Minggu, 08 Januari 2012

tentang tulisan saya

Mau tidak mau Raditya Dika begitu mempengaruhi gaya tulisan saya. Hal ini bisa jadi baik bisa jadi buruk. Baiknya tulisan saya bisa berkembang dengan sentuhan lain yang lebih humanis. Buruknya, hal itu harus saya kendalikan karena saat ini saya sedang mengerjakan novel dengan gaya tulisan yang sangat-sangat berbeda dengan dia.

Berbeda dengan gaya bahasa Raditya Dika yang harus saya waspadai akhir-akhir ini karena khawatir novel saya akan 'tercemar' dan kehilangan jati dirinya, saya begitu cinta mati dengan tulisan Dee. Saya sangat ingin bisa menulis seperti Dee. Sayangnya segigih apapun saya mencoba, tampaknya saya memang belum bisa menulis secanggih itu.

Saya selalu percaya tulisan seseorang itu mencerminkan tingkat intelektualitasnya, pengetahuannya, pribadinya, karakternya, sudut pandang dia, meskipun mereka tidak sedang bercerita tentang diri mereka sendiri. Tapi saya selalu yakin, ada sebagian ruh mereka yang masuk dan memberi ruh tulisan mereka sehingga tulisan yang tercipta mau tidak mau merupakan replika sebagian diri si penulis.

Pertama saya membiarkan orang lain membaca tulisan saya, sebenarnya saya agak takut juga. Takut orang-orang itu kemudian menemukan diri saya yang sebenarnya di balik tulisan-tulisan itu. Takut kalau karakter buruk yang selama ini saya sembunyikan akhirnya terungkap lewat tulisan-tulisan saya.
Dan percaya atau tidak, itu benar-benar terjadi.

Anehnya saya bersyukur dan malah menjadi tidak takut lagi untuk men-share tulisan-tulisan saya. Bukankah itu jauh lebih baik? Membiarkan mereka semua tahu siapa diri saya sebenarnya meski bukan dengan mulut saya. Setidaknya saya tidak perlu memakai topeng lagi ketika harus bicara dengan orang lain karena mereka (yang sudah membaca tulisan saya) telah tahu saya orang yang bagaimana, bagaimana tingkat pengetahuan saya, bagaimana cara saya memandang suatu hal. Semuanya justru akan menjadi lebih mudah.

Saya merasakan feel yang berbeda ketika saya berbicara dengan orang-orang yang sudah membaca tulisan saya. Saya merasa sedikit banyak mereka sudah mengenal saya yang sebenarnya. Saya sangat bersyukur bisa menulis dan senang menulis.

Meskipun kekaguman pada Raditya Dika harus diwaspadai dengan gaya tulisannya yang kuat yang bisa-bisa 'meracuni' novel saya selanjutnya, dan kekaguman pada Dee harus dikendalikan agar saya tidak tegoda   menulis cerpen alih-alih meneruskan novel yang setengah jalan, saya tetap mencintai mereka berdua dan bermimpi suatu saat bisa menjadi seperti mereka berdua.

Saya masih berani bermimpi. Sampai detik ini, saya masih mampu. 
Saya sangat bersyukur dengan hal itu.
:) 

Semarang
@kamar kos gelap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar