Selasa, 03 Januari 2012

catatan akhir tahun 2011


Tahun 2011 adalah tahun pertama saya mengenal dunia di luar kampus. Tahun ini saya awali dengan belajar di Kampung Inggris, Pare yang ternyata mengajari saya tidak hanya sekedar bahasa Inggris, tapi juga mengajari saya tentang sistem pendidikan yang merakyat dan menyenangkan, tentang pengendalian diri, tentang impian yang harus diperjuangkan.

Bulan pertama tahun ini cukup berat karena sindrom putus cinta yang masih tersisa di akhir tahun 2010. Putus cinta yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika kami bisa mengendalikan ego kami masing-masing. Namun, di akhir bulan pertama ini juga saya menemukan seseorang yang  mengundang saya masuk ke kehidupannya yang asing. Sangat asing hingga saya merasa dia adalah pangeran dari negeri seberang yang tiba-tiba meminta saya menjadi istrinya. 

Bulan-bulan berikutnya pun terasa lebih ringan dengan hubungan baru yang kami jalin. Hubungan yang lebih mirip dengan cerita-cerita ftv. Jalan-jalan dengan sepeda, belajar bersama, main ke sawah, hingga akhirnya kebersamaan itu harus terhenti di Bulan April karena saya harus meninggalkan Pare untuk mulai bekerja.
Saya tinggalkan pangeran dari negeri seberang itu, saya tinggalkan bumi impian saya dan kemudian kembali ke alam nyata saya untuk menghadapi kehidupan saya selanjutnya.

Awal Mei saya mulai bekerja di sebuah sekolah negeri di kabupaten sendiri. Saya mulai masuk dunia kerja dengan segala suka dukanya. Beradaptasi dengan segala hal baru yang harus saya hadapi di sana. Awalnya saya pikir semua baik-baik saja. Pekerjaan saya, kehidupan saya, hubungan saya, sebelum akhirnya pada sekitar Bulan Ramadhan, pertengahan Agustus saya tahu bahwa pangeran dari negeri seberang itu sudah menemukan ‘calon istri’ baru di negeri impian saya, Pare. Saya ditipu mentah-mentah, ingin tertawa ketika mengingatnya, tapi ya sudahlah. Mungkin memang jalannya harus begitu.

Bulan Agustus dan September menjadi bulan-bulan terberat saya di tahun ini. Di bulan-bulan ini tekanan datang dari berbagai pihak. Mulai terasa konflik dalam semua lini kehidupan saya. Di bulan-bulan ini juga saya memutuskan meneruskan studi saya sehingga saya harus siap bolak-balik Bojonegoro-Semarang untuk kuliah sekaligus bekerja. Berbagai macam pekerjaan menumpuk dengan suasana hati yang kacau balau. Saya masih ingat bagaimana lelahnya tubuh dan perasaan saya pada waktu itu. Untunglah saat itu saya tidak sendirian. Tuhan mengirimkan beberapa teman yang selalu mensupport saya, menghibur saya, membuat saya tetap tersenyum meski sepertinya saat itu tidak ada keinginan untuk tersenyum.

Satu diantara teman saya saat itu adalah seorang teman sekelas ketika belajar di Pare. Dia menemani saya setiap hari dengan sms-smsnya. Dia mau mendengarkan keluh kesah saya setiap malam. Dia mampu menjadi sandaran ketika saya lelah menghadapi hidup saya. Dan hal itu semakin terasa setelah hubungan saya yang terakhir berakhir dengan cukup menyedihkan.

Saya tidak tahu apa nama hubungan kami ini. Terlalu absurd jika kami menyebut ini pacaran karena kami sangat berbeda dalam segala segi yang kasat mata. Maka Bulan September kami lewati dengan menyimpan perasaan yang sepertinya tidak pantas untuk diungkapkan. Hingga akhirnya sekitar akhir September, dia punya inisiatif untuk mengatakan lebih dulu rasa yang sama-sama kami simpan akhir-akhir ini. Dari sini kami masih belum yakin akan menyepakati hubungan ini sebagai sebuah hubungan pacaran atau apa, kami hanya merasa nyaman berbagi satu sama lain dan semuanya berjalan ringan seperti perahu kertas yang mengikuti arus air. 

Kami tidak tahu kapan pastinya kami yakin hubungan ini adalah semacam ‘pacaran’ tapi toh kemudian kami menyerah juga untuk tidak menganggap hubungan ini ‘pacaran’. Maka akhirnya kami berani untuk mengubah status hubungan di facebook kami dengan status ‘engaged’. Baik saya maupun dia tidak tahu alasannya, tapi kami merasa lebih nyaman menggunakan status itu dibanding dengan ‘in relationship’.

Hubungan kami berjalan ringan, saya dan dia sudah mengenal dengan baik satu sama lain. Meskipun dia berada jauh di Malang dan saya mungkin dalam waktu dekat akan hijrah ke Semarang, namun kami optimis semua akan baik-baik saja. Baik dia maupun saya mengetahui latar belakang masing-masing, tidak ada rahasia, atau setidaknya saya tidak menyimpan rahasia, dan sejauh ini terasa sangat nyaman. 

Di bulan September-Oktober ini juga saya mendapatkan kesempatan untuk mencetak novel saya. Sebuah impian lama yang akhirnya dikabulkan Tuhan. Saya kirimkan novel itu pada orang-orang yang saya anggap sangat berpengaruh dalam hidup saya. Dan saya berharap sekali banyak yang mengapresiasinya. Hingga saat ini novel itu masih dipromokan di sana sini. Semoga tahun depan sudah mulai bisa masuk ke toko-toko buku.

Awal Desember saya memutuskan untuk resign dan fokus kuliah. Begitu berat meninggalkan lingkungan kerja yang sudah sangat bersahabat, namun bukankah hidup memang harus selalu bergerak?
Dan malam ini, tanggal 31 Desember, saya menulis untuk merenungkan semuanya. Segala yang terjadi di tahun 2011. Orang-orang yang datang dan pergi dalam hidup saya begitu beragam di tahun ini. Berbagai macam masalah baru menyapa saya pada tahun ini.

Saya mendapat banyak pelajaran di tahun ini dan saya yakin saya akan mendapatkan yang lebih di tahun depan. Saya yakin kehidupan saya akan lebih kompleks di tahun depan namun saya juga optimis saya bisa melewatinya dengan senyuman seperti di akhir tahun ini.

Semoga di tahun depan saya menjadi lebih baik lagi. Gunung Rinjani bisa saya daki, novel saya bisa masuk ke seluruh toko buku di Indonesia, kuliah saya lancar-lancar saja, hubungan saya baik-baik saja, pekerjaan baru saya menyenangkan, bisnis kecil saya bisa survive, lingkungan baru saya kondusif, tabungan di rekening Bank saya bertambah, saya bisa menyelesaikan novel baru saya, saya sehat dan bisa tersenyum sepanjang tahun. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar