Tahun 2011 adalah tahun pertama saya mengenal
dunia di luar kampus. Tahun ini saya awali dengan belajar di Kampung Inggris,
Pare yang ternyata mengajari saya tidak hanya sekedar bahasa Inggris, tapi juga
mengajari saya tentang sistem pendidikan yang merakyat dan menyenangkan,
tentang pengendalian diri, tentang impian yang harus diperjuangkan.
Bulan pertama tahun ini cukup berat karena
sindrom putus cinta yang masih tersisa di akhir tahun 2010. Putus cinta yang
sebenarnya tidak perlu terjadi jika kami bisa mengendalikan ego kami
masing-masing. Namun, di akhir bulan pertama ini juga saya menemukan seseorang
yang mengundang saya masuk ke
kehidupannya yang asing. Sangat asing hingga saya merasa dia adalah pangeran
dari negeri seberang yang tiba-tiba meminta saya menjadi istrinya.
Bulan-bulan berikutnya pun terasa lebih ringan
dengan hubungan baru yang kami jalin. Hubungan yang lebih mirip dengan
cerita-cerita ftv. Jalan-jalan dengan sepeda, belajar bersama, main ke sawah,
hingga akhirnya kebersamaan itu harus terhenti di Bulan April karena saya harus
meninggalkan Pare untuk mulai bekerja.
Saya tinggalkan pangeran dari negeri seberang
itu, saya tinggalkan bumi impian saya dan kemudian kembali ke alam nyata saya
untuk menghadapi kehidupan saya selanjutnya.
Awal Mei saya mulai bekerja di sebuah sekolah
negeri di kabupaten sendiri. Saya mulai masuk dunia kerja dengan segala suka
dukanya. Beradaptasi dengan segala hal baru yang harus saya hadapi di sana.
Awalnya saya pikir semua baik-baik saja. Pekerjaan saya, kehidupan saya,
hubungan saya, sebelum akhirnya pada sekitar Bulan Ramadhan, pertengahan
Agustus saya tahu bahwa pangeran dari negeri seberang itu sudah menemukan
‘calon istri’ baru di negeri impian saya, Pare. Saya ditipu mentah-mentah,
ingin tertawa ketika mengingatnya, tapi ya sudahlah. Mungkin memang jalannya
harus begitu.
Bulan Agustus dan September menjadi bulan-bulan
terberat saya di tahun ini. Di bulan-bulan ini tekanan datang dari berbagai
pihak. Mulai terasa konflik dalam semua lini kehidupan saya. Di bulan-bulan ini
juga saya memutuskan meneruskan studi saya sehingga saya harus siap bolak-balik
Bojonegoro-Semarang untuk kuliah sekaligus bekerja. Berbagai macam pekerjaan
menumpuk dengan suasana hati yang kacau balau. Saya masih ingat bagaimana
lelahnya tubuh dan perasaan saya pada waktu itu. Untunglah saat itu saya tidak
sendirian. Tuhan mengirimkan beberapa teman yang selalu mensupport saya,
menghibur saya, membuat saya tetap tersenyum meski sepertinya saat itu tidak
ada keinginan untuk tersenyum.
Satu diantara teman saya saat itu adalah
seorang teman sekelas ketika belajar di Pare. Dia menemani saya setiap hari
dengan sms-smsnya. Dia mau mendengarkan keluh kesah saya setiap malam. Dia
mampu menjadi sandaran ketika saya lelah menghadapi hidup saya. Dan hal itu
semakin terasa setelah hubungan saya yang terakhir berakhir dengan cukup
menyedihkan.
Saya tidak tahu apa nama hubungan kami ini.
Terlalu absurd jika kami menyebut ini pacaran karena kami sangat berbeda dalam
segala segi yang kasat mata. Maka Bulan September kami lewati dengan menyimpan
perasaan yang sepertinya tidak pantas untuk diungkapkan. Hingga akhirnya
sekitar akhir September, dia punya inisiatif untuk mengatakan lebih dulu rasa
yang sama-sama kami simpan akhir-akhir ini. Dari sini kami masih belum yakin
akan menyepakati hubungan ini sebagai sebuah hubungan pacaran atau apa, kami
hanya merasa nyaman berbagi satu sama lain dan semuanya berjalan ringan seperti
perahu kertas yang mengikuti arus air.
Kami tidak tahu kapan pastinya kami yakin
hubungan ini adalah semacam ‘pacaran’ tapi toh kemudian kami menyerah juga
untuk tidak menganggap hubungan ini ‘pacaran’. Maka akhirnya kami berani untuk
mengubah status hubungan di facebook kami dengan status ‘engaged’. Baik saya
maupun dia tidak tahu alasannya, tapi kami merasa lebih nyaman menggunakan
status itu dibanding dengan ‘in relationship’.
Hubungan kami berjalan ringan, saya dan dia
sudah mengenal dengan baik satu sama lain. Meskipun dia berada jauh di Malang
dan saya mungkin dalam waktu dekat akan hijrah ke Semarang, namun kami optimis
semua akan baik-baik saja. Baik dia maupun saya mengetahui latar belakang
masing-masing, tidak ada rahasia, atau setidaknya saya tidak menyimpan rahasia,
dan sejauh ini terasa sangat nyaman.
Di bulan September-Oktober ini juga saya
mendapatkan kesempatan untuk mencetak novel saya. Sebuah impian lama yang
akhirnya dikabulkan Tuhan. Saya kirimkan novel itu pada orang-orang yang saya
anggap sangat berpengaruh dalam hidup saya. Dan saya berharap sekali banyak
yang mengapresiasinya. Hingga saat ini novel itu masih dipromokan di sana sini.
Semoga tahun depan sudah mulai bisa masuk ke toko-toko buku.
Awal Desember saya memutuskan untuk resign dan
fokus kuliah. Begitu berat meninggalkan lingkungan kerja yang sudah sangat
bersahabat, namun bukankah hidup memang harus selalu bergerak?
Dan malam ini, tanggal 31 Desember, saya
menulis untuk merenungkan semuanya. Segala yang terjadi di tahun 2011.
Orang-orang yang datang dan pergi dalam hidup saya begitu beragam di tahun ini.
Berbagai macam masalah baru menyapa saya pada tahun ini.
Saya mendapat banyak pelajaran di tahun ini dan
saya yakin saya akan mendapatkan yang lebih di tahun depan. Saya yakin
kehidupan saya akan lebih kompleks di tahun depan namun saya juga optimis saya
bisa melewatinya dengan senyuman seperti di akhir tahun ini.
Semoga di tahun depan saya menjadi lebih baik
lagi. Gunung Rinjani bisa saya daki, novel saya bisa masuk ke seluruh toko buku
di Indonesia, kuliah saya lancar-lancar saja, hubungan saya baik-baik saja,
pekerjaan baru saya menyenangkan, bisnis kecil saya bisa survive, lingkungan
baru saya kondusif, tabungan di rekening Bank saya bertambah, saya bisa
menyelesaikan novel baru saya, saya sehat dan bisa tersenyum sepanjang tahun.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar