Sekitar pukul 07.00 WITA kami sampai di Pelabuhan Lembar. Karena gerah plus lapar, akhirnya kami mampir dulu ke Masjid di dekat pelabuhan, mandi-mandi, setelah itu makan nasi pecel di sebelah masjid. Di sana kami bertemu rombongan dari Jakarta yang mau ke Rinjani juga, tim ini yang kelak kami sebut Tim Panser (karena badannya yang gede-gede). Sempet ngobrol-ngobrol sebentar sebelum akhirnya kami naik kapal jam 08.00 WITA.
Di kapal kami bertemu dengan sepasang turis. Saya sempet ngobrol bentar dengan mereka. Si cewek dari Kanada, sedangkan cowoknya dari USA. Mereka lagi liburan winter di negaranya. Mereka udah keliling Indonesia, mulai dari Jakarta, Jogja, Bromo, Bali, otw Lombok, dan rencana mereka akan melanjutkan perjalanan ke Flores, Sulawesi, kemudian kalau memungkinkan ke Timor Leste (dan saya heran, emang di sana ada wisata apa yak?). Dalam hati saya ngiri berat. Sekali ke Indonesia mereka langsung eksplor semuanya. Sedangkan diriku? Buat ke Rinjani aja harus ngimpi dulu, dua tahun baru kesampaian. Well, paling tidak itu menimbulkan motivasi untuk jalan-jalan lebih jauh lagi mengalahkan turis-turis itu, menjelajahi Indonesia. :)
Pukul 12.00 WITA kapal kami sampai di Pelabuhan Lembar. Tapii.. untuk bersandar kami masih harus antri dengan kapal-kapal lain. Alhasil, baru setelah hampir dua jam kemudian kami bisa menapakkan kaki di Pulau Seribu Masjid, Lombok. Sampai di darat kami disambut Bagus, dkk (teman Dewan waktu kulah S1) di Pelabuhan Lembar itu juga kami bertemu teman-teman baru yang akan join hiking, Thole dan Mbak Nani (selain Bagus juga).
Pose dulu sambil nunggu kapal antri bongkar muat ....... ^_^
Karena kami sampai lebih cepat dari perkiraan, rencana berangkat ke Sembalun yang awalnya tanggal 25 Desember 2012 (besok), kami ajukan langsung hari ini juga. Maka, sampai di kontrakan Bagus, kami segera siap-siap, checking akhir, cari pick up, daannnn......berangkaat!! :D
Foto pasukan sebelum berangkat (masih kinyis-kinyis)
Sampai Sembalun hari sudah larut malam, hampir jam 21.00 WITA. Suasana dingin menyergap, dan yang paling konyol (nggak terbayang sebelumnya) kami harus bongkar carrier dan ngecamp di depan kantor administrasi TNGR gara-gara nggak boleh numpang tidur di dalam area kantor. Baru itu saya ngecamp di tengah pemukiman penduduk. Masak pake kompor spirtus di tengah-tengah peradaban itu,,sesuatuh... T_T'
Lanjuttt...
Pagi harinya, setelah melewati berbagai kerempongan ritual pagi hari (bingung cari musole, WC, daaann.. air) kami packing dan sewa pick up sampai batas jalur mobil. Kami bertemu dan gabung dengan rombongan pendaki Tim Panser yang ketemu di Pelabuhan Gilimanuk kemarin di pick up sewaan. Karena kami berbanyak orang, maka masing-masing cukup bayar sepuluh ribu.
Hari sudah cukup siang, jam 09.00 WITA. Penjaga kantor administrasi sempat mengingatkan bahwa kami kesiangan. Kalau niat mendaki 3 hari dua malam, paling nggak tadi pagi harusnya berangkat jam 05.00, karena hari ini harus sampai Pelawangan dan nge-camp di sana. Saya sempet sebel juga karena waktu yang molor-molor. Jujur paling nggak suka tim yang nggak disiplin waktu (alias tidurnya ngebo semua, jadi molor deh...). Tapi apa daya, namanya rame-rame,,yang penting have fun aja lah.. :)
Jam sembilan lebih sedikit (karena tragedi sepatu jessi yang mengkap-mengkap, jadi ngelem dulu) kami mulai mendaki lewat jalur sembalun. Jalurnyalumayan santai, nggak begitu nanjak. Sabana di kanan-kiri dan banyak aliran air yang dapat kami lihat dari atas jembatan. Saya berjalan duluan sesuai instruksi komandan Pendi (entah siapa yang mengangkat dia, atau dia mengangkat dirinya sendiri,hehe..). Dua jam kemudian, kami sampai pos satu. Yang ada di depan, saya, Kang Pendi, dan Jessi. Kami istirahat sebentar sambil menunggu teman-teman yang lain sampai.
Setelah beberapa dari teman kami keliatan, kami lanjut jalan. Ternyata pos dua tidak begitu jauh. Hanya setengah jam dari pos satu. Di sana ada semacam posko dengan atap seng yang sebagian sudah rusak diterjang badai. Di sana kami ngobrol dengan rombongan dari Jakarta. Ada empat orang. Btw, sampai sekarang saya nggak habis pikir, kenapa orang Jakarta suka pake baju kotak-kotak kalau pas naik gunung. Nggak cuma sekali ini saya jumpai. Hampir di setiap pendakian saya ketemu orang Jakarta dan 90% dari mereka pakai kemeja kotak-kotak! (Suatu saat saya bikin penelitian tentang itu, hehe).
Okey, di pos dua, kami ketemu sama bule-bule yang lagi nunggu makanan siap. Asal tahu aja, bule-bule ini kalau naik gunung bawa guide plus porter (tukagn angkut barang) yang juga berperan sebagai koki buat mereka. Jadi sementara porter mereka masak, mereka duduk-duduk (bawa kursi lipat segala lo) sambil ngobrol gitu. Tak lama kemudian...jreeeeng...... nasi goreng spesial sudah siap mereka santap.
Sementara itu, beberapa meter di samping mereka....
Saya dan Jessi buka carrier, ngeluarin kompor spirtus, dan makanan andalan, mie instan. Jleb. Beda banget ya? Hehe... Well, setidaknya kami lebih fighter karena bawa barang-barang kami sendiri, hoho (pembelaan).
Di Pos Dua itu kami makan siang bareng-bareng. Cuaca mulai mendung dan gerimis. Memang sebelum berangkat banyak yang mengingatkan kami kenapa harus mendaki pas musim hujan. Tapi kesempatan kan nggak datang dua kali. Apalagi setelah lulus susah sekali menyatukan jadwal untuk jalan-jalan bareng. Jadi, ya.. kami terima saja resiko hujan, basah,dan lain sebagainya :)
Setelah Pos 3, ada yang disebut "Tujuh Bukit Penyesalan", Wew... menyeramkan kan namanya? hoho... kenapa disebut begitu? Karena isinya cuma bukit-bukit penuh tanjakan yang, katanya, akan membuat pendaki menyesal karena terlalu banyak di PHP-in. Maksudnya??
Hmm... di bukit-bukit nanjak itu, kalau kita melihat ke atas bukit, tampak seperti itu adalah akhir dari tanjakan. Tapi ketika sampai kesana,,jreng jreeeeeeng............. masih banyak bukit lain yang menanti untuk didaki, hiks.. hehehe... (alay-nya kumat).
Di bukit itu saya punya kenangan lucu tentang percakapan saya dengan Komandan Pendi di tengah-tengah bukit penyesalan.
Kang Pendi: "Kayaknya tinggal satu bukit ini terakhir, Nay."
Saya : "Kamu udah nyesel belum Kang?"
Kang Pendi: "Belum. Nggak akan dong!"
Saya : "Kalo gitu, nggak mungkin ini bukit terakhir."
Daaan... benar perkiraan saya, setelah itu masih ada tiga bukit lagi yang naudzubillah jalannya. Hehe....
Di akhir bukit penyesalan, jarakku dengan Kang Pendi, Jessi, apalagi dengan teman-teman lain semakin jauh dan terpencar-pencar. Sebenarnya saya pengen jalan bareng-bareng, tapi kebiasaan saya, nggak bisa berhenti lama-lama di tanjakan, pengennya segera selesai, terus baru istirahat total. Maka dari itu saya jalan duluan. Banyak orang heran, entah tulus kagum atau mencibir, mereka bilang saya kuat banget nggak istirahat sama sekali di tanjakan. Bukannya saya sok kuat, mereka nggak tahu aja, saya memang berjaya di tanjakan, tapi bakal ngesot-ngesot di turunan. Hehe...
Teman-teman yang udah sering muncak bareng saya pasti tau banget karakteristik kaki saya yang aneh (kata Dewan ada urat yang nggak nyambung). Jadi, seterjal apapun tanjakan, Insya Allah saya kuat mendakinya. Tapiii.. kalau di turunan, pasti dengkul nggak kuat menahan berat badan (ups).. akhirnya pasti cidera dan jalannya jadi sering kepleset plus ngesot-ngesot,hehe... Yang paling parah, kalau turunan curam, pasti kuku jempol saya cidera dan ujung-ujungnya copot. Dan asal tau aja, rasanya tuu..iuuuuhh......mending dikasih tanjakan lagi aja deh T_T'.
Hari semakin gelap, Pelawangan nggak kunjung keliatan. Dan saya sendirian berjalan, tanpa tim saya yang masih di belakang, Malah saya jadi bareng sama rombongan anak Jakarta yang berempat tadi. Yah, nggak papa lah, itung-itung teman ngobrol pikir saya. Tepat pukul 18.00 WITA saya sampai Pelawangan (finally!). Cuaca gelap, berkabut parah, dan gerimis yang hampir jadi hujan. Tapi teman-teman saya nggak keliatan juga. Saya berdiri di Pelawangan sendirian, harap-harap cemas, dan kedinginan menunggu mereka.
to be continued...............


Tidak ada komentar:
Posting Komentar