Selasa, 09 Agustus 2011


REFLEKSI TIGA BULAN BELAJAR BEKERJA 
Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kepada sang  arsitek kehidupan yang sudah mendesain kehidupan saya dengan sangat indahnya, memberikan ujian yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, menciptakan cerita yang kait mengkait penuh misteri dan membuat saya masih sangat penasaran untuk menjalani kehidupan saya yang penuh kejutan ini.

Kemarin saya menerima gaji ketiga saya, itu artinya kurang lebih saya sudah masuk ke dunia saya yang baru ini selama tiga bulan. Tiga bulan, waktu yang sangat singkat untuk sebuah pengalaman kerja. Tapi tiga bulan bagi saya, merupakan waktu yang luar biasa untuk mengetahui dan mencoba menyerap ilmu yang ternyata memang berterbaran dimana-mana termasuk di dunia kerja.

Jika saya mencoba menarik  garis waktu ke arah tiga bulan yang lalu, dimana saya meninggalkan Pare sebagai tempat tidur saya yang nyaman dan hangat dan mencoba memberanikan diri memasuki dunia yang baru, saya melihat diri saya yang masih sangat hijau, duduk diam di balik meja menunggu perintah dari atasan.
Saya masih sangat ingat bagaimana sakit hatinya saya saat pertama kali bos menyuruh saya membuat kopi. Saya merasa hal itu tidak sepatutnya saya lakukan, karena pekerjaan membuat kopi adalah pekerjaan seorang OB dan saya dibayar di situ bukan untuk itu. Saat itu saya merasa dipandang sebelah mata. Seorang mahasiswa, lulusan cum laude, masuk kerja hanya untuk membuat kopi?? Apakah saya ini sudah masuk dalam deretan pengangguran terselubung, yaitu mereka yang bekerja dibawah kemampuan intelektualnya? Namun lama kelamaan saya mulai terbiasa dengan hal itu. Dan di suatu hari saya sadar, bahwa seharusnya saya berucap:

Terima kasih pekerjaanku, kamu mengajariku dengan sangat lembut, bagaimana untuk tidak terlalu tinggi menilai diri sendiri.

Saya masih ingat bagaimana saya belajar mencoba melayani para orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya untuk sekolah. Bagaimana cerita-cerita mereka dalam memperjuangkan impian anaknya. Bagaimana perjuangan mereka membuat anak mereka bahagia. Hingga saya tersadar, perjuangan orang tua, semua kerja keras mereka, peluh dan lelah mereka, sepenuhnya mereka persembahkan bagi anak tercinta, yang terkadang, seperti juga saya, belum menyadari arti dari kata ‘pengorbanan’.

Terima kasih pekerjaanku, kamu menegurku dengan sangat bijaksana, bagaimana menghargai dan menghormati kedua orang tua.

Masih terbayang dalam ingatan saya, dan yang ini tidak mungkin saya lupakan, hari dimana saya menerima gaji pertama saya.
Terima kasih pekerjaanku, kamu membuatku merasakan nikmatnya merasakan buah dari suatu kerja keras dan proses adaptasi yang melelahkan.
Terima kasih gaji pertamaku, dalam tiap rupiahmu kutiupkan rasa syukur atas pemahaman bahwa terkadang sesuatu memang tak hanya bisa diukur lewat nominalnya.

Memasuki bulan kedua, saya mulai memahami job description, mulai terbiasa dengan segala macam urusan administrasi. Mulai mengenal teman-teman dengan lebih dekat. Mulai menikmati percakapan di ruang kantor.
Terima kasih pekerjaanku, kamu memberiku kemampuan adaptasi yang mumpuni dan rasa memiliki satu sama lain.

Sementara itu di asrama, saya mulai belajar memahami karakter anak, mencoba mengikuti alur berpikir mereka yang terkadang frontal, mencoba mengerti, mendengar, dan menjadi teman sekaligus ibu yang bisa merangkul semua karakter.
Terima kasih pekerjaanku, kau memaksaku belajar lebih dewasa.

Di bulan ketiga ini, bulan yang penuh dengan kejutan-kejutan baru dan berbagai macam peristiwa yang mengaduk-aduk emosi, saya belajar bagaimana memanajemen emosi.
Mulai dari konflik asrama karena kepentingan berbagai pihak yang saling bertentangan, konflik di kantor karena terlalu membawa-bawa urusan pribadi dalam pekerjaan, hingga yang paling gress, sindrom broken heart yang berdarah-darah.
Tapi aneh bin ajaib, ternyata di atas semua konflik, cobaan dan kesedihan yang bertubi-tubi datang menguji mental saya, ada satu hal yang pelan-pelan saya sadari. Bahwa ternyata ada satu hal yang membuat saya bisa bertahan menjalani semua ini.

Anak-anak saya di asrama dan murid-murid saya di kelas.

Pelan-pelan saya menyadari, bahwa mereka bukan lagi menjadi murid ataupun member saya di asrama. Tapi mereka sudah menjadi saudara, adik, dan teman baik dalam kehidupan saya.Sesedih apapun saya, semarah apapun saya, ketika bertemu mereka, semua rasa itu mendadak hilang.
Anak-anak memberi kekuatan yang ajaib dalam hidup saya. Celoteh mereka, curhat mereka,kebandelan mereka, gaya protes mereka hingga sifat manja dan ingin selalu diperhatikannya membuat saya dipaksa untuk selalu tersenyum dan berkata “All is well,sista..”
Kelabilan mereka memaksa saya menata hati untuk lebih dewasa, rasa sedih mereka memberi saya kekuatan untuk bisa menguatkan, senyum mereka mengobati luka hati saya.

Terima kasih pekerjaanku, kamu memberikanku anak-anak yang sangat luar biasa, obat dari segala sakit yang mendera, semacam ramuan ajaib penguat karakter dan mental. Luar biasa.
Tiga bulanku yang sangat luar biasa.

Terima kasih ya Allah, Kau berikan kesempatan padaku untuk berada di sini dan menikmati semua pelajaran darimu yang sangat tidak menggurui. Kau tunjukkan padaku bagaimana menjadi kuat tanpa harus melemahkan orang lain. Kau beri jalan untuk selalu tersenyum meskipun sedih mendera-dera. Kau kirimkan bala bantuan yang luar biasa untuk setiap rintangan yang menghadang.


"Ya Tuhan kami, karuniakanlah kesabaran ke atas diri kami, dan tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami di atas menghadapi orang-orang kafir (Q.S. Al Baqarah : 250)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar