Jumat, 30 Desember 2011

menulis

Menulis
Menulis saja
Tentang apapun
Tentang siapapun
Menulis saja
Agar tak beku hati ini.

Rabu, 21 Desember 2011

CATATAN HARIAN MANUSIA PENUH ATRIBUT


Kenapa, kenapa, kenapa?
Aku tak juga berhenti membandingkan diriku dengan orang lain.
Aku terlalu sibuk menilai apakah dia lebih, atau kurang, atau sama.
Aku telah baca semua teori itu, aku paham apa yang harus aku lakukan, tapi kenapa aku tidak juga bisa melepas kaca mata ini
Kaca mata sialan yang membuatku melihat semua orang lebih segala-galanya dari aku.
Aku lelah dengan diriku sendiri.
Ingin menghilang dan terlahir menjadi orang lain.
Orang yang bebas seperti dulu.
Seseorang yang merdeka.
Seseorang yang tidak pernah berpikir apa baju yang harus dipakai hari ini, gelang yang mana, jilbab yang mana, bagaimana agar terlihat sempurna, merk bedak apa, parfum yang manis, foto yang manis, senyum yang manis.
Ah!
Aku muak dengan diriku sendiri.
Kemana, kemana, kemana?
Diriku yang dulu yang tidak perduli orang lain bilang apa.
Aku rindu,rindu sekali!
Menjadi aku yang dulu.


10.12
Semarang


Selasa, 06 Desember 2011

salam perpisahan (2)


SMT ZONE, DECEMBER 2011

Zona ini adalah zona nyaman saya yang kedua setelah Pare
Zona tempat saya menemukan dan belajar banyak sekali hal baru
Sebuah spot berwarna merah membara, panas, dan berkobar
Saya menemukan gairah bekerja keras dan perjuangan untuk diperhitungkan di sini

Zona ini adalah zona perkenalan saya dengan dunia kerja
Dengan dunia pendidikan
Dengan generasi muda yang luar biasa
Zona para pencari jati diri

Keputusan untuk keluar dari zona nyaman ini bukan tanpa pertimbangan
Keputusan untuk pergi dari sini butuh keberanian yang luar biasa
Demi memenuhi kehausan akan tantangan
Demi fokus yang harus kembali ditentukan

Saat ini kita hanya percikan api
Saat ini kita hanya semilir angin
Tetesan air
atau selembar daun

Tapi dunia akan menjadi saksi kerja keras kita
Untuk lebih dari sekedar menjadi percikan api, semilir angin, tetesan air,
atau selembar daun

Dunia akan menjadi saksi lahirnya ledakan api yang besar, badai yang luar biasa, luapan air yang membuncah, dan hutan hijau yang lebat
Kita akan menjadi luar biasa
Kita harus menjadi luar biasa

Keluarbiasaan dalam kesederhanaan
Modernitas dalam kerakyatan

Selamat tinggal komunitas yang luar biasa
Selamat berjuang meraih mimpi-mimpi kita

Kita pasti bisa
 


-INAYA-

Kamis, 01 Desember 2011

epilog TRILOGISASI


Aku mengamati Dude yang sedang berkutat dengan mainan barunya. Matanya yang coklat bulat itu berbinar mengalihkan pandangannya berulang kali pada kedua mainan barunya. Hari ini adalah hari ulang tahun Dude, dan dia mendapatkan dua hadiah spesial. Tentu saja, dari dua orang yang juga sangat spesial.
Lupakan ide gila ini dan kembali padaku Sasi. LIGA
Aku membaca sekali lagi kalimat pendek yang ditulisnya dengan garis-garis yang tegas. Menghela napas sejenak, dan membaca kertas lain yang ada di tangan kananku,
“It’s almost a year, I miss you so bad sweetheart, and also our Dude, come back soon okay? DION”
Aku tersenyum. Come back soon? Aku sendiri nggak yakin apakah aku akan kembali atau tidak.
Aku mengedarkan pandanganku ke taman kota yang mulai memutih tertutup salju. Beberapa anak bermain lempar bola salju di seberang bangkuku. Dan Dude masih asik dengan dua mainan barunya. Sepertinya dia punya cara sendiri untuk merayakan ulang tahunnya yang keempat ini. Bulan depan aku harus mendaftarkan dia ke sekolah, dan aku pikir, dia sudah siap untuk itu.
Melbourne sedang dalam musim salju yang dingin. Dan tenang. Tempat terbaik untuk hidupku saat ini. Aku menerima tawaran dari sebuah NGO untuk bergabung membangun yayasan internasional yang khusus bergerak di bidang rekonstruksi wilayah pasca gempa dan tsunami. Pekerjaan yang selalu menjadi impianku sejak dulu. Membantu orang yang sedang dalam kesulitan, menjadi titik terang dan jawaban bagi mereka yang hampir putus asa menghadapi cobaan. Aku merasa hidupku sempurna. Sangat sempurna.
Dan rasa ini tidak akan pernah tertandingi bahkan jika kalian mengijinkanku memiliki keduanya, baik Dion maupun Liga. Haha... bicara apa aku ini.
Yeah, terkadang kita tidak harus memiliki sesuatu yang ketika kita memilikinya maka itu akan menimbulkan sesuatu yang buruk bagi orang lain.
Dan kita harus bersikap adil meskipun terkadang keadilan itu sendiri tidak sedang berpihak kepada kita.
Dan hidup masih harus berjalan dengan atau tanpa kita mendapatkan apa yang kita inginkan.
Dan dunia akan selalu berubah meskipun kita ingin menahannya untuk tidak berubah ketika dia memberikan kita kenyamanan yang sedikit berlebih. Karena sesuatu yang pasti tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri.

 *** 

Hai, namaku Dion, minggu lalu aku menggantikan posisi papaku sebagai presiden direktur sebuah perusahaan multinasional yang cukup ternama di Indonesia. Dulu aku selalu menganggap hidupku sempurna hanya karena aku memiliki fisik yang bagus, otak yang brilian, dan uang yang berlimpah. Tapi ternyata sekarang semua itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang membanggakan. Tidak setelah kamu merasakan sakitnya kehilangan seseorang yang benar-benar kamu sayangi sepenuh hati dan pernah mengisi semua volume baik otak maupun organ penting lain yang ada dalam tubuhmu.
Orang-orang datang dan pergi dalam kehidupanku. Ada yang berlalu begitu saja, ada yang meninggalkan cukup kenangan yang bisa mengingatkanku pada mereka, dan ada juga yang pergi dengan meninggalkan bekas yang teramat jelas. Hingga membuatku tidak akan pernah lagi menjadi orang yang sama seperti sebelumnya.
Dion Pratama ternyata hanya manusia biasa yang bisa mati juga. Dia juga bisa, secara tiba-tiba, terkubur hidup-hidup dan hampir membusuk di reruntuhan bangunan. Dan dia juga membutuhkan orang lain dalam hidupnya walaupun hanya sekedar room boy atau pembantu rumah tangga.
Dion Pratama. Seakan nama itu sekarang tidak lagi menjadi penting. Tidak lagi menjadi sesuatu yang membuatku merasa spesial jika melihat mata mereka memancarkan sorot kekaguman sekaligus rasa iri ketika diam-diam melirik ke arahku.
Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu kenapa. Mungkin sebagian dari diriku ikut pergi bersamanya. Semua “sense of superior”-ku lenyap begitu saja.
“Tamu dari Jepang sudah menunggu Pak”
Aku melirik Faisal, sekretaris baruku, yang mengingatkan schedule hari ini. Ternyata Faisal, roomboy yang menolongku saat gempa,lulusan manajemen perkantoran yang terjebak menjadi roomboy karena tuntutan ekonomi. Aku pikir dia cocok jadi sekretarisku. Karena terus terang aku sedang mati rasa dengan wanita saat ini.
Tanganku menyimpan kembali foto itu di lipatan buku agendaku. Foto Sasi yang sempat aku ambil diam-diam ketika dia menungguku sendirian di pinggir kolam renang saat aku mengajaknya ke sebuah pesta. Sebuah pesta yang membuat dia bertemu lagi dengan si bangsat Liga. Sial.
Di foto ini matanya yang dingin menerawang dan dagunya sedikit terangkat. Bibirnya yang merah  sedikit terbuka. Mengingatkanku betapa lembut dan hangat bibir itu ketika kusentuh.
Sasi. Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan pada perasaanku ini. Kamu telah pergi jauh dan membawa sebagian mimpi-mimpiku.
Mungkinkah suatu saat kita akan bertemu lagi? Dan kamu akan ada di depanku lagi, mengembalikan semua mimpi yang sudah kamu bawa pergi? Dan kamu akan tersenyum karena lelucon yang aku buat untukmu. Matamu menatap mataku dan bertanya dengan nada skeptismu yang khas itu, “Apakah kamu benar-benar malaikat pelindungku?”
Aku melirik jam tanganku sekilas. Menutup buku agendaku dan mulai berjalan ke ruang rapat. Di setiap langkahku tersimpan doa untuknya. Dimanapun dan dengan siapapun dia saat ini aku berharap dia selalu merasa bahagia. Karena dia telah memilih untuk meninggalkan malaikat pelindungnya di sini. Dia memilih untuk mencoba bahagia dengan caranya sendiri dan tidak ada orang yang berhak untuk melarangnya mencari kebahagiaan itu. Tidak juga aku.
Maka aku akan mencoba menjalani hidupku sendiri. Mungkin aku akan menemukan seseorang lain yang lebih membutuhkan malaikat pelindung, atau jika aku beruntung, suatu hari nanti dia akan datang dan kembali memelukku.
Who knows.

 ***

Pernahkah dalam hidup ini kalian merasa benar-benar seperti seorang pecundang? Aku pernah. Dan rasanya sangat tidak nyaman. Lebih tidak nyaman daripada kegagalan menyelesaikan ekspedisi pendakian manapun.
Namaku Liga. Beberapa waktu lalu aku merasa Tuhan benar-benar sedang berbaik hati padaku dengan memberikan semua yang aku inginkan. Pekerjaan yang mapan, karier yang menjanjikan, dan pacar baru yang sempurna. Tapi ternyata aku salah. 100% salah besar. Karena saat ini aku baru menyadari bahwa terlalu dini untuk merasa sempurna, dan semuanya sudah terlambat ketika kesempurnaan yang sebenarnya justru menghilang saat aku berkutat dengan kebahagiaan-kebahagiaan semu itu.
Pantaskah aku masih mengharapkan seseorang yang sudah benar-benar aku sakiti dan tinggalkan untuk menerimaku kembali? Aku bahkan tidak punya nyali untuk membayangkan jika aku ada di posisinya saat itu. Benar-benar ditinggalkan. Dilupakan.
Pernahkah satu saat dalam hidup ini kalian merasa benar-benar lemah? Ketika kalian menyadari bahwa sebenarnya kalian sendiri yang menyingkirkan kekuatan itu dan menggantinya dengan mimpi-mimpi kosong.
Pernahkah satu saat dalam hidup ini kalian merasa benar-benar menyesal dan rela melakukan apapun untuk bisa memutar balik waktu untuk memperbaiki semuanya?
Yeah, itulah yang aku rasakan sekarang. Semua energi negatif itu meyelimutiku dan membuatku semakin terpuruk di lorong gelap dan dingin di sudut hatiku.
Aku menghancurkan semuanya. Dan membuat orang yang benar-benar menyayangiku pergi dan mencari hati yang lain. Dan alih-alih membiarkannya bahagia dengan orang lain, aku malah berusaha merebutnya kembali dan menghancurkan semuanya.
100% Pecundang.
Tapi aku tidak akan membiarkan diriku tenggelam dan mati karena perasaan ini. Ketika dia memutuskan untuk pergi, aku yakin dia sedang mencari kebahagiaannya yang lain. Dan aku pun harus mulai mencari kebahagiaanku yang lain.
Aku butuh berdamai dengan diriku sendiri. Aku butuh memaafkan diriku sendiri. Memaafkan pecundang busuk ini. Ya Tuhan, ini terkadang membuatku ingin menyerah, tapi aku tentu tidak pernah mengijinkan diriku sendiriku untuk melakukannya.
Aku Liga Aditya. Aku pernah melakukan kesalahan yang cukup besar dalam hidupku tapi itu tidak akan membuatku berhenti begitu saja. Aku akan terus bergerak. Karena dunia juga terus bergerak. Aku akan kembali bersinergi dengan alam. Seperti planet-planet yang bersinergi dengan jagad raya. Aku yakin suatu saat kami akan menemukan orbit kami masing-masing. Dan apakah orbit itu akan kembali bertemu di suatu titik? Aku hanya bisa bergerak dan menunggu.