Dalam kemandulan karya ini sebenarnya
saya ingin menuliskan banyak hal. Tentang kacaunya kehidupan saya akhir-akhir
ini. Profesionalisme yang dipertanyakan, ketertarikan pada ilmu baru yang mulai
memudar, orang-orang baru yang muncul dengan segala hal yang menyertai mereka,
dan ribuan keluhan dari saya yang sedang pengecut dan malas menghadapi dunia.
Ribuan hal yang tidak menyenangkan tadi
telah ada di ujung jari untuk dirangkai satu-satu menjadi kata-kata yang
membosankan dan memuakkan siapa pun yang akan membacanya. Tapi ternyata,
jari-jari itu berkhianat. Dia mengetik. Begitu cepatnya, hingga saya tidak bisa
mengendalikan apa yang ditulisnya. Dan ternyata yang ditulisnya bukan tentang
performa mengajarnya yang kacau, bukan tentang jumlah absen di lembar presensi
kuliahnya yang semakin mendekati batas toleransi, bukan tentang rasa muaknya
terhadap diri sendiri.
Jari-jari itu mengetik, tentang
seseorang yang tiap malam datang untuk belajar bersama. Yang datang untuk makan
malam, lalu membuka buku dan menautkan alis, mengusap dagu, memikirkan jawaban
dari setiap pertanyaan yang ada. Tentang seseorang yang diam-diam dikagumi
sejak pertama kali bertemu dan sekarang, secara mengherankan, begitu dekat dan
nyata untuk disentuh. Seseorang yang penuh segala hal yang baik, seperti semua
tokoh protagonis dalam novel dan drama.
Saya mencoba mengendalikan diri untuk
tidak melulu memikirkan dia. Mencoba menempatkannya pada proporsi yang normal.
Tapi rasa itu terus saja melesak memenuhi otak dan perasaan. Melelahkan memang,
tapi hanya itu saja hal yang saya suka dari kehidupan saya akhir-akhir ini.
Ketika saya sudah menjadi semacam mesin penghasil uang untuk orang lain dan
bekerja seperti robot. Ketika idealisme tentang pendidikan tergerus kebutuhan.
Ketika saya merasa menjadi pecundang yang menjijikkan. Setidaknya masih ada
satu hal yang menyenangkan. Di setiap malam saya punya dia untuk berbagi,
setidaknya begitu kalau tidak ingin dikatakan membuang semua sampah di otak dan
hati saya. Tertawa, menertawakan hal yang terlalu sedih untuk ditangisi.
Berfilsafat, berteori, berargumen. Seolah kehidupan yang saya inginkan hanya
ada di malam hari setelah dia datang dan menunggu di depan gerbang.
Di awal pagi ini pun, saya mulai
merindukan malam sejak pertama kali membuka mata. Saya tidak tahu bahwa saya
akan mencintai malam hingga separah ini. Malam akan membawa dia datang. Malam
akan membawa dunia yang saya inginkan dan melupakan siang yang penuh keluh
kesah menyebalkan. Saya berjanji akan bertahan menghadapi siang hari ini agar
bisa bertemu malam. Saya berjanji akan menahan bosannya duduk di bangku kuliah, muaknya mengajar tanpa
persiapan, apapun yang akan saya hadapi di dalam siang, setidakmenyenangkan
apapun itu. Karena saya butuh malam, dan untuk mendatangkannya tentu saja harus
melewati siang.
Well, selamat datang siang. Mari kita
lihat masalah apalagi yang akan kamu lemparkan kepada saya kali ini.
Semarang, 9 Mei 2012
6.41 WIB