Sabtu, 15 Desember 2012

Saya dan Gunung-Gunung

Dulu sekali, setiap kali melihat gunung, setiap kali itu juga saya mendengar dia menantang untuk ditaklukkan. Semakin tinggi semakin hebat, semakin susah semakin heroik. Menantang diri sendiri jadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Berdiri di puncak serasa berhasil menaklukkan dunia.

Seiring bertambahnya usia, obsesi terhadap ketinggian itu semakin memudar. Cerita-cerita petualangan menjadi seperti dongeng pahlawan kesiangan. Berhadapan dengan dunia di luar sekolah dan kampus membuat saya sadar, masyarakat itu jauh lebih menakutkan daripada hutan belantara.

Di hutan kita bisa bebas jadi yang kita mau. Di masyarakat ada ribuan mata yang mengekang untuk menjadi yang kita mau.
Di hutan tak perlu ada kepura-puraan. Di masyarakat, selamanya kita hidup dalam basa-basi busuk yang katanya norma susila.
Di hutan ada binatang buas. Di masyarakat malah ada kanibal. Siap memangsa saudara sendiri demi kepentingan pribadi.

Rasa takut yang tak ada habisnya itu membuat saya terkadang merindukan gunung-gunung sunyi itu. Meskipun sekarang gunung tak sesunyi dahulu. Terkadang saya heran, untuk apa mereka memindahkan Mall ke gunung (baca: Pendakian Massal) ??? Ujung-ujungnya gunung hanya jadi tempat sampah.

Saya rindu sekali pagi yang syahdu di sunyinya gunung-gunung Jawa. 
Saya rindu kepolosan, kehidupan yang apa adanya.

Maka, kesempatan ini tidak mungkin saya lewatkan lagi. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya janji masa lalu itu akan segera terpenuhi. Kali ini saya niatkan bukan lagi untuk berada di titik tertinggi. Tapi berada di titik peleburan. Melebur dengan alam, melebur dengan kesederhanaan. Beristirahat dari riuhnya dunia. Menikmati bumi Indonesia, meski bukan lagi di tanah Jawa.
Kawan, bawa saya kesana!

4 komentar:

  1. naaayyyy... ikuuuuttt....!!!1

    BalasHapus
  2. sejenak menghilang dari hingar bingar dunia fana..

    BalasHapus
  3. pengalaman hidup yang mengesankan ya.... thanks for being with me at that time, my friend :)

    BalasHapus