Saudaraku yang dirahmati Allah,
Hampir sebulan saya memutuskan untuk meninggalkan Pare dan berjuang menghadapi realita hidup yang saya sendiri pun tidak paham akan membawa saya kemana. Hal pertama yang saya rasakan ketika saya memasuki kembali dimensi nyata ini adalah kerinduan terhadap setiap titik idealisme yang saya temukan di Pare. Dan yang kedua adalah, kesadaran untuk menerima ketidak-ideal-an itu sendiri dan mencoba mencari celah untuk mengubahnya.
Tapi titik itu pun masih jauh. Masih sangat jauh. Celah itu belum terlihat sama sekali. Dan saya masih harus menunggu dan mencari dengan jeli, dimana sebenarnya celah itu terselip.
Pekerjaan pertama saya adalah melayani siswa SMP yang mau mendaftar di sekolah tempat saya bekerja. Sekolah ini memang tergolong masih baru, baru setahun berdiri. Namun pemerintah menggadang-gadang sekolah ini menjadi sekolah unggulan di daerah kami. Karena itu begitu banyak siswa dan wali siswa yang begitu idealis untuk bergabung dengan sekolah kami.
Untuk masuk dalam sekolah kami rata-rata nilai rapor harus 7,00. Syarat mutlak untuk RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan kurikulum yang sederajat. Tapi kok saya jadi miris, sebenarnya sekolah itu untuk anak yang pinter agar lebih pinter saja, atau juga tersedia untuk anak yang belum pinter supaya menjadi pinter? Kalau rata-rata mereka sudah 7,00 itu berarti mereka sudah cukup ilmu, lalu kenapa kita memprioritaskan mereka? Lalu bagaimana dengan siswa yang kurang pintar? Kenapa kita malah menafikkan mereka? Kalau semua sekolah yang bagus menolak mereka, lalu kapan mereka bisa mendapatkan pendidikan yang baik? Kalau mereka tidak mendapatkan pendidikan yang baik, lalu kapan mereka bisa terentas dari ketidakpintarannya?
Hufft... kalau begitu apakah memang benar kalau sekolah yang bagus hanya untuk siswa yang pinter saja? Dan siswa yang kurang pinter tidak berhak belajar di sekolah yang bagus untuk menjadi pinter? Lalu dimana letak hakekat pendidikan yang katanya mengubah tidak tahu menjadi tahu, dan mengubah yang tidak bisa menjadi bisa?
Seharusnya ini kesimpulan yang salah. Tapi saya belum juga menemukan jawaban untuk pembenarannya.
Dan hal selanjutnya yang ingin saya bagi dengan anda semua, agak menyimpang dari yang pertama, adalah tentang perjuangan para orang tua demi kepentingan anaknya.
Pada hari terakhir pendaftaran siswa baru ada seorang ibu, yang dengan wajah yang agak ragu, masuk ke ruang sekretariat. Seperti biasa saya menyambutnya dengan senyum khas layaknya seorang customer service di Bank Syariah. Ibu itu membalas senyuman saya dengan canggung dan menyodorkan rapor anaknya. “Anak saya pengen sekali masuk sini mbak” katanya sambil duduk di samping saya.
Seperti biasa pula saya mulai menghitung rata-rata rapor yang diberikan kepada saya ketika ibu itu berkata lagi, “Dia sudah dari kemarin nggak makan karena ngambek minta didaftarkan disini”
Hati saya mencelos “Kok bisa sampe gitu bu?”
“Soalnya kayaknya nilainya kurang sedikit mbak..”
Saya mengalihkan pandangan saya dari angka-angka itu dan berganti menatap ibu yang duduk di samping saya tersebut. Matanya berkaca-kaca dan dari situ dia bercerita panjang lebar mengenai anaknya yang begitu ingin sekolah di tempat ini, tapi nilai yang dia miliki tidak cukup untuk sekedar lolos tes administrasi.
God, sebesar itukah kesaktian deretan nilai rapor dalam sistem pendidikan kami? Hingga mampu membuat seorang anak mogok makan dan seorang ibu kebingungan mencari jalan keluar untuk pendidikan anaknya?
Hati saya sedih melihat ini semua, tapi saya tetap saja tidak bisa berbuat apa-apa. Sama ketika saya menghadapi seorang bapak yang sudah jauh-jauh datang dari desa dan basah kuyup kehujanan tapi ternyata nilai anaknya tidak lebih dari 7,00. Dan sama pula ketika saya menemui bapak-bapak saudara anggota dewan pendidikan yang menghujat sistem pendidikan kita hanya karena anaknya juga tidak lolos seleksi administrasi. Apakah jika anaknya lolos dia juga akan menghujat sepedas itu? Saya juga tidak tahu.
Kabar baiknya ternyata nilai dari anak ibu itu cuma kurang 0, 40 dari 7,00 akhirnya panitia meloloskan anaknya untuk masuk ke tahap selanjutnya.
See? Betapa saktinya deretan angka di buku rapor itu. Tidak heran jika arah pendidikan kita sekarang berbelok pada besaran angka di dalam buku. Bukan besaran ilmu di dalam kepala para siswanya.
Dan sekali lagi. Saya belum bisa berbuat apa-apa. Hanya sekedar menjadi penonton yang setia.
Sahabatku, saya berpendapat sungguh beruntung mereka yang sempat mengenyam pendidikan di Kampung Inggris tempat saya sempat menimba ilmu dulu. Ketika nilai sudah tidak lagi menjadi momok untuk berekspresi. Dan para siswa berorientasi pada pengetahuan dan kemampuan diri. Tidak ada bayang-bayang nilai dan kelulusan karena terbukti tidak ada yang perlu bunuh diri hanya karena tidak dapat free charge atau sertifikat.
Saudaraku, jika di pikiran kalian masih ada sedikit sisa-sisa pendidikan berbasis ‘rapor’ itu, saya menghimbau, lupakanlah sejenak angka-angka itu. Karena orientasi kita adalah pada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi bisa, dari bisa menjadi biasa. Dan itu nilainya jauh melampaui angka-angka dalam sertifikat dan ijazah anda.
Terus semangat dan teruslah menjadi manusia-manusia pembelajar.
Sukses untuk kita semua.
Bojonegoro, 16 Mei 2011
21.40