Jumat, 21 Oktober 2011

Untuk para pahlawan tanpa tanda jasa


Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh
Terkhusus untukmu para guru, sahabatku, para pahlawan tanpa tanda jasa
Hari ini saya menyadari, bahwa begitu buruknya mental yang terbangun di negeri ini sebenarnya bukanlah sepenuhnya salah para generasi muda.
Hari ini saya pelan-pelan mengurai benang kusut carut marut perjalanan mental mereka
Kehidupan mereka berawal dari keluarga, lalu berkembang di sekolah dan masyarakat
Sebagai seorang guru di rumah kita sendiri, sudahkah kita menanamkan kepada anak-anak kita satu pondasi bernama kejujuran? Sudahkah kita contohkan indahnya berkata sesuai kenyataan? Mampukah kita menjadi teladan yang nyata bagi mereka?
Pernahkah kita mengajarkan konsep bertanggung jawab? Dengan tidak menyalahkan batu atau lantai ketika mereka baru belajar berjalan dan terjatuh? Pernahkah kita mengajarkan untuk berani mengatakan “anakku, bukan batu yang salah, tapi kamu yang kurang berhati-hati”?
Pernahkah? mengajari mereka untuk tidak mencari kambing hitam untuk sesuatu yang memang harus kita pertanggungjawabkan?



Generasi muda kita menghabiskan masa pertumbuhannya di sekolah. Dan kita para guru dipercaya untuk mengiringi pertumbuhannya.
Sebelum kita memicingkan mata dan kesal pada kebadungan mereka, pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri, “apa yang sudah saya contohkan pada mereka?”
Untuk menjadi manusia yang jujur, sudahkah kita mengajari mereka untuk tidak pergi diam-diam ketika kepala sekolah sedang dinas luar?
Untuk menciptakan manusia-manusia yang disiplin, sudahkah kita memberi contoh mereka berangkat pagi dan pulang setelah bel sekolah berdentang?
Untuk menciptakan manusia yang berempati, sudahkah mengajari mereka menjadi pendengar yang baik dengan selalu memperhatikan setiap celoteh mereka yang penuh rasa ingin tahu?
Untuk membangun pribadi yang peka, sudahkah kita mengajar mereka dengan hati yang ikhlas?
Sahabatku, para guru tanpa tanda jasa,
Begitu berat beban tanggung jawab dipikulkan di pundak kita untuk membentuk pribadi bangsa, wajar jika kita merasa lelah, wajar jika kita merasa telah berkorban banyak namun hasilnya masih belum terlihat juga
Sahabatku, menjadi guru adalah hal termulia sekaligus terawan bagi manusia
Ketika kita keliru memaknai profesi ini, maka kita bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa, melainkan oknum-oknum perusak moral bangsa.
Saudaraku, para guru yang mulia,
Belum waktunya untuk lelah dan menyerah, ketika begitu banyak yang harus kita benahi dari diri mereka, ketika tanggung jawab ini semakin berat dan semakin tidak terlihat hasilnya
Ingatlah sahabat, kita masih punya mimpi.
Mimpi untuk memperbaiki negeri ini.
Mimpi untuk melahirkan generasi-generasi baru yang religius dan santun, jujur dan bertanggung jawab, pekerja keras dan berjiwa sosial
Begitu indah mimpi-mimpi kita, dan tidak akan luntur hanya karena peluh dan lelah yang akan hilang semalam
Sahabatku para guru, para pahlawan tanpa tanda jasa
Tersenyumlah dan hadapi muridmu sekarang.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
18:42
21 Oktober 2011   

1 komentar: