Sabtu, 02 Juli 2011


KETIKA IDEALISME DIPERTANYAKAN

Hari ini saya awali dengan membaca buku yang beberapa hari yang lalu dikirimkan seorang teman yang sangat baik hati kepadaku. Buku kecil itu menceritakan tentang kisah-kisah anak yang tidak diperlakukan sewajarnya oleh orang tuanya. Saat aku membaca di halaman-halaman pertama, aku menduga si penulis ini adalah seorang yang amat sangat sensitif, karena dia menggambarkan permasalahan yang menurut saya biasa saja dengan sangat emosional dan berdarah-darah.
Tetapi ketika saya membaca lebih lanjut saya menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak terlintas begitu jelas dalam pemikiran saya. Setelah melewati beberapa kisah selanjutnya saya jadi berpikir dua kali, sepertinya si penulis ini bukan orang yang terlalu sensitif seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Si penulis ini Cuma terlalu cinta dan total dengan bidangnya. Yaitu anak-anak. Jadi segala hal, sekecil apapun, yang mengusik anak-anak akan menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar baginya. Dia pergi ke beberapa penjuru dunia untuk mendapatkan data tentang harapan anak-anak terhadap orang tuanya. Subhanallah.
Dalam hidup ini tidak banyak orang-orang yang memiliki idealisme yang tinggi dan mampu mempertahankannya sampai mati. Karena meskipun idealisme itu memang indah, dia banyak menimbulkan ujian yang tidak mudah. Ketika layang-layang bergerak melawan arah angin, tentu saja kita memerlukan tenaga yang lebih kuat untuk mengendalikannya terbang di angkasa. Lain halnya jika layang-layang itu putus, tidak ada tenaga yang terkuras, tapi sebagai gantinya, layang-layang itu terombang-ambing mengikuti angin sampai akhirnya tersangkut di tiang listrik begitu saja.
Banyak orang bicara tentang idealisme yang begitu indah. Tapi seketika mulutnya terkunci ketika sudah dihadapkan dengan orang tua yang sudah renta. Apakah anda akan tetap pergi mengajar ke pedalaman ketika ibu anda yang lemah jantung kembali anfal hanya karena mendengar rencana anda itu?
Apakah anda akan tetap pergi keliling dunia jika ayah anda yang biasanya tegar menjulang menangis lemah dalam sujud solatnya?
Apakah hati nurani anda sebagai seorang anak akan sanggup memilih idealisme yang indah itu daripada kedua orang tua yang rapuh? Sedangkan kedua orang tua itu tetap keukeuh dengan teori kehidupannya yang konvensional dan nggak neko-neko?
Kemana arah perubahan jika selalu bertentangan dengan restu orang tua? Atau haruskah kita menjadi anak yang durhaka dengan meninggalkan mereka?
Apalagi sebagai seorang wanita Jawa dengan segala saru siku yang menyiksa.
Akhirnya saya menyimpulkan, bahwa saya terlalu lemah untuk menjadi diri saya sendiri.
Terpukul dan merasa sebagai pecundang. Selalu itu yang saya rasakan ketika saya melihat teman-teman saya berjuang meraih impian mereka sedangkan saya hanya meringkuk di balik jeruji adat dan saru siku yang tidak mengijinkan saya melangkah satu inchi pun dari rumah dan kantor saya.
Ada semacam rasa ingin memberontak, tapi itu selalu saja saya kubur hidup-hidup ketika melihat senyum manis ibu dan bapak saya yang begitu bangga anaknya sudah mampu bekerja dan bisa menjadi anak baik di rumah.
Kemana jiwa pembaharuan yang selama ini saya bangun di istana impian saya? Semuanya runtuh tak bersisa ketika saya memasuki bangunan yang bernama rumah orang tua ini.
Ketika anda dihadapkan pada persimpangan kebahagiaan dan kesehatan orang tua dengan bangunan mimpi-mimpi anda yang indah, jalan manakah yang akan anda tempuh?
Maka sekali lagi saya simpulkan, saya terlalu lemah dengan segala atribut yang menempel dalam diri saya. Ketika saya bertanya kepada diri saya sendiri mau dibawa kemana mimpi-mimpi kita selama ini? Mulut hati saya hanya bisa terpekur tak bersuara.
Perbatasan cepu-bojonegoro
30 Juni 2011
11:09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar