Selasa, 24 Januari 2012

Surat Cinta Gastropoda


Asteriodea, kurasa kita memang berjodoh. Tuhan memang menginginkan kita untuk bertemu meskipun kita tidak pernah menginginkannya. Kalau bukan karena Dia ingin kita saling mengenal tidak mungkin dia mengatur situasi sedemikian rupa hingga sore itu aku menemukanmu terdampar di pantai, putus asa. Aku masih ingat persis sayu matamu yang letih mencari jalan pulang. Tersesat sendirian. Aku paham sekali bagaimana rasa ketakutan itu menggerogoti sinar matamu yang padam. Bukan karena aku cukup peka, tapi karena aku pun pernah ada di keadaan itu di masa lampau.

Asteriodea, masih ingatkah kau kudekap erat karena badanmu menggigil berat menahan dinginnya tubuh yang basah dan ganasnya angin laut? Aku bahkan masih ingat wangi parfummu yang bercampur bau asin air laut. Juga titik-titik pasir putih yang kurasakan ketika aku membelai rambutmu.

Asteriodea, waktu itu kau sekarat. Begitu lemah dan pasrah. Dan aku menggendongmu menuju gubuk kecil di pinggir laut, tempat yang saat itu aku  pikir akan menjadi tempatku menghabiskan sisa umurku di dunia  ini. Saat itu aku bahagia sekali, setelah sekian lama sendirian dan menyimpan luka, akhirnya aku menemukan kamu, yang akan menjadi temanku di pantai yang sepi ini.

Malam itu kudekap kau lebih erat, agar kau lebih hangat. Kugosokkan handuk kering ke seluruh tubuhmu. Kupeluk hingga aku dan kau tertidur. Masih ingatkah, bahkan saat itu pun kita bertemu lagi di mimpi?

Sejak sore pertemuan kita itu kita selalu bersama-sama, aku selalu membawamu kemana pun aku pergi. Menyusuri pantai, menunggu matahari terbenam, menanti pagi. Aku bersyukur sekali engkau ada. Meski terkadang kau pergi sendiri bermain pasir dan aku hanya melihatmu dari dalam gubuk kita, tersenyum mengamati wajahmu yang merona terkena panasnya sinar matahari. Kau menatapku dari kejauhan, dan aku membalasnya dengan lambaian tangan.  
Setiap aku merasa sepi aku mencarimu dan menarikmu kembali ke sampingku. Saat itu aku semakin yakin Tuhan memang mengirimkan kau untukku. Untuk menemani hidupku di pinggir pantai yang sepi ini. Hingga saat itu datang.
Suatu pagi yang tidak akan pernah aku lupakan. Saat aku bangun dan tidak menemukanmu di manapun. Di atas ranjang kita, di dapur, di sisi manapun gubuk kita, di halaman, di pantai, di pasir. Engkau hilang. Engkau pergi tanpa meninggalkan pertanda sedikit pun.

Aku mencarimu sepanjang pantai, hampir masuk ke hutan. Mungkin akan masuk ke hutan kalau aku tidak ingat bahwa kau membenci hutan.  Aku mencarimu di sela-sela karang, di balik bebatuan, dan kau tidak ada. Tidak ada sedikitpun tanda bahwa kau ada.

Aku seperti tersedot ke masa lalu. Dimana aku menghabiskan hari-hariku sendiri di tempat terkutuk ini. Mendadak aku berkeringat dingin, gemetar. Ketakutan melanda tanpa ampun. Aku takut kau benar-benar pergi meninggalkanku. Maka aku kembali mencari untuk ke sekian kali. Mengitari pantai, mengoyak karang dan bebatuan, bahkan merobohkan gubuk kita.

Tapi kau tetap tak ada.

Bahkan baumu pun menghilang.

Asteriodea, aku tiba pada ambang sadarku. Mempertanyakan kewarasanku sendiri. Apakah engkau memang benar-benar ada? Ataukah engkau hanya halusinasi anak dari segala keputusasaanku yang sendiri dan sakit ini? Benarkah tubuhmu kudekap tiap malam atau hanya aku yang sedang bermimpi panjang?

Asteriodea, di tengah keputusasaanku mencarimu aku bertanya kepada Tuhan, jika engkau memang bukan untukku lalu kenapa Tuhan mengenalkanku pada dirimu? Yang begitu rapuh hingga aku merasa perlu melindungimu. Yang begitu hangat untuk kudekap dalam tiap malamku. Kenapa Tuhan menciptakan perasaan nyaman ketika bersamamu? Dan kenapa Tuhan melenyapkanmu begitu saja hingga aku berantakan seperti sekarang??

Malam itu kutunggu kamu datang beralaskan pasir dan beratapkan langit bertaburan bintang.  Aku berdoa semoga semua ini hanya mimpi dan ketika aku bangun nanti kita sedang saling mendekap dalam gubuk kita yang mungil. Tapi hanya kekecewaan yang aku dapatkan. Pada bangunku pun yang kutemukan hanya sinar mentari dan lautan pasir.

Mungkinkah kau telah pulang, Asteriodea? Ke tempat seharusnya kau hidup? Apakah kedatanganmu ke pantai ini hanya sekedar bermain saja dan aku yang salah mengartikan pertemuanku denganmu? Terlalu tinggikah harapanku untuk terus bersamamu di setiap pagi dan malamku?

Asteriodea, tak bisakah, sekejap saja kau kembali dan menjelaskan semuanya? Paling tidak ijinkan aku mendekapmu sekali lagi sebelum engkau kembali ke dasar lautmu.
Telah lelah aku menantimu di pinggir pantai ini. Setiap hari berharap aku bangun dan engkau tersenyum di sampingku. Harapku mungkin terdengar seperti lelucon untukmu, karena mungkin sekarang kau sudah menemukan kembali kehidupanmu. Usahaku menyelamatkanmu mungkin adalah hal yang bodoh. Terdamparmu mungkin hanyalah jarak waktu untuk kembali pulang. Dan aku bukannya mengembalikanmu ke rumah, malah menculikmu ke dalam gubukku. Sifat heroikku yang ingin melindungimu mungkin konyol karena sebenarnya kau tidak memerlukan perlindungan apapun dari siapapun. Kau, saat itu, hanya sedang kebingungan mencari rumahmu.

Asteriodea, maafkan aku. Atas semua ketidakpahamanku akan sikap diammu. Atas kebodohanku mengartikan padamnya sinar matamu. Atas keterlambatanku menyadari bahwa aku bukan malaikat pelindungmu seperti yang aku selalu rasakan setiap aku mendekapmu.

Asteriodea, pulanglah. Sampaikan salamku pada kehidupanmu, sampaikan maafku yang sempat menculikmu sekian lama. Sungguh, aku tidak pernah bermaksud demikian.
Akupun juga akan pulang. Pantai ini terlalu sepi untuk ditinggali sendiri. Meskipun aku belum tahu kemana aku akan pulang, tapi aku merasa, pantai ini bukan rumahku yang sebenarnya. Tidak mungkin Tuhan menginginkanku untuk hidup sendiri seumur hidupku. Tidak mungkin pula aku hanya diam dan menunggu rumahku datang menghampiriku.

Maka, sudah kuputuskan, aku akan mencari jalanku pulang. Meninggalkan puing-puing gubuk kita yang berantakan. Meninggalkan kenanganku bersamamu di pantai ini. Akan tidak mudah menyingkirkanmu dari ingatanku, Asteriodea, tapi untuk apa aku harus terus berharap pada sesuatu yang sudah menemukan tempatnya dan tak mungkin kembali menghampiriku?

Asteriodea, pesan ini kutinggalkan di balik batu besar tempat sembunyi kesukaanmu ketika kita bercanda dulu. Masih tersisa sedikit kekhawatiran jika suatu hari nanti kau merindukanku lalu datang ke tempat ini dan bersedih karena aku tak di sini lagi. Maka aku tulis pesan ini untukmu kekasih impianku, Asteriodea. Aku pergi bukan karena aku ingin meninggalkanmu. Aku pergi karena aku yakin kau sudah menemukan rumahmu, tempat seharusnya kau berada. Jika Tuhan memang menciptakan titik temu kita untuk yang kedua kali, maka sejauh apapun aku melangkah dan sedalam apapun engkau menyelam, maka akan ada ribuan alasan yang akan mempertemukan kita kembali.

Selamat tinggal, Asteriodea.
Aku akan mengenangmu sebagai bintang laut terindah dalam hatiku. Bintang laut hatiku.

Tertanda,
Gastropoda

Selasa, 17 Januari 2012

Babak Baru


Memasuki dunia yang baru, dengan manusia-manusia yang baru dan sistem yang baru pula. Dari sini saya menyadari bahwa ternyata saya sudah sangat lama tidak bersinggungan dengan kata persaingan. Bahwa saya sudah melupakan yang namanya kompetisi dengan orang lain karena kesadaran bahwa pendidikan adalah bukan perbandingan antara kita dengan orang lain melainkan perbandingan antara diri kita sendiri sebelum menerima dan setelah menjalani proses pendidikan.

Namun memasuki dunia baru ini seakan menyedot lagi ingatan saya pada masa-masa dimana mental persaingan selalu ditanamkan pada diri anak-anak. Ini menyedihkan sekali. Kenapa anak-anak kita harus dijejali dengan doktrin-doktrin untuk saling mengalahkan satu sama lain, haruskah kemenangan itu didapat dengan mengalahkan orang lain? Saya tidak melihat kenikmatan menuntut ilmu pada diri anak-anak itu, yang ada hanya ekspresi tertekan untuk bisa mencapai target yang diharapkan.

Dunia pendidikan ini semakin membuat saya tidak mengerti. Termasuk babak baru dalam hidup saya ini. Dimana saya harus menjadi bagian untuk mendoktrin mereka berlomba-lomba mengalahkan satu sama lain.

Bukan itu yang saya mau. Saya maunya anak-anak belajar karena mereka memang haus ilmu pengetahuan. Saya rindu melihat wajah-wajah ingin tahu dan antusias pada ilmu baru. Saya miris melihat wajah-wajah jenuh dan tertekan dimana-mana seperti di tempat kerja saya yang baru ini. Sedih sekali.

Lebih sedih lagi karena saya tidak bisa melakukan apa-apa selain ikut bersinergi dengan mereka. Bukan, saya hanya belum bisa. Saya yakin suatu saat saya pasti bisa. Menemukan formula yang tepat untuk sistem pendidikan yang melindungi pembelajar. Saya hanya perlu banyak dan banyak belajar lagi di mana pun, dengan siapa pun. Maka babak baru dalam hidup ini akan saya anggap bagian dari pembelajaran. Referensi penyempurna konsep pendidikan yang saya inginkan.

Saya percaya hari itu akan datang, hari dimana pendidikan bukan lagi ajang persaingan dan pemaksaan. Saya hanya perlu belajar lebih keras.

Ganbatte!

Semarang
10.42 WIB

Rabu, 11 Januari 2012

Januari ini...


