Rencana turun ke Segara Anak pagi-pagi sekali gagal total, karena mulai tengah malam hingga jam lima pagi hujan turun nggak tanggung-tanggung. Tenda saya lumayan kebanjiran karena lupa nggak bikin parit. Untungnya saya tidur di tengah, jadi yang basah cuma ujung esbe saja,,hoho (thanks, God). Akhirnya kami mulai turun ke Segara Anak sekitar pukul 09.00 WITA.
Medan dari Pelawangan ke Segara Anak mirip kayak jalur Cemoro Sewu Gunung Lawu,, full batu-batu geje. Dan saya ingat, abis turun dari Lawu tempo dulu kaki saya lumpuh semalaman gara-gara kedinginan kombinasi penyakit bawaan saya (yang sudah saya ceritakan di Part sebelumnya,hoho). Belajar dari pengalaman itu, kali ini saya lebih hati-hati dan nggak ngoyo turunnya. Meskipun Dewan (yang sekarang bisa tersenyum menang karena bisa jalan di depan saya - ya iyalah, coba tanjakan!-) terus ngece-ngece, saya keukeuh aja jalan santai.
Tapi makin lama cuaca makin tidak bersahabat. Hujan mulai turun dan angin kembali bersuara seperti suara motor dari kejauhan. Akhirnya mau tidak mau saya paksakan juga jalan agak cepat. Entah trauma atau apa, saya benci jalan turunan apalagi hujan-hujanan. Maka, nggak ada jalan lain selain memaksa kaki berjalan lebih cepat.
Saya hampir putus asa ketika kaki saya mulai sakit, dan kabut begitu tebal hingga saya nggak bisa melihat apa-apa. Dewan sudah menghilang duluan di depan (sial..). Tapi kemudian ada bule dan porter-nya jalan dari arah yang berlawanan dari saya. Tanyalah saya (dengan gaya cool,,padahal udah pingin banget copot sepatu, sakiit jempol saya) "Ini masih jauh nggak bang dari Segara Anak?" Si porter itu liat jam (saya keder, wah jangan-jangan masih sejam lagi!), terus dia bilang,
"Ya kira-kira lima menit lagi lah."
Pinjem istilah Bayu: Wadefak T_T'. Lima menit pake akting liat jam segala. Sial...
Oke, kemudian saya setengah berlari meneruskan perjalanan. Olala,,, ternyata, di ujung jalan setapak itu, ketika kabut membuka, tampaklah sebuah danau yang luaaaaaasssssssss banget. Subhanallah indahnya (susah dideskripsikan, harap maklum :D). Tapi pemandangan itu harus terganggu karena ada Dewan disana yang senyum-senyum seolah-olah mengolok-olok saya yang 'kalah' balapan sampe ke Segara Anak. Agak menyebalkan memang T_T.
Di balik kabut, ada sisi lain dunia yang -mungkin- seindah surga.. :)
Medan dari Pelawangan ke Segara Anak mirip kayak jalur Cemoro Sewu Gunung Lawu,, full batu-batu geje. Dan saya ingat, abis turun dari Lawu tempo dulu kaki saya lumpuh semalaman gara-gara kedinginan kombinasi penyakit bawaan saya (yang sudah saya ceritakan di Part sebelumnya,hoho). Belajar dari pengalaman itu, kali ini saya lebih hati-hati dan nggak ngoyo turunnya. Meskipun Dewan (yang sekarang bisa tersenyum menang karena bisa jalan di depan saya - ya iyalah, coba tanjakan!-) terus ngece-ngece, saya keukeuh aja jalan santai.
Tapi makin lama cuaca makin tidak bersahabat. Hujan mulai turun dan angin kembali bersuara seperti suara motor dari kejauhan. Akhirnya mau tidak mau saya paksakan juga jalan agak cepat. Entah trauma atau apa, saya benci jalan turunan apalagi hujan-hujanan. Maka, nggak ada jalan lain selain memaksa kaki berjalan lebih cepat.
Saya hampir putus asa ketika kaki saya mulai sakit, dan kabut begitu tebal hingga saya nggak bisa melihat apa-apa. Dewan sudah menghilang duluan di depan (sial..). Tapi kemudian ada bule dan porter-nya jalan dari arah yang berlawanan dari saya. Tanyalah saya (dengan gaya cool,,padahal udah pingin banget copot sepatu, sakiit jempol saya) "Ini masih jauh nggak bang dari Segara Anak?" Si porter itu liat jam (saya keder, wah jangan-jangan masih sejam lagi!), terus dia bilang,
"Ya kira-kira lima menit lagi lah."
Pinjem istilah Bayu: Wadefak T_T'. Lima menit pake akting liat jam segala. Sial...
Oke, kemudian saya setengah berlari meneruskan perjalanan. Olala,,, ternyata, di ujung jalan setapak itu, ketika kabut membuka, tampaklah sebuah danau yang luaaaaaasssssssss banget. Subhanallah indahnya (susah dideskripsikan, harap maklum :D). Tapi pemandangan itu harus terganggu karena ada Dewan disana yang senyum-senyum seolah-olah mengolok-olok saya yang 'kalah' balapan sampe ke Segara Anak. Agak menyebalkan memang T_T.
Di balik kabut, ada sisi lain dunia yang -mungkin- seindah surga.. :)


