Secara
tidak sengaja aku menemukan tempat ini. Tempat yang tercipta karena adanya
proyek baru Pemkot Semarang. Beberapa kali aku melewati tempat ini, menyimpan
rasa penasaran untuk bisa duduk di tembok betonnya yang tinggi dan menghadap
Kali Garang. Dan akhirnya disinilah aku sekarang, tembok beton Banjir Kanal,
ujung Pasar Maling Kokrosono di dekat pertigaan Gereja dengan salib biru besar
di bagian atapnya.
Sendirian,
aku duduk di atas tembok beton menghadap aliran Kali Garang yang tenang. Sore
ini cukup ramai. Beberapa orang asik memancing di pinggir kali. Sekelompok
pemuda bermain bola jauh di sisi kananku, ada sepasang sejoli dan seorang bapak
dengan dua anaknya di sisi kiriku.
Matahari
berwarna keemasan, tampaknya sudah agak mengantuk, bersembunyi di balik awan.
Di bawah kakiku yang menggantung ada susunan paving yang rapi. Semakin dekat
dengan sungai rumput liar yang tumbuh di sela-sela paving semakin tinggi. Dari
kejauhan memang mirip lapangan yang sempit memanjang.
Dari
sisi kanan yang riuh dengan pemuda-pemuda yang asik bermain bola aku
memalingkan pandangan ke sisi kiri yang lebih tenang. Dua sejoli bercengkerama,
anak-anak kecil berlari-lari kecil diawasi Bapaknya. Jauh sebagai latar
belakangnya adalah siluet Gunung Ungaran yang berupa bayangan abu-abu.
Puncaknya terlihat jelas, namun separuh lereng ke bawah tertutup kabut tebal.
Mirip gunung yang melayang di langit. Entah sudah berapa lama aku tidak kesana
dan sepertinya memang harus menyempatkan diri kesana. Ingin sekali merasakan
lagi asamnya begonia dan stroberi hutan. Ingin sekali merasakan lagi
kedinginan.
Baru
saja ada pesawat lewat tepat di atasku. Pesawat itu terbang cukup rendah hingga
aku bisa melihat bagian bawah rangkanya dengan jelas. Melihat pesawat itu,
melihat langit di baliknya, kusadari
hari makin menggelap. Matahari sekarang sembunyi di pucuk-pucuk pohon
nun jauh di seberang tanggul banjir kanal. Warna keemasan yang menjadi latar
belakang pepohonan yang hijau gelap terkesan misterius. Air kali yang tenang
memantulkan warna langit yang suram. Hari ini, langit tidak bisa dijelaskan
dengan kata-kata.
Para
pemuda itu tampaknya sudah cukup lelah bermain-main. Mereka menepi ke tembok
beton dan bercengkrama sambil istirahat melepas lelah. Sedangkan bapak dengan
kedua anaknya sudah dari tadi pulang, waktunya mandi sore.
Semakin
sepi ketika gerombolan pemuda itu memutuskan untuk pulang. Satu per satu suara
sepeda motor mereka menjauh. Para pemancing mulai berdiri dan membenahi
alat-alat pancingnya. Air kali masih tenang seperti tidak menolak ditinggalkan.
Masih
ada sepasang sejoli yang menikmati terbenamnya matahari. Dan juga aku yang
sendiri menulis di lembar-lembar kertas kecil yang kusut. Pesawat lewat lagi.
Kali ini terbang melenceng ke arah Tenggara. Kali ini dua sejoli berdiri.
Memutuskan untuk pergi. Aku sendiri. Menemani aliran Kali Garang yang tenang.
Tetap tenang meski ditinggalkan. Aku iri diam-diam. Kali Garang tetap mengalir
dengan tenang. Meski riuh, meski sepi, meski sunyi, bukannya gelisah
mencari-cari masalah. Aliran Kali Garang yang kupandang dari tembok beton
banjir kanal ini seolah menertawakan ketakutanku pada kesepian, seakan mengejek
dalam diamnya.
“Pengecut, jadilah seperti aku, tetap tenang,
tetap mengalir. Meski riuh, meski sunyi.”
Lonceng
Gereja berbunyi enam kali, jeda, enam kali lagi, jeda lagi, enam kali lagi.
Hari semakin menggelap. Kali ini aku yang harus pergi. Kutatap alirannya yang
masih tenang. Berpamitan. Dia melengos tak peduli. “Dengan atau tanpa kamu aku
masih akan mengalir”, katanya acuh. Aku tersindir.
Aku
berdiri. Dia tidak melihatku lagi. Sampai aku turun ke balik tembok dan pergi,
aku tak mendengar suaranya memanggilku untuk kembali.
18.02
Semarang, 23 Februari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar