Sabtu, 04 Februari 2012

anak-anak SD itu...



Bulan ini saya awali dengan pekerjaan baru saya menjadi tentor. Minggu pertama bulan ini saya mendapat kesempatan untuk mengajar privat anak-anak SD disamping mengajar di kelas. Dari dulu mengajar privat anak SD bukanlah hal yang menyulitkan bagi saya karena pada dasarnya saya menyukai anak-anak. Saya suka dengan polosnya ekspresi mereka, candaan mereka, bagaimana mereka berusaha mengingat-ingat pelajaran dan mengerjakan soal-soal. Belajar dengan anak-anak sangat menyenangkan bagi saya.
Hal lain yang membuat saya antusias mengajar mereka adalah saya harus kembali membuka buku-buku SD, belajar lagi apa itu pesawat sederhana, apa itu organisasi, jenisnya, manfaatnya, bagaimana sifat cahaya, dan materi-materi lain yang entah kenapa ketika saya baca lagi saya menemukan banyak sekali pelajaran baru di dalamnya lebih dari yang dulu saya dapatkan ketika di SD.
Bahwa pisau yang sering saya gunakan untuk mengupas buah itu adalah memakai prinsip pesawat sederhana berupa bidang miring untuk membuat baji, baru saya ingat lagi ketika belajar bersama adik-adik ini. Bahwa arisan ibu-ibu termasuk dalam organisasi informal juga baru berhasil saya ingat ketika belajar Pkn kelas 5 SD. Bahkan diantara materi-materi ini selalu ada hal yang menuntut untuk saya renungkan. Seperti bahwa benda dibagi menjadi dua, benda yang memancarkan cahaya dan benda yang memantulkan cahaya. Dalam sebuah buku paket penunjang saya buka-buka sebelum mengajar dikatakan bahwa apabila kita melihat benda berwarna biru, sejatinya adalah benda itu hanya bisa memantulkan cahaya yang berwarna biru.
Statement tersebut membuat saya berpikir lebih jauh. Apabila benda yang tidak memancarkan cahaya sendiri itu adalah memang hanya memantulkan, lalu apakah sejatinya pembentuk warna itu? Benda tertentu hanya mampu memantulkan warna tertentu, bukankah itu artinya bahwa sejatinya benda-benda tersebut adalah tidak berwarna, melainkan cahayalah yang menyebabkan mereka terlihat berwarna. Bukankah itu berarti selama ini kita telah tertipu dengan segala macam benda di dunia ini? Bahwa mawar berwarna merah dan melati berwarna putih, saya jadi curiga, jangan-jangan sebenarnya mereka tidak pernah punya warna melainkan hanya mampu memantulkan warna merah dan putih? Aih, aih,, saya menjadi bingung sendiri.
Apabila logika asal-asalan saya yang diambil dari buku yang belum jelas kualitasnya ini benar, berarti sebenarnya dunia ini tidak punya warna, melainkan hanya punya benda-benda yang bisa memantulkan cahaya menjadi warna-warna tertentu. Dunia ini tidak berwarna. Cahayalah yang telah menipu mata kita. Cahayalah yang menciptakan warna-warna itu. Kita benar-benar hidup dalam kesemuan.
Sampai saat ini saya masih mencari orang yang bisa menjelaskan teori cahaya itu kepada saya. Yang bisa meyakinkan saya bahwa logika berpikir saya itu salah kaprah. Karena terus terang, saya tidak nyaman memikirkan bahwa dunia ini sama sekali tidak memiliki warna.
Oke, kita tutup masalah warna dan cahaya. Kembali ke anak-anak tadi, saya selalu mencintai keunikan karakter mereka. Saya mencintai orisinalitas bakat yang mereka miliki. Salah satu siswa privat saya adalah seorang atlit karate. Orang tuanya mendaftarkan les privat karena takut anaknya ketinggalan pelajaran disebabkan latihan-latihan yang harus dijalaninya menjelang pertandingan. Dengan masih menggunakan celana karate dan kaus putih dia belajar karena besoknya ada ulangan harian. Saya salut sekali. Saya ingat dengan jelas setiap detail yang dia lakukan ketika belajar. Ketika dia melihat langit-langit berusaha mengingat-ingat unsur organisasi. Bagaimana dia melepas lelah dengan berguling-guling di lantai, mengingat-ingat materi sambil menahan kantuk. Tingkah usilnya saat tidak bisa menjawab pertanyaan saya, saya masih ingat semuanya. Dan saya selalu berdoa semangat belajarnya itu tetap terjaga hingga dewasa kelak.
Sore ini saya belajar bahasa Inggris dengan seorang anak yang juga sangat unik. Sebelumnya saya tidak menyangka bahwa anak tersebut adalah dalang cilik. Di sela-sela belajar dia selalu bercerita tentang wayang. Dari dalang cilik ini saya tahu bahwa karakter ter-ganteng dalam perwayangan adalah Kamajaya baru setelah itu Arjuna. Luar biasa anak ini. Saya terkagum-kagum. Dia menjawab semua pertanyaan konyol saya dengan lugas tentang dunia perwayangan. Tentang bagaimana playboy-nya Arjuna yang ternyata punya sekitar 50 orang istri, Drupadi dan dendamnya kepada Dursasana, dan banyak lagi nama-nama yang sangat asing di telinga saya. Saya terpesona pada ketertarikannya pada dunia perwayangan.
Siswa-siswa itu sukses membuat saya terkagum-kagum. Saya menjadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang apa yang ada di otak mereka. Mereka menyimpan banyak ide dan potensi. Bisa mendampingi mereka tumbuh adalah kesempatan terindah yang diberikan Tuhan kepada saya. Saya sangat menikmatinya. Saya sangat mensyukurinya.
Terima kasih Tuhan ,Engkau membuka mata saya tentang luar biasanya potensi yang ada pada tubuh-tubuh mungil itu. Engkau menyadarkan tanggung jawab yang luar biasa untuk menjaga mereka tumbuh berkembang dengan baik. Engkau yang Maha menciptakan makhluk-makhluk mungil nan ajaib itu. Senantiasalah lindungi mereka hingga tumbuh dewasa menjadi tunas-tunas muda bangsa yang santun dan berkarakter, amin.  J





Tidak ada komentar:

Posting Komentar