Minggu, 13 Januari 2013

Kisah di Ujung Tahun (Rinjani Part 4-The Last)

Rencana turun ke Segara Anak pagi-pagi sekali gagal total, karena mulai tengah malam hingga jam lima pagi hujan turun nggak tanggung-tanggung. Tenda saya lumayan kebanjiran karena lupa nggak bikin parit. Untungnya saya tidur di tengah, jadi yang basah cuma ujung esbe saja,,hoho (thanks, God). Akhirnya kami mulai turun ke Segara Anak sekitar pukul 09.00 WITA.

Medan dari Pelawangan ke Segara Anak mirip kayak jalur Cemoro Sewu Gunung Lawu,, full batu-batu geje. Dan saya ingat, abis turun dari Lawu tempo dulu kaki saya lumpuh semalaman gara-gara kedinginan kombinasi penyakit bawaan saya (yang sudah saya ceritakan di Part sebelumnya,hoho). Belajar dari pengalaman itu, kali ini saya lebih hati-hati dan nggak ngoyo turunnya. Meskipun Dewan (yang sekarang bisa tersenyum menang karena bisa jalan di depan saya - ya iyalah, coba tanjakan!-) terus ngece-ngece, saya keukeuh aja jalan santai.

Tapi makin lama cuaca makin tidak bersahabat. Hujan mulai turun dan angin kembali bersuara seperti suara motor dari kejauhan. Akhirnya mau tidak mau saya paksakan juga jalan agak cepat. Entah trauma atau apa, saya benci jalan turunan apalagi hujan-hujanan. Maka, nggak ada jalan lain selain memaksa kaki berjalan lebih cepat.

Saya hampir putus asa ketika kaki saya mulai sakit, dan kabut begitu tebal hingga saya nggak bisa melihat apa-apa. Dewan sudah menghilang duluan di depan (sial..). Tapi kemudian ada bule dan porter-nya jalan dari arah yang berlawanan dari saya. Tanyalah saya (dengan gaya cool,,padahal udah pingin banget copot sepatu, sakiit jempol saya) "Ini masih jauh nggak bang dari Segara Anak?" Si porter itu liat jam (saya keder, wah jangan-jangan masih sejam lagi!), terus dia bilang,

"Ya kira-kira lima menit lagi lah."

Pinjem istilah Bayu: Wadefak T_T'. Lima menit pake akting liat jam segala. Sial...

Oke, kemudian saya setengah berlari meneruskan perjalanan. Olala,,, ternyata, di ujung jalan setapak itu, ketika kabut membuka, tampaklah sebuah danau yang luaaaaaasssssssss banget. Subhanallah indahnya (susah dideskripsikan, harap maklum :D). Tapi pemandangan itu harus terganggu karena ada Dewan disana yang senyum-senyum seolah-olah mengolok-olok saya yang 'kalah' balapan sampe ke Segara Anak. Agak menyebalkan memang T_T.


Di balik kabut, ada sisi lain dunia yang -mungkin- seindah surga.. :)



Well, tempat itu memang perfect! Nggak salah kalau dibilang Gunung Rinjani itu gunung terindah di Indonesia. Karena, sumpah, indaaaahhhhhhhhhhhhh banget. Hehehe...belum lagi nggak jauh dari Segara Anak itu ada sumber mata air panas yang juga indaaaaaaaahhhhhhhhh banget... huhuhu.... sungguh deh, saya merasa beruntung banget jadi pendaki :)

Airnya asli ijo royo-royo..dan pannaaaasss... :D

Di Segara Anak kita bisa mancing sepuasnya. Ikannya banyak dan gede-gede, bagi yang beruntung,,hehe. Di hari pertama, kami nggak dapet ikan sama sekali. Alhasil hanya ngiler mencium bau ikan bakar dari tenda-tenda sebelah. Tapi di hari kedua Dewan berhasil dapet ikan (baguslah, dia selamat dari bulan-bulanan karena udah terlalu sering membual bakal dapet ikan gede :p). Dua, tiga, empat. Terakhir Kharis malah yang dapet ikan paling besar, bikin para cowok (yang kalah taruhan) harus goyang itik bareng-bareng. Sayang yang ini nggak ada fotonya... :D

Nah, cerita paling serunya pas pulang. Karena keder pulang lewat Senaru yang katanya jalurnya terjal plus longsor plus 10 jam, kami memutuskan lewat jalur Torean. Padahal jalur ini jalur ilegal dan hanya dilewati penduduk sekitar plus para pemancing. Parahnya lagi, karena nggak mau ambil resiko sendirian, sang Komandan, Kang Pendi 'menghasut' banyak rombongan untuk menyesatkan diri bareng-bareng kami. Alhasil, total 25 orang dari Surabaya, Sidoarjo, Jakarta, dan kami 'si troublemakers" sepakat lewat jalur itu.

Awalnya jalurnya memang indah banget. Air terjun di kanan kiri. Sabana di antara punggungan dan lembahan yang sumpah keren abis. Kami merasa beruntung banget bisa lewat jalur ini.

Jalur Torean, indah sih... tapi tidak saya rekomendasikan ^_^'

               Jalur Torean, Jalurnya air terjun.. :)

Tapiii........... semakin ditelusuri, jalurnya semakin 'aneh-aneh',, kadang jalannya terjal banget, dan kami sempat kesasar dua jam. Hmm.. Kami terus berjalan. Saking semangatnya hingga kami mendahului rombongan yang sudah kami 'hasut' tadi. Akhirnya rombongan terpisah jadi dua. Di tim kami nambah dua orang jakarta, tapi kehilangan satu personel. Mbak Nani ketinggalan di belakang bersama tim dari Sidoarjo. Agak nggak enak juga sih ,tapi begitulah pendakian. Diri kita sendiri yang menentukan, mau tetap bersama tim, atau mencari tim lain yang lebih nyaman. Mau memaksa diri sendiri berjalan meski lelah, atau memilih dipaksa, memilih jalan di depam, di belakang, semua terserah pribadi masing-masing.

Akhirnya jam 23.00 WITA, setelah kami nggak menemukan tanda-tanda jalur itu akan berakhir, kami memutuskan untuk nge-camp. Kondisi fisik sudah sangat payah, plus logistik tinggal satu kali makan. Malam itu kami lewati tanpa makan malam. Hanya ngopi-ngopi saja buat nambah semangat. Tapi kami semua yakin nggak bakal berakhir menyedihkan dicari tim SAR. Hehe... Sebagai pendaki, nyasar itu hal yang lumrah. Asal tetep orientasi medan aja..bukan nyasar yang asal. Tips nya, kalau benar-benar nyasar, yang paling mudah, perhatikan jejak sampah. Makin banyak sampah, makin sering jalur itu dilewati orang (ada untungnya juga buang sampah sembarangan, hehe....tapii jangan ditiruu :D).
Kedua, ikuti jalur sungai (tapi jangan jalan di jalur tengah jalur sungai meskipun airnya kering lo,,,bahaya kalo longsor, lahar dinginm atau banjir tiba-tiba). Ketiga, ikuti pipa air, pasti ntar nyampe deh ke pemukiman penduduk :). Yang penting siapin mental untuk segala kemungkinan :)

Keesokan harinyaaa.....
Baru sekitar sejam berjalan, ternyata kami sudah sampai di batas vegetasi, alhamdulillah, Dari sana kami bahkan bisa lihat pantai. Rasanya legaaaaaaaaa sekali :)

Wajah-wajah lega karena nggak jadi di-SAR :-p

Tapiii..... ternyataaa...jalan dari batas vegetasi itu ke jalan raya masih sekitar 8 km,,,hehehehe..... Ternyata kami nyasarnya nggak begitu jauh dari Desa Torean, kami turun di Desa Pegadungan, sebelahnya Desa Torean. Hmm...lumayan laaah... :D

Desa itu seperti komunitas kaum Hindu yang terpinggirkan dari mayoritas penduduk Lombok yang Islam tulen (suku Sasak). Banyak sesaji di rumah-rumah, dan yang paling menyebalkan, banyak anjing berkeliaran,,hiiiiih.......

Setelah jalan hampir empat kilo, ditambah istirahat makan mangga dari penduduk kampung yang dermawan (hiaa...lebay lagi), kami akhirnya nyerah juga. Ujung-ujungnya kami semua ngojek sampai ke jalan raya. Hehehehe....... Sampai di pinggir jalan sudah lewat Dhuhur. Kami istirahat sambil makan bakso, hohohoho... Selesai juga perjalanan impian kami selama lima hari :)

Well, semula perjalanan ke Rinjani memang hanya mimpi. Tapi kami sudah membuktikan bahwa Dream, Believe, and Make It Happen-nya Agnes itu bener-bener ada.  :)



-----The End-----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar