Kamis, 24 Mei 2012

Welcome my F***ing Day

Dalam kemandulan karya ini sebenarnya saya ingin menuliskan banyak hal. Tentang kacaunya kehidupan saya akhir-akhir ini. Profesionalisme yang dipertanyakan, ketertarikan pada ilmu baru yang mulai memudar, orang-orang baru yang muncul dengan segala hal yang menyertai mereka, dan ribuan keluhan dari saya yang sedang pengecut dan malas menghadapi dunia.
Ribuan hal yang tidak menyenangkan tadi telah ada di ujung jari untuk dirangkai satu-satu menjadi kata-kata yang membosankan dan memuakkan siapa pun yang akan membacanya. Tapi ternyata, jari-jari itu berkhianat. Dia mengetik. Begitu cepatnya, hingga saya tidak bisa mengendalikan apa yang ditulisnya. Dan ternyata yang ditulisnya bukan tentang performa mengajarnya yang kacau, bukan tentang jumlah absen di lembar presensi kuliahnya yang semakin mendekati batas toleransi, bukan tentang rasa muaknya terhadap diri sendiri.
Jari-jari itu mengetik, tentang seseorang yang tiap malam datang untuk belajar bersama. Yang datang untuk makan malam, lalu membuka buku dan menautkan alis, mengusap dagu, memikirkan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada. Tentang seseorang yang diam-diam dikagumi sejak pertama kali bertemu dan sekarang, secara mengherankan, begitu dekat dan nyata untuk disentuh. Seseorang yang penuh segala hal yang baik, seperti semua tokoh protagonis dalam novel dan drama.
Saya mencoba mengendalikan diri untuk tidak melulu memikirkan dia. Mencoba menempatkannya pada proporsi yang normal. Tapi rasa itu terus saja melesak memenuhi otak dan perasaan. Melelahkan memang, tapi hanya itu saja hal yang saya suka dari kehidupan saya akhir-akhir ini. Ketika saya sudah menjadi semacam mesin penghasil uang untuk orang lain dan bekerja seperti robot. Ketika idealisme tentang pendidikan tergerus kebutuhan. Ketika saya merasa menjadi pecundang yang menjijikkan. Setidaknya masih ada satu hal yang menyenangkan. Di setiap malam saya punya dia untuk berbagi, setidaknya begitu kalau tidak ingin dikatakan membuang semua sampah di otak dan hati saya. Tertawa, menertawakan hal yang terlalu sedih untuk ditangisi. Berfilsafat, berteori, berargumen. Seolah kehidupan yang saya inginkan hanya ada di malam hari setelah dia datang dan menunggu di depan gerbang.
Di awal pagi ini pun, saya mulai merindukan malam sejak pertama kali membuka mata. Saya tidak tahu bahwa saya akan mencintai malam hingga separah ini. Malam akan membawa dia datang. Malam akan membawa dunia yang saya inginkan dan melupakan siang yang penuh keluh kesah menyebalkan. Saya berjanji akan bertahan menghadapi siang hari ini agar bisa bertemu malam. Saya berjanji akan menahan bosannya duduk  di bangku kuliah, muaknya mengajar tanpa persiapan, apapun yang akan saya hadapi di dalam siang, setidakmenyenangkan apapun itu. Karena saya butuh malam, dan untuk mendatangkannya tentu saja harus melewati siang.
Well, selamat datang siang. Mari kita lihat masalah apalagi yang akan kamu lemparkan kepada saya kali ini.

Semarang, 9 Mei 2012 
6.41 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar