diperhatikannya membuat saya dipaksa untuk selalu tersenyum dan berkata “All is well,sista..”
Kelabilan mereka memaksa saya menata hati untuk lebih dewasa, rasa sedih mereka memberi saya kekuatan untuk bisa menguatkan, senyum mereka mengobati luka hati saya.

Terima kasih pekerjaanku, kamu memberikanku anak-anak yang sangat luar biasa, obat dari segala sakit yang mendera, semacam ramuan ajaib penguat karakter dan mental. Luar biasa.
Tiga bulanku yang sangat luar biasa.

Terima kasih ya Allah, Kau berikan kesempatan padaku untuk berada di sini dan menikmati semua pelajaran darimu yang sangat tidak menggurui. Kau tunjukkan padaku bagaimana menjadi kuat tanpa harus melemahkan orang lain. Kau beri jalan untuk selalu tersenyum meskipun sedih mendera-dera. Kau kirimkan bala bantuan yang luar biasa untuk setiap rintangan yang menghadang.


"Ya Tuhan kami, karuniakanlah kesabaran ke atas diri kami, dan tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami di atas menghadapi orang-orang kafir (Q.S. Al Baqarah : 250)

Minggu, 07 Agustus 2011


Allah,
Engkau tunjukkan kebenaran itu dengan begitu lugasnya
Kau jawab doa-doaku dengan begitu sederhana
Hingga aku hampir tak percaya
Karena semua itu terjadi dengan begitu cepatnya

Allah,
Sungguh Engkau Maha Mendengar
Setiap keluh kesah yang aku adukan
Setiap kata tentang mimpi dan cita-cita yang aku sampaikan
Tak satu pun luput dari perhatian-Mu

Allah,
Tamparlah aku jika memang itu bisa menyadarkan jiwaku yang tidur
Tegurlah aku jika memang aku tersesat jalan
Buatlah aku menangis jika memang itu adalah tabungan untuk senyumku di masa depan

Allah,
Seberat apapun kenyataan yang telah Engkau tunjukkan
Seperih apapun rasa yang menyesak
Syukur kupanjatkan kepada-Mu ya Rabb
Kau selamatkan aku
Kau melindungiku
Kau mengasihiku

Subhanallah,
Peluklah hatiku agar tak terlepas dari mengingat-Mu
Karena aku tahu,
Meski semua orang di dunia ini berpaling dariku,
Engkau akan tetap selalu ada
Mendengarku
Menjagaku

Terima kasih Rabb,
Tuhanku yang tak pernah tertidur.
Yang maha mengetahui apa yang tersembunyi di balik hati yang keji

Senin, 25 Juli 2011


MEMO

Kepada : IMPIAN SAYA
Sifat        : SANGAT PENTING

Saya masih mencoba untuk mencari celah dari segala macam rutinitas busuk yang telah membelenggu saya akhir-akhir ini hingga bahkan tidak punya waktu untuk diri sendiri.
Padahal saya sedang ingin menulis mengenai murid-murid saya, mengenai pelajaran yang justru saya dapat dari mereka. Saya ingin menulis tentang konsep perkembangan diri yang sedang saya hadapi saat ini, ingin menulis hal-hal yang sebenarnya sepele tapi membuat saya berpikir lebih, tentang pengendalian emosi dan definisi kedewasaan atau menejemen resiko.
Banyak sekali yang ada di kepala ini. Tapi semuanya menguap begitu saja karena rutinitas yang tak ada akhirnya ini. 
Saya bukannya mengkambinghitamkan pekerjaan yang sudah menyita waktu untuk perkembangan tulisan saya yang tak juga berkembang ini. Tapi saya hanya membutuhkan strategi untuk mengatur waktunya. Dan sambil menunggu penemuan dan penyusunan strategi yang saya butuhkan itu, saya mencoba untuk menulis seadanya. Dan apa adanya.
Office, July 26, 2011  
09:29

Sabtu, 02 Juli 2011


KETIKA IDEALISME DIPERTANYAKAN

Hari ini saya awali dengan membaca buku yang beberapa hari yang lalu dikirimkan seorang teman yang sangat baik hati kepadaku. Buku kecil itu menceritakan tentang kisah-kisah anak yang tidak diperlakukan sewajarnya oleh orang tuanya. Saat aku membaca di halaman-halaman pertama, aku menduga si penulis ini adalah seorang yang amat sangat sensitif, karena dia menggambarkan permasalahan yang menurut saya biasa saja dengan sangat emosional dan berdarah-darah.
Tetapi ketika saya membaca lebih lanjut saya menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak terlintas begitu jelas dalam pemikiran saya. Setelah melewati beberapa kisah selanjutnya saya jadi berpikir dua kali, sepertinya si penulis ini bukan orang yang terlalu sensitif seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Si penulis ini Cuma terlalu cinta dan total dengan bidangnya. Yaitu anak-anak. Jadi segala hal, sekecil apapun, yang mengusik anak-anak akan menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar baginya. Dia pergi ke beberapa penjuru dunia untuk mendapatkan data tentang harapan anak-anak terhadap orang tuanya. Subhanallah.
Dalam hidup ini tidak banyak orang-orang yang memiliki idealisme yang tinggi dan mampu mempertahankannya sampai mati. Karena meskipun idealisme itu memang indah, dia banyak menimbulkan ujian yang tidak mudah. Ketika layang-layang bergerak melawan arah angin, tentu saja kita memerlukan tenaga yang lebih kuat untuk mengendalikannya terbang di angkasa. Lain halnya jika layang-layang itu putus, tidak ada tenaga yang terkuras, tapi sebagai gantinya, layang-layang itu terombang-ambing mengikuti angin sampai akhirnya tersangkut di tiang listrik begitu saja.
Banyak orang bicara tentang idealisme yang begitu indah. Tapi seketika mulutnya terkunci ketika sudah dihadapkan dengan orang tua yang sudah renta. Apakah anda akan tetap pergi mengajar ke pedalaman ketika ibu anda yang lemah jantung kembali anfal hanya karena mendengar rencana anda itu?
Apakah anda akan tetap pergi keliling dunia jika ayah anda yang biasanya tegar menjulang menangis lemah dalam sujud solatnya?
Apakah hati nurani anda sebagai seorang anak akan sanggup memilih idealisme yang indah itu daripada kedua orang tua yang rapuh? Sedangkan kedua orang tua itu tetap keukeuh dengan teori kehidupannya yang konvensional dan nggak neko-neko?
Kemana arah perubahan jika selalu bertentangan dengan restu orang tua? Atau haruskah kita menjadi anak yang durhaka dengan meninggalkan mereka?
Apalagi sebagai seorang wanita Jawa dengan segala saru siku yang menyiksa.
Akhirnya saya menyimpulkan, bahwa saya terlalu lemah untuk menjadi diri saya sendiri.
Terpukul dan merasa sebagai pecundang. Selalu itu yang saya rasakan ketika saya melihat teman-teman saya berjuang meraih impian mereka sedangkan saya hanya meringkuk di balik jeruji adat dan saru siku yang tidak mengijinkan saya melangkah satu inchi pun dari rumah dan kantor saya.
Ada semacam rasa ingin memberontak, tapi itu selalu saja saya kubur hidup-hidup ketika melihat senyum manis ibu dan bapak saya yang begitu bangga anaknya sudah mampu bekerja dan bisa menjadi anak baik di rumah.
Kemana jiwa pembaharuan yang selama ini saya bangun di istana impian saya? Semuanya runtuh tak bersisa ketika saya memasuki bangunan yang bernama rumah orang tua ini.
Ketika anda dihadapkan pada persimpangan kebahagiaan dan kesehatan orang tua dengan bangunan mimpi-mimpi anda yang indah, jalan manakah yang akan anda tempuh?
Maka sekali lagi saya simpulkan, saya terlalu lemah dengan segala atribut yang menempel dalam diri saya. Ketika saya bertanya kepada diri saya sendiri mau dibawa kemana mimpi-mimpi kita selama ini? Mulut hati saya hanya bisa terpekur tak bersuara.
Perbatasan cepu-bojonegoro
30 Juni 2011
11:09

Senin, 20 Juni 2011

It's 'just' a Love 


When I remembered him i felt pain in whole of my body. I remembered the way he made me laugh and cry.
When I remembered the time we had together, I felt something wrong in my stomach.
When I realized he's far away, in the dreamland and untouchable, I felt something's pounding in my head.
Then I saw at my Mom, looked at her white hair and her smile, then I said :
"It's just a love, Nay. It's nothing than your precious Mom"


Jumat, 17 Juni 2011

The Beloved Parents

Akhirnya waktu pengumuman datang juga. Hari itu setelah lembur hingga larut malam kami berhasil meng-upload pengumuman kelulusan tes masuk ke sekolah kami. Keesokan harinya, kami tidak menduga, ada berbagai macam reaksi yang kami terima. Mulai dari sms berisi umpatan kepada ketua panitia yang anaknya gagal masuk hingga sekresek gorengan dari seorang ibu tanda terima kasih anaknya bisa masuk sekolah kami.
Ya, ya, ya.., Orang tua. Apapun mereka lakukan demi cita-cita sang buah hati. Diam-diam saya memaklumi apapun yang mereka lakukan meskipun itu diluar batas kewajaran. Ya Tuhan, entah kenapa saya baru menyadarinya sekarang. Bahwa setiap orang tua di dunia ini pada dasarnya adalah sama. Mereka melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya.
Pada suatu siang di hari pertama daftar ulang. Seorang ibu diikuti anak laki-lakinya tergopoh-gopoh memasuki sekretariat panitia dan menyalami saya. Genggaman tangannya yang dingin terasa mantap walau sedikit gemetar. Saya dapat merasakan luapan kegembiraan dari pancaran matanya. Kalimatnya masih saya ingat “Alhamdulillah lulus mbak, terima kasih doanya”
Akhirnya saya teringat. ibu itu adalah yang tempo dulu datang dengan mata berkaca-kaca, memberanikan diri bertanya, apakah bisa anaknya daftar di sekolah kami sedangkan nilai rapornya kurang 0,4 dari yang kami persyaratkan. Dan hari ini beliau datang, sangat berbeda dengan sebelumnya. Langkahnya mantap dan senyumnya mengembang. Bahagia, bukan karena beliau mendapatkan sesuatu untuk dirinya. Tapi karena anaknya berhasil mendapatkan apa yang dia cita-citakan. Orang tua.
Pengorbanan mereka, tangis dan tawa mereka, perjuangan dan bahkan kecurangan pun akan mereka lakukan untuk sekedar memenuhi keinginan kita. Anaknya.
Dalam hati saya bergetar.Kemana saja kesadaran saya selama ini. Kenapa baru sekarang saya bisa menyadari hal ini? Darimana segala keegoisan itu saya bangun? Bahwa saya bisa hidup sendiri tanpa orang tua? Itu semua bullshit! Kita tidak bisa berkata bahwa kita sudah dewasa dan mampu mengatur hidup kita sendiri, seberapapun tuanya kita. Karena mereka adalah orang tua kita. Mereka memiliki kita. Tentu saja mereka berhak melakukan apapun kepada kita. Karena selama ini merekalah yang merawat dan bertanggung jawab terhadap kita. Kita adalah nafas mereka, kita adalah semangat mereka. Lalu apa yang membuat kita sangat sombong untuk tidak lagi mendengar nasehat mereka?
Astagfirullahaladzim... Ampunilah hamba-Mu yang bodoh ini Tuhan.
Engkau berikan dua malaikat yang mendampingi kami dalam bentuk yang nyata. Dua malaikat tempat kami berlindung, berkeluh kesah, mengadu. Dua malaikat yang bisa kami peluk dan cium dan tidak kami ragukan sama sekali kecintaan dan kesetiaan mereka terhadap kami. Tapi masih saja kami sempat menghardik mereka, berbicara kasar terhadap mereka!
Dan saya masih tergugu dalam penyesalan sekaligus rasa syukur saya. Bahwa Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menyadari kesalahan saya selama ini. Bahwa Tuhan memberikan pekerjaan yang membuat mata saya terbuka tentang perjuangan orang tua yang sebenarnya. Terucap do’a tulus dalam hati kecil yang penuh noda ini, “Lindungi mereka Tuhan, bahagiakan mereka, sunggingkan senyum di bibir mereka, karena hal itu ternyata adalah hal terindah di dunia bagi saya saat ini. Amin.”

Bojonegoro
22.11
13th June 2011