Senin, 23 Mei 2011

Do'a Hamba yang Sedang Iri Hati

Seandainya saya jadi anda, apakah saya akan terlihat sesenang anda?
Dan seandainya anda jadi saya apakah anda akan setegar saya?
Seandainya di dunia ini kita diberi kesempatan kedua untuk memilih ingin jadi apa, apakah anda yakin pilihan kedua itu adalah yang terbaik untuk anda? Atau kehidupan anda yang pertama adalah yang terbaik dan tidak bisa tergantikan?
Selalu lupa bersyukur, selalu mendekati kufur...
Astagfirullah...
Teringat do'a seorang teman di ulang tahun yang ke-21, do'a yang menjadi kado terindah hingga saat ini:
"Ya Allah, terima kasih kami kaya, terima kasih kami mampu, terima kasih kami sehat, terima kasih kami kuat, Ya Allah terima kasih kami bahagia, terima kasih kami masih diberi kesempatan untuk berterima kasih kepada-Mu..."
Terima kasih ya Allah, entah sampai kapan lisan dan akal ini lupa untuk mengucap syukur kepada-Mu
Ingatkan kami ya Allah, bahwa Engkau yang Maha Adil, Maha Tahu, Maha Segalanya, Engkau menetapkan cobaan bagi kami sesuai dengan kapasitas kami sebagai seorang hamba..
Terima kasih ya Allah, kau berikan rasa iri yang membuatku teringat lagi untuk mengucap syukur pada-Mu
Maka kuulang lagi do'a indah itu malam ini...
Ya Allah terima kasih aku kaya
Terima kasih aku mulia
Terima kasih aku kuat
Terima kasih aku tegar
Terima kasih aku kenyang
Terima kasih aku beriman
Terima kasih aku Kau ingatkan
Ya Allah, terima kasih  untuk pelajaran berharga ini
Aku berjanji akan berusaha lebih baik lagi
Amin.



















Jumat, 20 Mei 2011

Pendidikan Berbasis Rapor


Saudaraku yang dirahmati Allah,
Hampir sebulan saya memutuskan untuk meninggalkan Pare dan berjuang menghadapi realita hidup yang saya sendiri pun tidak paham akan membawa saya kemana. Hal pertama yang saya rasakan ketika saya memasuki kembali dimensi nyata ini adalah kerinduan terhadap setiap titik idealisme yang saya temukan di Pare. Dan yang kedua adalah, kesadaran untuk menerima ketidak-ideal-an itu sendiri dan mencoba mencari celah untuk mengubahnya.
Tapi titik itu pun masih jauh. Masih sangat jauh. Celah itu belum terlihat sama sekali. Dan saya masih harus menunggu dan mencari dengan jeli, dimana sebenarnya celah itu terselip.
Pekerjaan pertama saya adalah melayani siswa SMP yang mau mendaftar di sekolah tempat saya bekerja. Sekolah ini memang tergolong masih baru, baru setahun berdiri. Namun pemerintah menggadang-gadang sekolah ini menjadi sekolah unggulan di daerah kami. Karena itu begitu banyak siswa dan wali siswa yang begitu idealis untuk bergabung dengan sekolah kami.
Untuk masuk dalam sekolah kami rata-rata nilai rapor harus 7,00. Syarat mutlak untuk RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan kurikulum yang sederajat. Tapi kok saya jadi miris, sebenarnya sekolah itu untuk anak yang pinter agar lebih pinter saja, atau juga tersedia untuk anak yang belum pinter supaya menjadi pinter? Kalau rata-rata mereka sudah 7,00 itu berarti mereka sudah cukup ilmu, lalu kenapa kita memprioritaskan mereka? Lalu bagaimana dengan siswa yang kurang pintar? Kenapa kita malah menafikkan mereka? Kalau semua sekolah yang bagus menolak mereka, lalu kapan mereka bisa mendapatkan pendidikan yang baik? Kalau mereka tidak mendapatkan pendidikan yang baik, lalu kapan mereka bisa terentas dari ketidakpintarannya?
Hufft... kalau begitu apakah memang benar kalau sekolah yang bagus hanya untuk siswa yang pinter saja? Dan siswa yang kurang pinter tidak berhak belajar di sekolah yang bagus untuk menjadi pinter? Lalu dimana letak hakekat pendidikan yang katanya mengubah tidak tahu menjadi tahu, dan mengubah yang tidak bisa menjadi bisa?
Seharusnya ini kesimpulan yang salah. Tapi saya belum juga menemukan jawaban untuk pembenarannya.
Dan hal selanjutnya yang ingin saya bagi dengan anda semua, agak menyimpang dari yang pertama, adalah tentang perjuangan para orang tua demi kepentingan anaknya.
Pada hari terakhir pendaftaran siswa baru ada seorang ibu, yang dengan wajah yang agak ragu, masuk ke ruang sekretariat. Seperti biasa saya menyambutnya dengan senyum khas layaknya seorang customer service di Bank Syariah. Ibu itu membalas senyuman saya dengan canggung dan menyodorkan rapor anaknya. “Anak saya pengen sekali masuk sini mbak” katanya sambil duduk di samping saya.
Seperti biasa pula saya mulai menghitung rata-rata rapor yang diberikan kepada saya ketika ibu itu berkata lagi, “Dia sudah dari kemarin nggak makan karena ngambek minta didaftarkan disini”
Hati saya mencelos “Kok bisa sampe gitu bu?”
“Soalnya kayaknya nilainya kurang sedikit mbak..”
Saya mengalihkan pandangan saya dari angka-angka itu dan berganti menatap ibu yang duduk di samping saya tersebut. Matanya berkaca-kaca dan dari situ dia bercerita panjang lebar mengenai anaknya yang begitu ingin sekolah di tempat ini, tapi nilai yang dia miliki tidak cukup untuk sekedar lolos tes administrasi.
God, sebesar itukah kesaktian deretan nilai rapor dalam sistem pendidikan kami? Hingga mampu membuat seorang anak mogok makan dan seorang ibu kebingungan mencari jalan keluar untuk pendidikan anaknya?
Hati saya sedih melihat ini semua, tapi saya tetap saja tidak bisa berbuat apa-apa. Sama ketika saya menghadapi seorang bapak yang sudah jauh-jauh datang dari desa dan basah kuyup kehujanan tapi ternyata nilai anaknya tidak lebih dari 7,00. Dan sama pula ketika saya menemui bapak-bapak saudara anggota dewan pendidikan yang menghujat sistem pendidikan kita hanya karena anaknya juga tidak lolos seleksi administrasi. Apakah jika anaknya lolos dia juga akan menghujat sepedas itu? Saya juga tidak tahu.
Kabar baiknya ternyata nilai dari anak ibu itu cuma kurang 0, 40 dari 7,00 akhirnya panitia meloloskan anaknya untuk masuk ke tahap selanjutnya.
See? Betapa saktinya deretan angka di buku rapor itu. Tidak heran jika arah pendidikan kita sekarang berbelok pada besaran angka di dalam buku. Bukan besaran ilmu di dalam kepala para siswanya.
Dan sekali lagi. Saya belum bisa berbuat apa-apa. Hanya sekedar menjadi penonton yang setia.
Sahabatku, saya berpendapat sungguh beruntung mereka yang sempat mengenyam pendidikan di Kampung Inggris tempat saya sempat menimba ilmu dulu. Ketika nilai sudah tidak lagi menjadi momok  untuk berekspresi. Dan para siswa berorientasi pada pengetahuan dan kemampuan diri. Tidak ada bayang-bayang nilai dan kelulusan karena terbukti tidak ada yang perlu bunuh diri hanya karena tidak dapat free charge atau sertifikat.
Saudaraku, jika di pikiran kalian masih ada sedikit sisa-sisa pendidikan berbasis ‘rapor’ itu, saya menghimbau, lupakanlah sejenak angka-angka itu. Karena orientasi kita adalah pada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi bisa, dari bisa menjadi biasa. Dan itu nilainya jauh melampaui angka-angka dalam sertifikat dan ijazah anda.
Terus semangat dan teruslah menjadi manusia-manusia pembelajar.
Sukses untuk kita semua.

Bojonegoro, 16 Mei 2011
21.40

Salam Perpisahan untuk Pare



Sebelum saya datang ke Pare, saya selalu memimpikan dapat belajar Bahasa Inggris di tempat yang dijuluki orang-orang sebagai Kampung Inggris ini. Di dalam imajinasi saya, Pare adalah sebuah tempat yang sarat dengan ilmu-ilmu baru dan juga orang-orang yang tergila-gila Bahasa Inggris. Maka saya pun mulai mengumpulkan informasi mengenai Pare, nama-nama kursusan apa yang ada di sana, dan kursusan mana yang banyak direkomendasikan oleh orang-orang yang pernah belajar di sana. Saya mengumpulkan artikel-artikel mengenai Pare dan menyatukannya dalam sebuah folder di laptop saya yang saya namai “PARE in dream”.

Ketika saya telah benar-benar berada di Pare. Saya merasa sebuah mimpi saya telah menjadi kenyataan. Pare benar-benar sebuah tempat yang sangat sama dengan imajinasi saya. Pada minggu-minggu pertama saya di sini saya merasa ilmu pengetahuan seakan-akan bertebaran dimana-mana. Di pinggir-pinggir jalan, di warung-warung, di tempat-tempat berkumpul para siswa yang sedang mendiskusikan sesuatu dengan Bahasa Inggris atau sekedar ngobrol dengan Bahasa Bule itu. Saya begitu gila belajar, saya pelajari apapun yang saya inginkan di sini lewat kelas-kelas, buku-buku, senior-senior, tutor-tutor, semuanya terasa sangat menggairahkan.

Di Pare saya banyak sekali menemukan orang-orang dengan cita-cita besar, mimpi-mimpi indah, dan saya pun mulai kembali belajar bermimpi mengenai sesuatu yang indah dan spektakuler. Sesuatu yang sudah hilang dalam hidup saya semenjak saya menyadari bahwa realita terkadag membuat kita harus mengusir diam-diam mimpi kita sendiri.

Di Pare saya kembali membangun mimpi-mimpi saya, menjadikannya sebuah master plan yang sangat indah dan sempurna, membuat jantung saya berdetak lebih cepat ketika membacanya dan tidak malu lagi mengatakan mimpi dan cita-cita saya kepada orang-orang. Dan kemudian alarm peringatan berbunyi dalam otak saya, hei.. masih berani juga kamu bermimpi indah? Lupakah bahwa dunia nyata tidak seindah yang kau bayangkan? Tidak merasa takutkah merasa sakit ketika akhirnya kamu sadar mimpi-mimpimu itu hanya dongeng tidur belaka?
Tapi dengan keyakinan yang entah di dapat darimana, saya matikan alarm peringatan itu. Tidak. Saya akan kembali bermimpi dan saya akan menjaga mimpi itu sampai aku menemukan jalan untuk menjadikannya nyata.

Dan sekarang, ketika saya harus meninggalkan Pare, ada sedikit rasa takut dan pengecut hinggap di hati saya. Saya akan segera meninggalkan ‘dreamland’ ini. Dimana semua orang bebas bermimpi dan mengungkapkan mimpi-mimpi mereka dengan bangganya. Saya akan kembali ke dunia nyata saya. Dan ketika saya harus kembali dengan kenyataan-kenyataan hidup saya yang memang tidak indah, akankah mimpi-mimpi itu masih bisa saya pertahankan dalam otak dan hati saya? Apakah satu kata yang berbunyi ‘realita’ itu akan kembali menghapus bangunan mimpi-mimpi itu. Apakah saya akan tetap bertahan untuk bermimpi?

Pare tempat belajar saya, tempat yang pernah membuat saya begitu tergila-gila dengan ilmu pengetahuan. Tempat yang pernah bisa membuat saya, dengan senang hati, belajar 17 jam sehari.

Pare tempat tidur saya, tempat menyemai kembali mimpi-mimpi saya, tempat saya kembali belajar berkata ‘saya akan menjadi bla,bla,bla’, tempat saya melupakan statement pribadi saya, I’m sick and tired of dreaming. Tempat yang sempat membuat saya terlena dan tidak ingin kembali ke realita yang sudah menunggu saya di Terminal Jombang.

Pare, mungkinkah akan menjadi sebuah titik tolak dalam hidup saya? Mungkinkah menjadi pondasi yang cukup kuat untuk berjuang mewujudkan mimpi-mimpi indah saya? Mungkinkah bisa saya munculkan ke dalam biografi saya suatu hari nanti? Pertanyaan-pertanyaan pesimis itu kembali menyerang saya ketika waktu kepulangan benar-benar sudah ditentukan.

Pare, akhirnya saya harus bangun juga. Selamat tinggal ‘dreamland’, selamat tinggal mimpi indah. Tapi saya berjanji, ketika saya membuka mata nanti, mimpi-mimpi ini tidak akan pernah saya lupakan. Saya akan simpan dalam hati dan otak saya. Karena saya bangun dari mimpi ini bukan hanya untuk menghadapi realita dengan segudang rutinitas-rutinitas busuknya saja. Tapi saya bangun dari tidur saya ini untuk segera mandi dan berangkat berjuang meraih semua yang sudah saya bangun dalam dunia mimpi saya. Saya akan mengejar, menangkap, dan membawanya ke dalam dunia nyata. Dan saya akan berkata dengan bangga, mimpi-mimpi saya telah menjadi kenyataan.

Terima kasih Pare, untuk tidur panjang yang tenang. Untuk mimpi-mimpi indah.
Suatu hari nanti saya akan kembali kesini dengan segudang cerita yang lain. Dan saya harap saya bisa menyajikan cerita dengan ending yang indah untuk semua pembaca.


Pare, 16 April 2011
05.37