Bulan
ini saya awali dengan pekerjaan baru saya menjadi tentor. Minggu pertama bulan
ini saya mendapat kesempatan untuk mengajar privat anak-anak SD disamping
mengajar di kelas. Dari dulu mengajar privat anak SD bukanlah hal yang
menyulitkan bagi saya karena pada dasarnya saya menyukai anak-anak. Saya suka
dengan polosnya ekspresi mereka, candaan mereka, bagaimana mereka berusaha
mengingat-ingat pelajaran dan mengerjakan soal-soal. Belajar dengan anak-anak
sangat menyenangkan bagi saya.
Hal
lain yang membuat saya antusias mengajar mereka adalah saya harus kembali
membuka buku-buku SD, belajar lagi apa itu pesawat sederhana, apa itu
organisasi, jenisnya, manfaatnya, bagaimana sifat cahaya, dan materi-materi
lain yang entah kenapa ketika saya baca lagi saya menemukan banyak sekali
pelajaran baru di dalamnya lebih dari yang dulu saya dapatkan ketika di SD.
Bahwa
pisau yang sering saya gunakan untuk mengupas buah itu adalah memakai prinsip
pesawat sederhana berupa bidang miring untuk membuat baji, baru saya ingat lagi
ketika belajar bersama adik-adik ini. Bahwa arisan ibu-ibu termasuk dalam
organisasi informal juga baru berhasil saya ingat ketika belajar Pkn kelas 5 SD.
Bahkan diantara materi-materi ini selalu ada hal yang menuntut untuk saya
renungkan. Seperti bahwa benda dibagi menjadi dua, benda yang memancarkan
cahaya dan benda yang memantulkan cahaya. Dalam sebuah buku paket penunjang
saya buka-buka sebelum mengajar dikatakan bahwa apabila kita melihat benda
berwarna biru, sejatinya adalah benda itu hanya bisa memantulkan cahaya yang
berwarna biru.
Statement
tersebut membuat saya berpikir lebih jauh. Apabila benda yang tidak memancarkan
cahaya sendiri itu adalah memang hanya memantulkan, lalu apakah sejatinya
pembentuk warna itu? Benda tertentu hanya mampu memantulkan warna tertentu,
bukankah itu artinya bahwa sejatinya benda-benda tersebut adalah tidak
berwarna, melainkan cahayalah yang menyebabkan mereka terlihat berwarna.
Bukankah itu berarti selama ini kita telah tertipu dengan segala macam benda di
dunia ini? Bahwa mawar berwarna merah dan melati berwarna putih, saya jadi
curiga, jangan-jangan sebenarnya mereka tidak pernah punya warna melainkan
hanya mampu memantulkan warna merah dan putih? Aih, aih,, saya menjadi bingung
sendiri.
Apabila
logika asal-asalan saya yang diambil dari buku yang belum jelas kualitasnya ini
benar, berarti sebenarnya dunia ini tidak punya warna, melainkan hanya punya
benda-benda yang bisa memantulkan cahaya menjadi warna-warna tertentu. Dunia
ini tidak berwarna. Cahayalah yang telah menipu mata kita. Cahayalah yang
menciptakan warna-warna itu. Kita benar-benar hidup dalam kesemuan.
Sampai
saat ini saya masih mencari orang yang bisa menjelaskan teori cahaya itu kepada
saya. Yang bisa meyakinkan saya bahwa logika berpikir saya itu salah kaprah.
Karena terus terang, saya tidak nyaman memikirkan bahwa dunia ini sama sekali
tidak memiliki warna.
Oke,
kita tutup masalah warna dan cahaya. Kembali ke anak-anak tadi, saya selalu
mencintai keunikan karakter mereka. Saya mencintai orisinalitas bakat yang
mereka miliki. Salah satu siswa privat saya adalah seorang atlit karate. Orang
tuanya mendaftarkan les privat karena takut anaknya ketinggalan pelajaran
disebabkan latihan-latihan yang harus dijalaninya menjelang pertandingan.
Dengan masih menggunakan celana karate dan kaus putih dia belajar karena
besoknya ada ulangan harian. Saya salut sekali. Saya ingat dengan jelas setiap
detail yang dia lakukan ketika belajar. Ketika dia melihat langit-langit
berusaha mengingat-ingat unsur organisasi. Bagaimana dia melepas lelah dengan
berguling-guling di lantai, mengingat-ingat materi sambil menahan kantuk. Tingkah
usilnya saat tidak bisa menjawab pertanyaan saya, saya masih ingat semuanya.
Dan saya selalu berdoa semangat belajarnya itu tetap terjaga hingga dewasa
kelak.
Sore
ini saya belajar bahasa Inggris dengan seorang anak yang juga sangat unik. Sebelumnya
saya tidak menyangka bahwa anak tersebut adalah dalang cilik. Di sela-sela
belajar dia selalu bercerita tentang wayang. Dari dalang cilik ini saya tahu bahwa
karakter ter-ganteng dalam perwayangan adalah Kamajaya baru setelah itu Arjuna.
Luar biasa anak ini. Saya terkagum-kagum. Dia menjawab semua pertanyaan konyol
saya dengan lugas tentang dunia perwayangan. Tentang bagaimana playboy-nya Arjuna
yang ternyata punya sekitar 50 orang istri, Drupadi dan dendamnya kepada Dursasana,
dan banyak lagi nama-nama yang sangat asing di telinga saya. Saya terpesona
pada ketertarikannya pada dunia perwayangan.
Siswa-siswa
itu sukses membuat saya terkagum-kagum. Saya menjadi ingin tahu lebih banyak
lagi tentang apa yang ada di otak mereka. Mereka menyimpan banyak ide dan
potensi. Bisa mendampingi mereka tumbuh adalah kesempatan terindah yang
diberikan Tuhan kepada saya. Saya sangat menikmatinya. Saya sangat
mensyukurinya.
Terima
kasih Tuhan ,Engkau membuka mata saya tentang luar biasanya potensi yang ada
pada tubuh-tubuh mungil itu. Engkau menyadarkan tanggung jawab yang luar biasa
untuk menjaga mereka tumbuh berkembang dengan baik. Engkau yang Maha
menciptakan makhluk-makhluk mungil nan ajaib itu. Senantiasalah lindungi mereka
hingga tumbuh dewasa menjadi tunas-tunas muda bangsa yang santun dan berkarakter,
amin. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar