The Beloved Parents
Akhirnya waktu pengumuman datang juga. Hari itu setelah lembur hingga larut malam kami berhasil meng-upload pengumuman kelulusan tes masuk ke sekolah kami. Keesokan harinya, kami tidak menduga, ada berbagai macam reaksi yang kami terima. Mulai dari sms berisi umpatan kepada ketua panitia yang anaknya gagal masuk hingga sekresek gorengan dari seorang ibu tanda terima kasih anaknya bisa masuk sekolah kami.
Ya, ya, ya.., Orang tua. Apapun mereka lakukan demi cita-cita sang buah hati. Diam-diam saya memaklumi apapun yang mereka lakukan meskipun itu diluar batas kewajaran. Ya Tuhan, entah kenapa saya baru menyadarinya sekarang. Bahwa setiap orang tua di dunia ini pada dasarnya adalah sama. Mereka melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya.
Pada suatu siang di hari pertama daftar ulang. Seorang ibu diikuti anak laki-lakinya tergopoh-gopoh memasuki sekretariat panitia dan menyalami saya. Genggaman tangannya yang dingin terasa mantap walau sedikit gemetar. Saya dapat merasakan luapan kegembiraan dari pancaran matanya. Kalimatnya masih saya ingat “Alhamdulillah lulus mbak, terima kasih doanya”
Akhirnya saya teringat. ibu itu adalah yang tempo dulu datang dengan mata berkaca-kaca, memberanikan diri bertanya, apakah bisa anaknya daftar di sekolah kami sedangkan nilai rapornya kurang 0,4 dari yang kami persyaratkan. Dan hari ini beliau datang, sangat berbeda dengan sebelumnya. Langkahnya mantap dan senyumnya mengembang. Bahagia, bukan karena beliau mendapatkan sesuatu untuk dirinya. Tapi karena anaknya berhasil mendapatkan apa yang dia cita-citakan. Orang tua.
Pengorbanan mereka, tangis dan tawa mereka, perjuangan dan bahkan kecurangan pun akan mereka lakukan untuk sekedar memenuhi keinginan kita. Anaknya.
Dalam hati saya bergetar.Kemana saja kesadaran saya selama ini. Kenapa baru sekarang saya bisa menyadari hal ini? Darimana segala keegoisan itu saya bangun? Bahwa saya bisa hidup sendiri tanpa orang tua? Itu semua bullshit! Kita tidak bisa berkata bahwa kita sudah dewasa dan mampu mengatur hidup kita sendiri, seberapapun tuanya kita. Karena mereka adalah orang tua kita. Mereka memiliki kita. Tentu saja mereka berhak melakukan apapun kepada kita. Karena selama ini merekalah yang merawat dan bertanggung jawab terhadap kita. Kita adalah nafas mereka, kita adalah semangat mereka. Lalu apa yang membuat kita sangat sombong untuk tidak lagi mendengar nasehat mereka?
Astagfirullahaladzim... Ampunilah hamba-Mu yang bodoh ini Tuhan.
Engkau berikan dua malaikat yang mendampingi kami dalam bentuk yang nyata. Dua malaikat tempat kami berlindung, berkeluh kesah, mengadu. Dua malaikat yang bisa kami peluk dan cium dan tidak kami ragukan sama sekali kecintaan dan kesetiaan mereka terhadap kami. Tapi masih saja kami sempat menghardik mereka, berbicara kasar terhadap mereka!
Dan saya masih tergugu dalam penyesalan sekaligus rasa syukur saya. Bahwa Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menyadari kesalahan saya selama ini. Bahwa Tuhan memberikan pekerjaan yang membuat mata saya terbuka tentang perjuangan orang tua yang sebenarnya. Terucap do’a tulus dalam hati kecil yang penuh noda ini, “Lindungi mereka Tuhan, bahagiakan mereka, sunggingkan senyum di bibir mereka, karena hal itu ternyata adalah hal terindah di dunia bagi saya saat ini. Amin.”
Bojonegoro
22.11
13th June 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar