Senin, 07 Januari 2013

Kisah di Ujung Tahun (Rinjani Part 3)

Hampir satu jam saya menunggu Kang Pendi dan Jessi di Pelawangan. Akhirnya, dibalik kabut (cieeehh..) kulihat sosok mereka, terdengar juga suara mereka manggil-manggil nama saya. Saya bersyukur sekali ketemu mereka di sini (halah..). Akhirnya kami cepet-cepet bongkar carrier, pasang Dome, bersih-bersih, dan masak makan malam buat rombongan yang masih tertinggal jauh di belakang.

Malam itu kacau sekali. Cuaca mulai nggak mendukung. Hujan, kabut jadi satu, dan teman-teman kami nggak kunjung keliatan batang hidungnya. Jessi masuk angin, badannya panas. Tapi masih bisa masak sama saya sambil ngobrol-ngobrol tentang teman-teman yang di belakang. Saya merasa sangat bersalah sama partner sejati saya , si Dewan, karena membiarkan dia ngurusin pendaki-pendaki pemula itu sendirian. Tapi gimana lagi, lha wong itu temennya dia semua,,hehe.. Bukannya saya underestimate atau bagaimana, Rinjani memang sebenarnya bukan untuk pendaki coba-coba. Butuh kesiapan fisik dan mental. Kalau persiapan fisik kurang, apalagi pengalaman mendakinya belum seberapa,,ya.. yang sabar aja pokoknya :)

Akhirnya pukul sembilan lewat mereka muncul juga. Handal juga, pikir saya, saya kira mereka nyerah dan nge-camp sebelum sampai ke Pelawangan,,hehe... Tapi ternyata mereka punya tekad yang kuat untuk nyusul saya, Kang Pendi, dan Jessi sampai ke Pelawangan (tapi entah nekat atau kepepet kehabisan air juga ndak tau sih,,hihi). Yang jelas malam itu semua lega karena anggota tim sudah berkumpul semua. Segera mereka bersih-bersih, makan malam,daann... seperti yang sudah saya duga, molor sampai pagi.

Jam dua dini hari Pelawangan sudah ramai sekali. Jam dua memang waktu yang ideal untuk summit attack. Jam satu ding sebenarnya. Karena perjalanan dari Pelawangan ke Puncak memakan waktu rata-rata 4 jam. Jadi kalau pingin liat sunrise di puncak ya harus berangkat jam segituan. Tapi,,, begitu teparnya tim kami hingga nggak sanggup bangun jamn segitu. Pada cidera kaki, otot, dan...otak (ups.) Hehee.. yang jelas, kami memang nggak begitu ngoyo untuk bisa summit attack, karena sesuai tujuan awal pendakian,,have fun aja lahh.. :D

Akhirny tim kami bisa riyip-riyip melek saat alam sudah cerah berawan, hoho. Sekitar jam 7 kami sarapan dan packing-packing, lalu siap-siap melakukan summit attack yang nggak berasa attack-nya lagi (karena kesiangan). Banyak orang heran kami baru siap-siap jam segitu. Para porter bilang, bahaya muncak siang-siang, resiko badai di atas,de el el. Tapi karena niat sudah bulat dan kepalang tanggung juga (udah jauh-jauh dari Semarang gitu lo..) akhirnya kami bertekad untuk tetap melakukan perjalanan sampai ke Puncak Anjani.

Segara Anak begitu menggoda dilihat dari pertengahan jalan menuju puncak :)




Pukul 08.00 WITA saya dan best partner saya, Dewan (semoga dia nggak Ge-eR) mulai jalan. Rombongan yang lain di belakang, masih poto-poto dengan background Segara Anak yang memang terlihat anggun sekali pagi itu dari Pelawangan. Kami memang sengaja berangkat duluan, selain sebagai patokan buat yang di belakang, juga untuk menghemat waktu, memperkecil resiko. Jalan ke puncak pada awalnya terjal, kemudian mulai berpasir-pasi landai dengan lembahan penuh edelweiss di kanan kiri. Indah sih, tapi sayang, mulai tertutup kabut. Efek karena kesiangan, kabut mulai naik. Nafas jadi sesak karena paru-paru kemasukan banyak air dari hasil nyedot kabut. Efek lainnya kepala pusing (ini juga bisa karena pengaruh perbedaan ketinggian sih..).

Begitulah, kami berjalan dan berjalan saja. Kadang-kadang lembahan edelweiss terlihat, kadang-kadang seperti berjalan di mimpi karena semuanya jadi putih tertutup kabut yang begitu tebal. Suara angin terkadang terdengar seperti siulan samar-samar. Saya bilang cuaca saat itu 'hampir' badai. Berkali-kali kami berhenti untuk menghirup oksigen lebih banyak (semakin susah karena semakin tinggi permukaan bumi Oksigen akan semakin tipis).

Di jalan, kami bukannya nggak bertemu siapa-siapa. Ketika baru mendaki kami sempat bertemu bule Amerika, rombongan dari Jakarta, rombongan dari Surabaya (wah, kelewat cerita tentang rombongan rusuh ini,,kapan-kapan aja deh,hehe...) dan rombongan-rombongan lain, yang semuanyaa.. t-u-r-u-n. Hmmh,, memang orang yang nggak normal aja yang nekat muncak di siang bolong plus di tengah badai. Tapi nggak papa, muncak yang maksa kayak saat itu sudah sering saya alami sama Dewan. Dulu waktu di Lawu, kondisinya juga hampir sama, badai sepanjang hari, dan kami seneng-seneng aja tuh, kecuali setelah lihat fotonya (nggak jelas mukanya siapa gara-gara kabut tebel banget T_T').

Tepat pukul 12.00 WITA (yang berarti tepat 4 jam) akhirnyaaa... kami sampai juga di puncak Anjani yang sudah sepi itu. Berasa mimpi, nggak percaya, tapi nyata. Akhirnya, saya menapakkan kaki juga di titik tertinggi ketiga di Indonesia. Di puncak gunung, yang katanya, terindah se-Indonesia. Alhamdulillah. :D Nggak lama kemudian Dewan menyusul. Kami hanya bisa ketawa-ketawa aja kayak orang gila. Puncak Anjani, man..!! hehe.. Euforia di puncak itu segera kami kendalikan dengan solat Dhuhur-Ashar Jamak Qosor dengan tayamum di sana. Kapan lagi coba bisa sujud di Puncak Anjani :) Mengucap syukur, berdoa, memuji nama Tuhan di puncak gunung itu,,,sesuatuuh.... (zzz...)

Total 25 menit kami di sana, foto-foto seadanya pake kamera poket Dewan (sayang yang bawa DSLR masih ketinggalan di belakang semua,,hmmh). Kemudian kami memutuskan untuk turun. Bukannya nggak mau menunggu teman-teman, tapi cuaca semakin meresahkan, pluss... kalau nanti turunnya bareng-bareng it meanss... nggak ada makanan mateng pas sampai bawah. Maka, kami turun duluan dengan tujuan bisa masak makan siang dulu buat teman-teman yang di belakang (heroik banget ya,,hehe..).

                                   Puncak Anjani 3726 mdpl

Beberapa menit berjalan turun dari puncak, kami bertemu teman-teman satu tim. Kang Pendi, Jessi, Kharis, dan Bagus. Loh, tinggal empat? Ternyata Mbak Nani dan Thole memutuskan untuk kembali ke Pelawangan karena kondisi fisik yang nggak memungkinkan. Kami sih maklum.. karena mereka berdua sama sekali belum pernah naik gunung.

Untung saja jalan turun, meskipun terjal, adalah pasir. Kabar baik bagi kaki saya yang nggak suka berjalan turun (hehe,,maunya naik level terus :p). Pasir yang empuk itu memanjakan jempol kaki saya hingga bisa turun sampai Pelawangan dengan selamat (alhamdulillah :D). Cukup 1,5 jam untuk turun dan menemukan Mbak Nani dan Thole di camp. Lalu kami masak-masak bareng untuk makan siang.

Sebenarnya, planning hari ini adalah bisa turun ke Segara Anak. Tapi, berhubung tim kedua kami yang ke puncak baru turun sekitar jam tiga, dan itu sudah cukup sore karena perjalanan Pelawangan-Segara Anak akan makan waktu 4 jam, maka kami memutuskan untuk bermalam lagi di Pelawangan. Molor sehari... yang ada di pikiran saya hanya satu: Logistik (jelas, lha wong memang saya seksi logistiknya..hehe). Karena jelas,, persiapan logistik hanya untuk 3 hari 2 malam. Tapi karena katanya di Segara Anak kita bisa mancing ikan sepuasnya, maka saya cukup tenangsetelah mendengar berita itu. Apalagi setelah Dewan janji mau dapetin ikan yang guede buat dibakar bareng-bareng (haha...sombong kali tu orang..). Maka malam itu kami lewatkan dengan pijet-pijet dan kerokan di dalam dome dan istirahat secukupnya. Gud nait...Zzzz............

(to be continued........)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar