Aku mengamati Dude yang sedang berkutat
dengan mainan barunya. Matanya yang coklat bulat itu berbinar mengalihkan
pandangannya berulang kali pada kedua mainan barunya. Hari ini adalah hari
ulang tahun Dude, dan dia mendapatkan dua hadiah spesial. Tentu saja, dari dua
orang yang juga sangat spesial.
“Lupakan
ide gila ini dan kembali padaku Sasi. LIGA”
Aku membaca sekali lagi kalimat pendek yang
ditulisnya dengan garis-garis yang tegas. Menghela napas sejenak, dan membaca
kertas lain yang ada di tangan kananku,
“It’s almost a year, I miss you so bad
sweetheart, and also our Dude, come back soon okay? DION”
Aku tersenyum. Come back soon? Aku sendiri nggak yakin apakah aku akan kembali
atau tidak.
Aku mengedarkan pandanganku ke taman kota
yang mulai memutih tertutup salju. Beberapa anak bermain lempar bola salju di
seberang bangkuku. Dan Dude masih asik dengan dua mainan barunya. Sepertinya
dia punya cara sendiri untuk merayakan ulang tahunnya yang keempat ini. Bulan
depan aku harus mendaftarkan dia ke sekolah, dan aku pikir, dia sudah siap
untuk itu.
Melbourne sedang dalam musim salju yang
dingin. Dan tenang. Tempat terbaik untuk hidupku saat ini. Aku menerima tawaran
dari sebuah NGO untuk bergabung membangun yayasan internasional yang khusus
bergerak di bidang rekonstruksi wilayah pasca gempa dan tsunami. Pekerjaan yang
selalu menjadi impianku sejak dulu. Membantu orang yang sedang dalam kesulitan,
menjadi titik terang dan jawaban bagi mereka yang hampir putus asa menghadapi
cobaan. Aku merasa hidupku sempurna. Sangat sempurna.
Dan rasa ini tidak akan pernah tertandingi
bahkan jika kalian mengijinkanku memiliki keduanya, baik Dion maupun Liga.
Haha... bicara apa aku ini.
Yeah, terkadang kita tidak harus memiliki
sesuatu yang ketika kita memilikinya maka itu akan menimbulkan sesuatu yang
buruk bagi orang lain.
Dan kita harus bersikap adil meskipun
terkadang keadilan itu sendiri tidak sedang berpihak kepada kita.
Dan hidup masih harus berjalan dengan atau
tanpa kita mendapatkan apa yang kita inginkan.
Dan dunia akan selalu berubah meskipun kita
ingin menahannya untuk tidak berubah ketika dia memberikan kita kenyamanan yang
sedikit berlebih. Karena sesuatu yang pasti tidak pernah berubah adalah
perubahan itu sendiri.
***
Hai, namaku Dion, minggu lalu aku
menggantikan posisi papaku sebagai presiden direktur sebuah perusahaan
multinasional yang cukup ternama di Indonesia. Dulu aku selalu menganggap
hidupku sempurna hanya karena aku memiliki fisik yang bagus, otak yang brilian,
dan uang yang berlimpah. Tapi ternyata sekarang semua itu tidak lagi terasa
seperti sesuatu yang membanggakan. Tidak setelah kamu merasakan sakitnya
kehilangan seseorang yang benar-benar kamu sayangi sepenuh hati dan pernah
mengisi semua volume baik otak maupun organ penting lain yang ada dalam
tubuhmu.
Orang-orang datang dan pergi dalam kehidupanku.
Ada yang berlalu begitu saja, ada yang meninggalkan cukup kenangan yang bisa
mengingatkanku pada mereka, dan ada juga yang pergi dengan meninggalkan bekas
yang teramat jelas. Hingga membuatku tidak akan pernah lagi menjadi orang yang
sama seperti sebelumnya.
Dion Pratama ternyata hanya manusia
biasa yang bisa mati juga. Dia juga bisa, secara tiba-tiba, terkubur
hidup-hidup dan hampir membusuk di reruntuhan bangunan. Dan dia juga
membutuhkan orang lain dalam hidupnya walaupun hanya sekedar room boy atau pembantu rumah tangga.
Dion Pratama. Seakan nama itu sekarang
tidak lagi menjadi penting. Tidak lagi menjadi sesuatu yang membuatku merasa spesial
jika melihat mata mereka memancarkan sorot kekaguman sekaligus rasa iri ketika
diam-diam melirik ke arahku.
Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu
kenapa. Mungkin sebagian dari diriku ikut pergi bersamanya. Semua “sense of
superior”-ku lenyap begitu saja.
“Tamu dari Jepang sudah menunggu Pak”
Aku melirik Faisal, sekretaris baruku,
yang mengingatkan schedule hari ini. Ternyata Faisal, roomboy yang menolongku saat gempa,lulusan manajemen perkantoran
yang terjebak menjadi roomboy karena
tuntutan ekonomi. Aku pikir dia cocok jadi sekretarisku. Karena terus terang
aku sedang mati rasa dengan wanita saat ini.
Tanganku menyimpan kembali foto itu di
lipatan buku agendaku. Foto Sasi yang sempat aku ambil diam-diam ketika dia
menungguku sendirian di pinggir kolam renang saat aku mengajaknya ke sebuah
pesta. Sebuah pesta yang membuat dia bertemu lagi dengan si bangsat Liga. Sial.
Di foto ini matanya yang dingin
menerawang dan dagunya sedikit terangkat. Bibirnya yang merah sedikit terbuka. Mengingatkanku betapa lembut
dan hangat bibir itu ketika kusentuh.
Sasi. Aku nggak tahu apa yang harus aku
lakukan pada perasaanku ini. Kamu telah pergi jauh dan membawa sebagian
mimpi-mimpiku.
Mungkinkah suatu saat kita akan bertemu
lagi? Dan kamu akan ada di depanku lagi, mengembalikan semua mimpi yang sudah
kamu bawa pergi? Dan kamu akan tersenyum karena lelucon yang aku buat untukmu.
Matamu menatap mataku dan bertanya dengan nada skeptismu yang khas itu, “Apakah
kamu benar-benar malaikat pelindungku?”
Aku melirik jam tanganku sekilas.
Menutup buku agendaku dan mulai berjalan ke ruang rapat. Di setiap langkahku
tersimpan doa untuknya. Dimanapun dan dengan siapapun dia saat ini aku berharap
dia selalu merasa bahagia. Karena dia telah memilih untuk meninggalkan malaikat
pelindungnya di sini. Dia memilih untuk mencoba bahagia dengan caranya sendiri
dan tidak ada orang yang berhak untuk melarangnya mencari kebahagiaan itu.
Tidak juga aku.
Maka aku akan mencoba menjalani hidupku
sendiri. Mungkin aku akan menemukan seseorang lain yang lebih membutuhkan
malaikat pelindung, atau jika aku beruntung, suatu hari nanti dia akan datang
dan kembali memelukku.
Who
knows.
***
Pernahkah dalam hidup ini kalian merasa benar-benar seperti seorang
pecundang? Aku pernah. Dan rasanya sangat tidak nyaman. Lebih tidak nyaman
daripada kegagalan menyelesaikan ekspedisi pendakian manapun.
Namaku Liga. Beberapa waktu lalu aku merasa Tuhan benar-benar sedang
berbaik hati padaku dengan memberikan semua yang aku inginkan. Pekerjaan yang
mapan, karier yang menjanjikan, dan pacar baru yang sempurna. Tapi ternyata aku
salah. 100% salah besar. Karena saat ini aku baru menyadari bahwa terlalu dini
untuk merasa sempurna, dan semuanya sudah terlambat ketika kesempurnaan yang
sebenarnya justru menghilang saat aku berkutat dengan kebahagiaan-kebahagiaan
semu itu.
Pantaskah aku masih mengharapkan seseorang yang sudah benar-benar aku
sakiti dan tinggalkan untuk menerimaku kembali? Aku bahkan tidak punya nyali
untuk membayangkan jika aku ada di posisinya saat itu. Benar-benar
ditinggalkan. Dilupakan.
Pernahkah satu saat dalam hidup ini kalian merasa benar-benar lemah?
Ketika kalian menyadari bahwa sebenarnya kalian sendiri yang menyingkirkan
kekuatan itu dan menggantinya dengan mimpi-mimpi kosong.
Pernahkah satu saat dalam hidup ini kalian merasa benar-benar menyesal
dan rela melakukan apapun untuk bisa memutar balik waktu untuk memperbaiki
semuanya?
Yeah, itulah yang aku rasakan sekarang. Semua energi negatif itu
meyelimutiku dan membuatku semakin terpuruk di lorong gelap dan dingin di sudut
hatiku.
Aku menghancurkan semuanya. Dan membuat orang yang benar-benar
menyayangiku pergi dan mencari hati yang lain. Dan alih-alih membiarkannya
bahagia dengan orang lain, aku malah berusaha merebutnya kembali dan
menghancurkan semuanya.
100% Pecundang.
Tapi aku tidak akan membiarkan diriku tenggelam dan mati karena perasaan
ini. Ketika dia memutuskan untuk pergi, aku yakin dia sedang mencari
kebahagiaannya yang lain. Dan aku pun harus mulai mencari kebahagiaanku yang
lain.
Aku butuh berdamai dengan diriku sendiri. Aku butuh memaafkan diriku
sendiri. Memaafkan pecundang busuk ini. Ya Tuhan, ini terkadang membuatku ingin
menyerah, tapi aku tentu tidak pernah mengijinkan diriku sendiriku untuk
melakukannya.
Aku Liga Aditya. Aku pernah melakukan kesalahan yang cukup besar dalam
hidupku tapi itu tidak akan membuatku berhenti begitu saja. Aku akan terus
bergerak. Karena dunia juga terus bergerak. Aku akan kembali bersinergi dengan
alam. Seperti planet-planet yang bersinergi dengan jagad raya. Aku yakin suatu
saat kami akan menemukan orbit kami masing-masing. Dan apakah orbit itu akan kembali
bertemu di suatu titik? Aku hanya bisa bergerak dan menunggu.