Rabu, 20 Maret 2013

Seri Latihan Research Beneran (Hari Ke-1 dan 2)


Kembali ke Kampung Inggris, serasa kembali ke masa lalu. Dua tahun meninggalkan Pare,segalanya tampak sama. Tidak cukup banyak perubahan. Masih spanduk, pamflet, leaflet di jalan-jalan. Bedanya saat ini agak sepi, karena memang bukan musim liburan.

Kembali ke tempat ini tanpa ada teman-teman di masa lalu membuat rasa kesepian berlipat-lipat menggembung di hati dan kepala. Membuat saya membuang waktu setengah hari hanya untuk menjebakkan diri ke nostalgia. Aih.. seandainya saya tahu betapa susahnya mengumpulkan data setelah itu, pasti jam tujuh tepat saya keluar dari kos untuk mulai bergerak.

Hari pertama saya habiskan dalam nostalgia sendirian di bangunan kos yang asli jaman Belanda ini. Jendela kos yang besar dan nyaman membuat saya betah ada di kos, hingga seorang teman mengajak mengurus perijinan di kantor kepala desa tulungrejo. Jadilah hari itu saya bertemu pak lurah dan mendapat surat ijin melakukan penelitian di desa tulungrejo. Saya mulai bergerak menyebar kuesioner pukul 14.30 WIB, itu pun setelah teman saya datang ke kosa dan bilang pimpinan kursusan tempat dia kerja tidak mau mengisi kuesioner itu karena merasa kurang paham dengan yang ada di dalamnya. Saat itu saya baru sadar, bahwa tidak semua orang terbiasa mengisi kuesioner. Dari situ saya juga berfirasat, sepertinya akan membutuhkan usaha yang lebih dari dugaan saya sebelumnya untuk mengumpulkan data yang benar-benar saya butuhkan.

Selasa, 12 Februari 2013

Doa-Doa Galau

Kemarin waktu saya males ngajar, saya berdoa, "Ya Allah, semoga muridnya nggak dateng."
Kemudian setelah saya tunggu hampir satu jam, mereka benar-benar nggak datang.

Waktu saya pengangguran, saya berdoa, "Ya Allah, berikan saya pekerjaan."
Setelah itu bejibun pekerjaan datang bertubi-tubi.

Waktu saya super sibuk saya berdoa, "Ya Allah, berikan saya waktu yang luang.."
Setelah itu, saya nggak punya pekerjaan.


Duluuu banget, waktu saya disakiti mantan pacar saya, saya berdoa, " Ya Allah, semoga dia nggak pernah menemukan cinta sejati!"
and you know what, sampai sekarang tu orang belum nikah juga.. (maaf... T_T)

Dulu waktu saya ketemu cowok keren, saya berdoa, "Ya Allah, seandainya boleh milih,,saya pengen banget jalan sama dia.."
Dua tahun kemudian..jreng jreengg.... Saya jadian beneran lo sama dia.


Akhir-akhir ini saya berdoa, "Ya Allah, jika dia jodoh saya maka mudahkanlah jalan kami."
Ternyata malah masalah datang bertubi-tubi.

Ketika masalah semakin berat dan saya hampir menyerah, saya berdoa, "Ya Allah tunjukkanlah hamba jalan-Mu, bimbing hamba, ikhlaskan hamba atas semua takdir-Mu."
Dan, ajaib! Semuanya terasa ringaann.. :)

Sampai sekarang saya tidak mengerti bagaimana mekanisme sebuah doa didengar dan dikabulkan. Bagaimana terkadang doa yang buruk bisa terkabul, dan doa yang sangat kita harapkan tidak terkabul juga.  Tapi saya percaya, Allah selalu berikan yang terbaik untuk saya.
Terima kasih, Allah.. :)


Minggu, 13 Januari 2013

Kisah di Ujung Tahun (Rinjani Part 4-The Last)

Rencana turun ke Segara Anak pagi-pagi sekali gagal total, karena mulai tengah malam hingga jam lima pagi hujan turun nggak tanggung-tanggung. Tenda saya lumayan kebanjiran karena lupa nggak bikin parit. Untungnya saya tidur di tengah, jadi yang basah cuma ujung esbe saja,,hoho (thanks, God). Akhirnya kami mulai turun ke Segara Anak sekitar pukul 09.00 WITA.

Medan dari Pelawangan ke Segara Anak mirip kayak jalur Cemoro Sewu Gunung Lawu,, full batu-batu geje. Dan saya ingat, abis turun dari Lawu tempo dulu kaki saya lumpuh semalaman gara-gara kedinginan kombinasi penyakit bawaan saya (yang sudah saya ceritakan di Part sebelumnya,hoho). Belajar dari pengalaman itu, kali ini saya lebih hati-hati dan nggak ngoyo turunnya. Meskipun Dewan (yang sekarang bisa tersenyum menang karena bisa jalan di depan saya - ya iyalah, coba tanjakan!-) terus ngece-ngece, saya keukeuh aja jalan santai.

Tapi makin lama cuaca makin tidak bersahabat. Hujan mulai turun dan angin kembali bersuara seperti suara motor dari kejauhan. Akhirnya mau tidak mau saya paksakan juga jalan agak cepat. Entah trauma atau apa, saya benci jalan turunan apalagi hujan-hujanan. Maka, nggak ada jalan lain selain memaksa kaki berjalan lebih cepat.

Saya hampir putus asa ketika kaki saya mulai sakit, dan kabut begitu tebal hingga saya nggak bisa melihat apa-apa. Dewan sudah menghilang duluan di depan (sial..). Tapi kemudian ada bule dan porter-nya jalan dari arah yang berlawanan dari saya. Tanyalah saya (dengan gaya cool,,padahal udah pingin banget copot sepatu, sakiit jempol saya) "Ini masih jauh nggak bang dari Segara Anak?" Si porter itu liat jam (saya keder, wah jangan-jangan masih sejam lagi!), terus dia bilang,

"Ya kira-kira lima menit lagi lah."

Pinjem istilah Bayu: Wadefak T_T'. Lima menit pake akting liat jam segala. Sial...

Oke, kemudian saya setengah berlari meneruskan perjalanan. Olala,,, ternyata, di ujung jalan setapak itu, ketika kabut membuka, tampaklah sebuah danau yang luaaaaaasssssssss banget. Subhanallah indahnya (susah dideskripsikan, harap maklum :D). Tapi pemandangan itu harus terganggu karena ada Dewan disana yang senyum-senyum seolah-olah mengolok-olok saya yang 'kalah' balapan sampe ke Segara Anak. Agak menyebalkan memang T_T.


Di balik kabut, ada sisi lain dunia yang -mungkin- seindah surga.. :)

Senin, 07 Januari 2013

Kisah di Ujung Tahun (Rinjani Part 3)

Hampir satu jam saya menunggu Kang Pendi dan Jessi di Pelawangan. Akhirnya, dibalik kabut (cieeehh..) kulihat sosok mereka, terdengar juga suara mereka manggil-manggil nama saya. Saya bersyukur sekali ketemu mereka di sini (halah..). Akhirnya kami cepet-cepet bongkar carrier, pasang Dome, bersih-bersih, dan masak makan malam buat rombongan yang masih tertinggal jauh di belakang.

Malam itu kacau sekali. Cuaca mulai nggak mendukung. Hujan, kabut jadi satu, dan teman-teman kami nggak kunjung keliatan batang hidungnya. Jessi masuk angin, badannya panas. Tapi masih bisa masak sama saya sambil ngobrol-ngobrol tentang teman-teman yang di belakang. Saya merasa sangat bersalah sama partner sejati saya , si Dewan, karena membiarkan dia ngurusin pendaki-pendaki pemula itu sendirian. Tapi gimana lagi, lha wong itu temennya dia semua,,hehe.. Bukannya saya underestimate atau bagaimana, Rinjani memang sebenarnya bukan untuk pendaki coba-coba. Butuh kesiapan fisik dan mental. Kalau persiapan fisik kurang, apalagi pengalaman mendakinya belum seberapa,,ya.. yang sabar aja pokoknya :)

Akhirnya pukul sembilan lewat mereka muncul juga. Handal juga, pikir saya, saya kira mereka nyerah dan nge-camp sebelum sampai ke Pelawangan,,hehe... Tapi ternyata mereka punya tekad yang kuat untuk nyusul saya, Kang Pendi, dan Jessi sampai ke Pelawangan (tapi entah nekat atau kepepet kehabisan air juga ndak tau sih,,hihi). Yang jelas malam itu semua lega karena anggota tim sudah berkumpul semua. Segera mereka bersih-bersih, makan malam,daann... seperti yang sudah saya duga, molor sampai pagi.

Jam dua dini hari Pelawangan sudah ramai sekali. Jam dua memang waktu yang ideal untuk summit attack. Jam satu ding sebenarnya. Karena perjalanan dari Pelawangan ke Puncak memakan waktu rata-rata 4 jam. Jadi kalau pingin liat sunrise di puncak ya harus berangkat jam segituan. Tapi,,, begitu teparnya tim kami hingga nggak sanggup bangun jamn segitu. Pada cidera kaki, otot, dan...otak (ups.) Hehee.. yang jelas, kami memang nggak begitu ngoyo untuk bisa summit attack, karena sesuai tujuan awal pendakian,,have fun aja lahh.. :D

Akhirny tim kami bisa riyip-riyip melek saat alam sudah cerah berawan, hoho. Sekitar jam 7 kami sarapan dan packing-packing, lalu siap-siap melakukan summit attack yang nggak berasa attack-nya lagi (karena kesiangan). Banyak orang heran kami baru siap-siap jam segitu. Para porter bilang, bahaya muncak siang-siang, resiko badai di atas,de el el. Tapi karena niat sudah bulat dan kepalang tanggung juga (udah jauh-jauh dari Semarang gitu lo..) akhirnya kami bertekad untuk tetap melakukan perjalanan sampai ke Puncak Anjani.

Segara Anak begitu menggoda dilihat dari pertengahan jalan menuju puncak :)


Kisah di Ujung Tahun (Rinjani Part 2)

Sekitar pukul 07.00 WITA kami sampai di Pelabuhan Lembar. Karena gerah plus lapar, akhirnya kami mampir dulu ke Masjid di dekat pelabuhan, mandi-mandi, setelah itu makan nasi pecel di sebelah masjid. Di sana kami bertemu rombongan dari Jakarta yang mau ke Rinjani juga, tim ini yang kelak kami sebut Tim Panser (karena badannya yang gede-gede). Sempet ngobrol-ngobrol sebentar sebelum akhirnya kami naik kapal jam 08.00 WITA.

Di kapal kami bertemu dengan sepasang turis. Saya sempet ngobrol bentar dengan mereka. Si cewek dari Kanada, sedangkan cowoknya dari USA. Mereka lagi liburan winter di negaranya. Mereka udah keliling Indonesia, mulai dari Jakarta, Jogja, Bromo, Bali, otw Lombok, dan rencana mereka akan melanjutkan perjalanan ke Flores, Sulawesi, kemudian kalau memungkinkan ke Timor Leste (dan saya heran, emang di sana ada wisata apa yak?). Dalam hati saya ngiri berat. Sekali ke Indonesia mereka langsung eksplor semuanya. Sedangkan diriku? Buat ke Rinjani aja harus ngimpi dulu, dua tahun baru kesampaian. Well, paling tidak itu menimbulkan motivasi untuk jalan-jalan lebih jauh lagi mengalahkan turis-turis itu, menjelajahi Indonesia. :)

Pukul 12.00 WITA kapal kami sampai di Pelabuhan Lembar. Tapii.. untuk bersandar  kami masih harus antri dengan kapal-kapal lain. Alhasil, baru setelah hampir dua jam kemudian kami bisa menapakkan kaki di Pulau Seribu Masjid, Lombok. Sampai di darat kami disambut Bagus, dkk (teman Dewan waktu kulah S1) di Pelabuhan Lembar itu juga kami bertemu teman-teman baru yang akan join hiking, Thole dan Mbak Nani (selain Bagus juga).


Pose dulu sambil nunggu kapal antri bongkar muat .......     ^_^

Kamis, 03 Januari 2013

Kisah di Ujung Tahun (Rinjani Part 1)

Finally, setelah tertunda setahun, rencana main ke rinjani pelan-pelan tersusun lagi dengan rapi. Setelah melewati berbagai proses lobi-lobi tanggal (karena geng rewo2 sudah bukan anak kuliahan lagi, jadi terikat jadwal kerjaan masing-masing), dan juga melewati kerempongan dengan pasangan kontroversial kang Pendi dan mbakyu Jessi yang tarik ulur (saiki ngomong melu, sesuk ngomong ora,,hmmmmmh), akhirnya diputuskan kami (saya , Kang Pendi, Jessi, dan Kharis) berangkat dari Semarang ke rumah Dewan di Sukoharjo, Solo tanggal 22 Desember 2012.

Setelah ngempet berdiri di bus yang penuh sesak plus macet, akhirnya sekitar pukul 19.00 WIB kami sampai di Solo. Membawa tas carrrier plus duren (sampai sekarang saya masih heran, kenapa juga Kang Pendi ngotot bawa-bawa satu 'ndil' duren ke Solo?? berasa kampung banget T_T) kami menunggu jemputan Dewan dan juga menunggu Kharis yang berangkat dari start yang berbeda (kami dari Unnes, Kharis dari Banyumanik). 

Singkat kata, nggak lama kemudian Dewan datang dengan pedenya membawa sedan silver yang, tentu sajaaa, nggak muat ngangkut empat carrier kami yang menggembung. Alhasil, terpaksa carrier saya yang paling berat (karena ada dome-nya) dipangku di jok belakang selama perjalanan ke rumah Dewan, yang alhamdulillah, sama macetnya dengan perjalanan Semarang-Solo.

Setelah macet-macetan dan sempat mampir ke Mall cari batere kamera Jessi, yang gagal karena tokonya udah tutup, akhirnya sampai juga di rumah Dewan. Kami packing ulang semua barang (dan akhirnya carrier saya jadi lebih ringan karena dome dibawa para cowok :D). Kemudian istirahat setelah lewat jam 12 malam. Saat itu saya berpikir, ini terakhir kalinya selama kurang lebih seminggu ke depan saya tidur dengan pakaian kering dan hangat. Selalu begitu sebelum naik gunung. Selalu ada perasaan berdebar-debar yang sulit diungkapkan. Antara excited, penasaran, paranoid, heroik, pengecut jadi satu. Memang benar bahwa the scariest moment is just before we start it (Bener gak ni kalimatnya...harap maklum, intinya gitu lah).

RESOLUSI 2013

(Niat di posting biar malu kalo nggak tercapai dan akhirnya mati-matian mencapainya,,hehe.. amin3X)

1.   Lulus Magister Mei 2013
2.   Belajar Grammar sampai Hi Class di Pare
3.   Tes TOEFL IBT 550 (Amin)
4.   Apply short course Aminef
5.   Nabung (persiapan,ehm...hahahaha)
6.   Explore pantai dan pulau2 sekitar Lombok n NTB
7.   Kurban Idul Adha
8.   Menguasai satu tari tradisional dengan "baik dan benar"
9.   Ikut PCMI lagi
10. Kerja di Kantor Akuntan Publik (Auditor junior, amin)
11. Ngajar di kampus (second option)

Yang baca silakan ketawa, tapi jangan lupa tetep diamini ya... :)
Mari kita awali 2013 dengan mengucap basmallah bersama-sama

Bismillahirrohmanirrohiim............

Dream, Believe, and Make It Happen.