Ketika kemarin saya menulis resolusi tahun 2012 dengan penuh semangat di akhir postingan saya, sekarang saya harus menerima kenyataan bahwa salah satu harapan itu ternyata harus pupus di bulan pertama tahun 2012 ini. Yah, dengan tidak disangka-sangka dia meminta kebebasannya kembali.
Permintaan itu seperti jamur yang tiba-tiba tumbuh di kulit yang sangat terawat, seperti jerawat yang tiba-tiba muncul saat bangun tidur di pagi hari padahal kita tidak pernah lupa mencuci wajah setiap malam sebelum tidur.
Sangat terpukul dan terkejut. Tidak ada permasalahan di antara kami. Everything’s normal, 100%, dan tiba-tiba dia ingin mundur dari status pacaran ke status kami yang sebelumnya yang nggak jelas.
Sedih. Ternyata di balik rencana-rencana yang kami buat bersama dia masih menyimpan rasa ragu. Tentang hubungan kami, tentang masa depan kami.
Satu yang saya ingat, alasannya malam itu via telepon, dia tidak ingin menyakiti saya. Dia tidak ingin selingkuh atau dibilang orang selingkuh ketika dia dekat dengan cewek lain di sana meskipun dia tidak berniat selingkuh.
Naif. Tapi saya menghargai kejujurannya. Saya mengerti di usianya yang saat ini dia masih ingin bermain-main dengan banyak hal, dia masih ingin berhubungan dengan banyak orang, pergi sejauh yang dia bisa, melakukan hal-hal gila dengan teman sepermainan dan sebagainya. Saya sadar saya tidak berhak merampas kebebasannya itu untuk sekedar menemani saya. Di rumah yang nyaman, ngobrol berdua, tidur lebih awal, pergi dengan anak-anak...
Jika saya ada di posisi dia, saya pasti juga akan melakukan hal yang sama.
Meskipun malam itu saya berusaha untuk tidak menangis, hati saya tidak bisa berbohong untuk tidak bersedih.
Saya sedih, harus melepas orang yang saya cintai untuk ke sekian kali. Lebih sedih karena dia bilang masih mencintai saya tetapi memang harus pergi.
Saya sangat tahu keadaan ini.
Seharusnya saya tahu hubungan ini terlalu absurd untuk dijalani.
Namun entah kenapa saya masih sakit.
Hufft.

Minggu, 08 Januari 2012

tentang tulisan saya

Mau tidak mau Raditya Dika begitu mempengaruhi gaya tulisan saya. Hal ini bisa jadi baik bisa jadi buruk. Baiknya tulisan saya bisa berkembang dengan sentuhan lain yang lebih humanis. Buruknya, hal itu harus saya kendalikan karena saat ini saya sedang mengerjakan novel dengan gaya tulisan yang sangat-sangat berbeda dengan dia.

Berbeda dengan gaya bahasa Raditya Dika yang harus saya waspadai akhir-akhir ini karena khawatir novel saya akan 'tercemar' dan kehilangan jati dirinya, saya begitu cinta mati dengan tulisan Dee. Saya sangat ingin bisa menulis seperti Dee. Sayangnya segigih apapun saya mencoba, tampaknya saya memang belum bisa menulis secanggih itu.

Saya selalu percaya tulisan seseorang itu mencerminkan tingkat intelektualitasnya, pengetahuannya, pribadinya, karakternya, sudut pandang dia, meskipun mereka tidak sedang bercerita tentang diri mereka sendiri. Tapi saya selalu yakin, ada sebagian ruh mereka yang masuk dan memberi ruh tulisan mereka sehingga tulisan yang tercipta mau tidak mau merupakan replika sebagian diri si penulis.

Pertama saya membiarkan orang lain membaca tulisan saya, sebenarnya saya agak takut juga. Takut orang-orang itu kemudian menemukan diri saya yang sebenarnya di balik tulisan-tulisan itu. Takut kalau karakter buruk yang selama ini saya sembunyikan akhirnya terungkap lewat tulisan-tulisan saya.
Dan percaya atau tidak, itu benar-benar terjadi.

Anehnya saya bersyukur dan malah menjadi tidak takut lagi untuk men-share tulisan-tulisan saya. Bukankah itu jauh lebih baik? Membiarkan mereka semua tahu siapa diri saya sebenarnya meski bukan dengan mulut saya. Setidaknya saya tidak perlu memakai topeng lagi ketika harus bicara dengan orang lain karena mereka (yang sudah membaca tulisan saya) telah tahu saya orang yang bagaimana, bagaimana tingkat pengetahuan saya, bagaimana cara saya memandang suatu hal. Semuanya justru akan menjadi lebih mudah.

Saya merasakan feel yang berbeda ketika saya berbicara dengan orang-orang yang sudah membaca tulisan saya. Saya merasa sedikit banyak mereka sudah mengenal saya yang sebenarnya. Saya sangat bersyukur bisa menulis dan senang menulis.

Meskipun kekaguman pada Raditya Dika harus diwaspadai dengan gaya tulisannya yang kuat yang bisa-bisa 'meracuni' novel saya selanjutnya, dan kekaguman pada Dee harus dikendalikan agar saya tidak tegoda   menulis cerpen alih-alih meneruskan novel yang setengah jalan, saya tetap mencintai mereka berdua dan bermimpi suatu saat bisa menjadi seperti mereka berdua.

Saya masih berani bermimpi. Sampai detik ini, saya masih mampu. 
Saya sangat bersyukur dengan hal itu.
:) 

Semarang
@kamar kos gelap

Jumat, 06 Januari 2012

myself


Foto ini tanpa editan
Saya pikir tidak ada yang salah pada diri saya
Lalu kenapa sulit sekali menemukan orang yang mau mencintai dan dicintai setulus hati?

Selasa, 03 Januari 2012

catatan akhir tahun 2011


Tahun 2011 adalah tahun pertama saya mengenal dunia di luar kampus. Tahun ini saya awali dengan belajar di Kampung Inggris, Pare yang ternyata mengajari saya tidak hanya sekedar bahasa Inggris, tapi juga mengajari saya tentang sistem pendidikan yang merakyat dan menyenangkan, tentang pengendalian diri, tentang impian yang harus diperjuangkan.

Bulan pertama tahun ini cukup berat karena sindrom putus cinta yang masih tersisa di akhir tahun 2010. Putus cinta yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika kami bisa mengendalikan ego kami masing-masing. Namun, di akhir bulan pertama ini juga saya menemukan seseorang yang  mengundang saya masuk ke kehidupannya yang asing. Sangat asing hingga saya merasa dia adalah pangeran dari negeri seberang yang tiba-tiba meminta saya menjadi istrinya. 

Bulan-bulan berikutnya pun terasa lebih ringan dengan hubungan baru yang kami jalin. Hubungan yang lebih mirip dengan cerita-cerita ftv. Jalan-jalan dengan sepeda, belajar bersama, main ke sawah, hingga akhirnya kebersamaan itu harus terhenti di Bulan April karena saya harus meninggalkan Pare untuk mulai bekerja.
Saya tinggalkan pangeran dari negeri seberang itu, saya tinggalkan bumi impian saya dan kemudian kembali ke alam nyata saya untuk menghadapi kehidupan saya selanjutnya.

Awal Mei saya mulai bekerja di sebuah sekolah negeri di kabupaten sendiri. Saya mulai masuk dunia kerja dengan segala suka dukanya. Beradaptasi dengan segala hal baru yang harus saya hadapi di sana. Awalnya saya pikir semua baik-baik saja. Pekerjaan saya, kehidupan saya, hubungan saya, sebelum akhirnya pada sekitar Bulan Ramadhan, pertengahan Agustus saya tahu bahwa pangeran dari negeri seberang itu sudah menemukan ‘calon istri’ baru di negeri impian saya, Pare. Saya ditipu mentah-mentah, ingin tertawa ketika mengingatnya, tapi ya sudahlah. Mungkin memang jalannya harus begitu.

Bulan Agustus dan September menjadi bulan-bulan terberat saya di tahun ini. Di bulan-bulan ini tekanan datang dari berbagai pihak. Mulai terasa konflik dalam semua lini kehidupan saya. Di bulan-bulan ini juga saya memutuskan meneruskan studi saya sehingga saya harus siap bolak-balik Bojonegoro-Semarang untuk kuliah sekaligus bekerja. Berbagai macam pekerjaan menumpuk dengan suasana hati yang kacau balau. Saya masih ingat bagaimana lelahnya tubuh dan perasaan saya pada waktu itu. Untunglah saat itu saya tidak sendirian. Tuhan mengirimkan beberapa teman yang selalu mensupport saya, menghibur saya, membuat saya tetap tersenyum meski sepertinya saat itu tidak ada keinginan untuk tersenyum.

Satu diantara teman saya saat itu adalah seorang teman sekelas ketika belajar di Pare. Dia menemani saya setiap hari dengan sms-smsnya. Dia mau mendengarkan keluh kesah saya setiap malam. Dia mampu menjadi sandaran ketika saya lelah menghadapi hidup saya. Dan hal itu semakin terasa setelah hubungan saya yang terakhir berakhir dengan cukup menyedihkan.

Saya tidak tahu apa nama hubungan kami ini. Terlalu absurd jika kami menyebut ini pacaran karena kami sangat berbeda dalam segala segi yang kasat mata. Maka Bulan September kami lewati dengan menyimpan perasaan yang sepertinya tidak pantas untuk diungkapkan. Hingga akhirnya sekitar akhir September, dia punya inisiatif untuk mengatakan lebih dulu rasa yang sama-sama kami simpan akhir-akhir ini. Dari sini kami masih belum yakin akan menyepakati hubungan ini sebagai sebuah hubungan pacaran atau apa, kami hanya merasa nyaman berbagi satu sama lain dan semuanya berjalan ringan seperti perahu kertas yang mengikuti arus air. 

Kami tidak tahu kapan pastinya kami yakin hubungan ini adalah semacam ‘pacaran’ tapi toh kemudian kami menyerah juga untuk tidak menganggap hubungan ini ‘pacaran’. Maka akhirnya kami berani untuk mengubah status hubungan di facebook kami dengan status ‘engaged’. Baik saya maupun dia tidak tahu alasannya, tapi kami merasa lebih nyaman menggunakan status itu dibanding dengan ‘in relationship’.

Hubungan kami berjalan ringan, saya dan dia sudah mengenal dengan baik satu sama lain. Meskipun dia berada jauh di Malang dan saya mungkin dalam waktu dekat akan hijrah ke Semarang, namun kami optimis semua akan baik-baik saja. Baik dia maupun saya mengetahui latar belakang masing-masing, tidak ada rahasia, atau setidaknya saya tidak menyimpan rahasia, dan sejauh ini terasa sangat nyaman. 

Di bulan September-Oktober ini juga saya mendapatkan kesempatan untuk mencetak novel saya. Sebuah impian lama yang akhirnya dikabulkan Tuhan. Saya kirimkan novel itu pada orang-orang yang saya anggap sangat berpengaruh dalam hidup saya. Dan saya berharap sekali banyak yang mengapresiasinya. Hingga saat ini novel itu masih dipromokan di sana sini. Semoga tahun depan sudah mulai bisa masuk ke toko-toko buku.

Awal Desember saya memutuskan untuk resign dan fokus kuliah. Begitu berat meninggalkan lingkungan kerja yang sudah sangat bersahabat, namun bukankah hidup memang harus selalu bergerak?
Dan malam ini, tanggal 31 Desember, saya menulis untuk merenungkan semuanya. Segala yang terjadi di tahun 2011. Orang-orang yang datang dan pergi dalam hidup saya begitu beragam di tahun ini. Berbagai macam masalah baru menyapa saya pada tahun ini.

Saya mendapat banyak pelajaran di tahun ini dan saya yakin saya akan mendapatkan yang lebih di tahun depan. Saya yakin kehidupan saya akan lebih kompleks di tahun depan namun saya juga optimis saya bisa melewatinya dengan senyuman seperti di akhir tahun ini.

Semoga di tahun depan saya menjadi lebih baik lagi. Gunung Rinjani bisa saya daki, novel saya bisa masuk ke seluruh toko buku di Indonesia, kuliah saya lancar-lancar saja, hubungan saya baik-baik saja, pekerjaan baru saya menyenangkan, bisnis kecil saya bisa survive, lingkungan baru saya kondusif, tabungan di rekening Bank saya bertambah, saya bisa menyelesaikan novel baru saya, saya sehat dan bisa tersenyum sepanjang tahun. Amin.