Ketika
kemarin saya menulis resolusi tahun 2012 dengan penuh semangat di akhir
postingan saya, sekarang saya harus menerima kenyataan bahwa salah satu harapan
itu ternyata harus pupus di bulan pertama tahun 2012 ini. Yah, dengan tidak
disangka-sangka dia meminta kebebasannya kembali.
Permintaan
itu seperti jamur yang tiba-tiba tumbuh di kulit yang sangat terawat, seperti
jerawat yang tiba-tiba muncul saat bangun tidur di pagi hari padahal kita tidak
pernah lupa mencuci wajah setiap malam sebelum tidur.
Sangat terpukul
dan terkejut. Tidak ada permasalahan di antara kami. Everything’s normal, 100%,
dan tiba-tiba dia ingin mundur dari status pacaran ke status kami yang
sebelumnya yang nggak jelas.
Sedih.
Ternyata di balik rencana-rencana yang kami buat bersama dia masih menyimpan
rasa ragu. Tentang hubungan kami, tentang masa depan kami.
Satu yang
saya ingat, alasannya malam itu via telepon, dia tidak ingin menyakiti saya.
Dia tidak ingin selingkuh atau dibilang orang selingkuh ketika dia dekat dengan
cewek lain di sana meskipun dia tidak berniat selingkuh.
Naif. Tapi
saya menghargai kejujurannya. Saya mengerti di usianya yang saat ini dia masih
ingin bermain-main dengan banyak hal, dia masih ingin berhubungan dengan banyak
orang, pergi sejauh yang dia bisa, melakukan hal-hal gila dengan teman
sepermainan dan sebagainya. Saya sadar saya tidak berhak merampas kebebasannya
itu untuk sekedar menemani saya. Di rumah yang nyaman, ngobrol berdua, tidur
lebih awal, pergi dengan anak-anak...
Jika saya
ada di posisi dia, saya pasti juga akan melakukan hal yang sama.
Meskipun
malam itu saya berusaha untuk tidak menangis, hati saya tidak bisa berbohong
untuk tidak bersedih.
Saya sedih,
harus melepas orang yang saya cintai untuk ke sekian kali. Lebih sedih karena
dia bilang masih mencintai saya tetapi memang harus pergi.
Saya sangat
tahu keadaan ini.
Seharusnya
saya tahu hubungan ini terlalu absurd untuk dijalani.
Namun entah
kenapa saya masih sakit.
Hufft.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar